
Setelah beberapa saat tubuh tuan Fernandez mengejang sebelum akhirnya diam tak bergerak lagi. Keserakahan, kesombongan dan kebencian yang selama ini menguasai dirinya hilang bersama hembusan nafasnya yang terakhir.
Sendiri dalam sebuah kesunyian, tanpa ada yang menemani termasuk harta dan kekuasaan yang selama ini ia banggakan. Semua telah pergi meninggalkan tubuh tuanya yang mulai rapuh.
Hanya sebuah ruangan kosong dan kotor yang menjadi saksi, keputusasaan yang membuat dirinya memilih untuk mengakhiri hidupnya. Di ruangan ini, banyak nyawa tak bersalah ia ambil dengan paksa demi untuk melindungi nama baik dan harta bendanya.
Kini di ruangan ini pula, ia memaksa nyawanya melayang untuk menghindari hukum, baik itu hukum negara ataupun hukum masyarakat.
Setelah lama, Polisi mencari keberadaan pemilik rumah mewah itu, namun tetap saja tidak menemukannya.
Para pengawal, dan juga para pelayan hanya diam membisu tak tau apa yang terjadi. Mengapa tuan mereka menjadi target polisi.
"Lapor komandan di lantai atas ada sebuah kamar yang masih terkunci, ijinkan kami untuk membukanya dengan cara paksa." ucap salah satu Polisi itu.
"Baik, lakukanlah dan tetap hati-hati jangan menimbulkan perkelahian jika tidak perlu, utamakan keselamatan." jawab Pemimpin Polisi tersebut.
Setelah mendapatkan ijin kedua Polisi itu langsung membuka paksa sebuah kamar yang terkunci itu.
Setelah beberapa kali mendobrak, akhirnya pintu itu terbuka lebar. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat ada seorang gadis yang terlelap deng sebuah selimut menutupi tubuhnya.
Setelah dilakukan pengecekan, akhirnya Polisi tersebut segera menghubungi ambulan untuk melakukan pertolongan kepada wanita tersebut.
Mereka juga menyita kamera yang ada didalam kamar tersebut, dan juga beberapa obat perangsang sebagai barang bukti.
Setelah tubuh Serli dibawa masuk ke dalam mobil ambulan tersebut, mereka mulai menyusuri setiap ruang yang ada didalam bangunan mewah tersebut.
"Selain bangunan utama ini apakah masih ada sebuah ruangan atau bangunan yang lainnya ?" tanya pemimpin itu kepada para pelayan dan juga pengawal.
"Ada sebuah rumah yang sudah lama tidak dipakai lagi. Tepatnya beradaptasi dibelakang rumah ini." jawab salah satu penjaga itu.
Dengan gerakan cepat para polisi itu segera menuju rumah yang dimaksud. Setelah sampai mereka segera membuka paksa pintu tersebut, kemudian menyisir setiap ruangan.
__ADS_1
Akhirnya orang yang mereka cari dapat mereka temukan, tetapi dalam keadaan sudah tidak bernyawa dan dalam keadaan m menggantung.
Setelah melakukan beberapa tindakan yang diperlukan, akhirnya jasad tuan Fernandez mereka turunkan dan segera dibawa ke rumah sakit untuk keperluan selanjutnya.
"Pak tolong jelaskan kepada kami apa sebenarnya yang terjadi ?" tanya salah satu pelayan itu.
"Begini, tuan Fernandez telah terbukti melakukan banyak kejahatan dan juga telah melakukan korupsi. Saat ini beliau telah ditetapkan sebagai tersangka dan semua harta milik beliau akan disita oleh pihak yang berwenang."
"Jadi untuk kalian semua, segera berkemas dan tinggalkan tempat ini secepatnya." jawab pemimpin Polisi tersebut dengan jelas.
Setelah mendengar jawaban itu, mereka semua segera bubar dan berkemas kemudian kembali ke rumah mereka masing-masing.
Kini mereka semua menjadi seorang pengangguran yang tidak memiliki pesangon ataupun gaji. Dengan langkah yang lesu mereka meninggalkan kediaman Fernandez yang selama ini menjadi ladang rejeki mereka.
"Non non Chika ! dimana non Chika berada ?" teriak seorang pelayan sambil mencari-cari keberadaan Chika.
Ia berlari ke sana dan kemari, namun ia tetap tidak menemukan keberadaan Chika, gadis yang sangat ia sayangi layaknya anak kandung sendiri.
Karena ia yang telah menemani dan merawat Chika sejak bayi. Namun ia tidak dapat menemukan gadis cantik itu.
"Baik, akan kami cari." jawab pemimpin itu.
Setelah memeriksa rekaman cctv, akhirnya mereka mengatakan bahwa Chika telah pergi meninggalkan rumah tersebut, setelah berpamitan kepada sang ayah.
Artinya tuan Fernandez telah meminta Chika untuk segera menyelamatkan diri sebelum semuanya terlambat.
Akhirnya pelayan tersebut bernafas dengan lega, meskipun ia sangat mengkhawatirkannya namun Chika dalam keadaan baik-baik saja, dan sudah membawa bekal untuk melanjutkan hidupnya.
Setelah mengetahui keadaan Chika, pelayan tersebut meningkatkan rumah mewah tersebut dengan cepat.
Ia ingin mengejar Chika sebelum pergi jauh, setelah mencatat nomor mobil yang membawa Chika pergi. Pelayan itu segera menghubunginya kembali agar ia bisa bertemu dengan Chika.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya ia menemukan rumah yang di tuju oleh Chika.
"Permisi." ucap pelayan tersebut.
"Maaf, anda siapa dan ada perlu apa ?" tanya Ibu Iyem dengan heran.
Bagaimana tidak, ia melihat wanita yang datang tersebut masih mengenakan pakaian pelayan dengan membawa sebuah koper besar.
"Maaf jika saya mengganggu, apakah belum lama ini ada seorang gadis yang datang untuk menemui anda ?" tanya pelayan tersebut dengan sopan.
"Tidak, sejak tadi tidak ada seorangpun yang datang ke rumah ini. Kalau boleh tau siapa gadis itu ?" tanya ibu Iyem dengan sopan.
"Dia adalah aku ! Putri tunggal tuan Fernandez." jawab Chika yang sudah muncul di belakang tubuh pelayan tersebut.
Seketika keduanya menoleh kearah sumber suara. Terlihat seorang gadis yang cantik berdiri dengan membawa Dua koper besar ditangannya.
Dengan mata yang terlihat sebab, gadis itu menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap wajah sang pemilik rumah.
"Non Chika, bagaimana keadaan non Chika sekarang ? semoga non Chika baik-baik saja." tanya sang pelayan itu kemudian langsung memeluk tubuh Chika.
"Aku baik-baik saja, untuk apa kau menyusul ku kemari ? aku tidak bisa lagi membayar gaji mu untuk merawat aku lagi." jawab Chika dengan mencoba untuk tidak menangis.
"Non saya khawatir dengan kondisi non Chika, sekarang mari ikut saya pulang ke kampung halaman agar non Chika bisa melanjutkan kehidupan ini untuk meraih masa depan yang lebih baik." ucap pelayan tersebut.
"Terimakasih." ucap Chika untuk pertama kalinya ia mengucapkan kalimat sederhana itu.
Kemudian keduanya saling berpelukan dalam tangisan. Setelah puas mereka saling pandang kemudian pelayan itu menghapus air mata Chika menggunakan tangannya.
"Jangan sedih non, masih ada saya. Kita akan memulai semuanya dari awal. " ucap pelayan itu mencoba menguatkan Chika.
"Sebenarnya apa yang terjadi ? Dan mengapa kalian ke sini ?" tanya ibu Iyem yang masih penasaran dengan adegan yang ada di depannya.
__ADS_1
Bagaimana ia tidak bingung, dimalam hari yang sesunyi ini ada yang datang kerumahnya dengan membawa koper besar dan saling menangis dan saling menguatkan satu sama lainya.
Pelayanan itu menatap ke arah Chika, karena sejujurnya ia juga tidak paham mengapa Chika menuju rumah wanita itu.