
Saat semuanya diam dan hanya mendengarkan apa yang diperbincangkan tentang Airin, Airin hanya tersenyum mendengar semua argumentasi tentang dirinya.
"Airin mengapa tersenyum ? apakah apa yang kami ucapkan merupakan lelucon bagi mu ?" tanya Chika sambil memperhatikan ekspresi Airin.
"Jika kau anggap ini sebuah lelucon maka akan aku buktikan semua ucapan ku, bahwa aku akan meminta ayahku untuk mencabut beasiswa atas namamu agar kau bisa menjadikan ini sebuah pelajaran yang akan kau kenang seumur hidup mu." ucap Chika lagi.
"Maaf Bu, bolehkah saya duduk ?" tanya Airin kepada sang guru yang sedang mendengarkan setiap ucapan dari Chika dan juga kawan-kawannya.
"Kau boleh saja duduk asal kau bisa mengerjakan soal-soal yang ada di papan tulis ini !" jawab sang Guru.
"Pak Dodit maaf, bagaimana Airin bisa mengerjakannya jika ia belum mendengarkan penjelasan dari bapak, sedangkan kami saja belum seberapa paham dengan materi yang bapak jelaskan tadi." ucap Serli mencoba menolong Airin.
"itu terserah Airin, apakah dia ingin duduk atau tetap berdiri di depan pintu." jawab pak Dodit tanpa ada rasa iba sedikitpun.
Airin hanya tersenyum, kemudian ia melangkah dan mengambil spidol lalu ia dengan santainya mengerjakan semua soal yang ada di papan tulis tersebut.
Semua orang yang ada di dalam kelas tersebut seakan-akan tak percaya bahwa Airin, yang sehari-hari bekerja bekerja sebagai tukang sapu, hanya dengan hitungan menit ia bisa menyelesaikan semua soal yang diberikan oleh pak Dodit.
"Bagaimana mungkin ia bisa dengan mudah mengerjakan semua soal-soal itu ?" batin pak Didit.
"Sudah pak, saya sudah selesai mengerjakan semua soal itu, apakah saya boleh duduk sekarang ?" tanya Airin dengan sopan.
"Supaya saya yakin bahwa kamu memang bisa mengerjakan semua soal itu, coba kau jelaskan bagaimana caranya mendapatkan semua angka-angka itu." ucap pak Dodit.
"Baik pak." jawab Airin dengan tersenyum.
Kemudian Airin menjelaskannya satu persatu dengan sangat singkat dan jelas, hal itu membuat semua yang berada dalam kelas tersebut mengganga sekan tak percaya.
Bagaimana mungkin penjelasan dari Airin lebih mudah dimengerti dan dipahami oleh semua siswa-siswi yang ada di dalam kelas tersebut dari pada penjelas yang Guru Bidang studinya.
Serli tersenyum lebar, ia sangat kagum dengan Airin atas kepandaian dan kecerdasannya. Ia sangat layak berada di Sekolah elit ini.
Jika ia memang mendapatkan beasiswa seperti dirinya, maka sang Donatur tidak salah dalam menilainya.
__ADS_1
"Anak ini memang sungguh luar biasa, bahkan ia lebih menguasai materi itu dibandingkan aku. Sungguh sangat mengagumkan." batin pak Dodit.
"Bagus, kau boleh duduk sekarang." ucap Pak Dodit mencoba menutupi kekagumannya.
"Kalau hanya soal seperti itu saya juga bisa mengerjakannya pak. Airin hanya kebetulan saja bisa mengerjakan soal itu." celetuk Chika.
"Benarkah ! Chika juga sudah menguasai materi ini ? jika demikian saya sangat berbangga sekali sebagai guru karena murid-murid saya dapat dengan mudah memahami materi yang saya berikan." ucap pak Dodit dengan bangga.
"Alangkah lebih baik jika kita mencobanya pak, mungkin dengan penjelasan dari Chika kami yang belum paham ini akan segera paham dengan materi ini." ucap Serli sambil tersenyum.
"Benar sekali ! Chika silakan maju dan kerjakan soal di halaman 47. nomor 3, dan untuk yang lainnya bisa mengerjakan soal-soal berikutnya."
"Jika kalian sudah paham maka saya beri bonus waktu istirahat tambahan." ucap pak Dodit.
"Hore !!" sorak Sorai dari siswa-siswi dalam kelas tersebut.
"Mampus deh gue, jangankan untuk mengerjakan dan menjelaskannya. Untuk memulainya saja gue belum bisa." batin Chika.
"Baik pak." jawab Chika kemudian ia segera berjalan menuju ke papan tulis.
Chika berfikir bagaimana caranya agar ia bisa terbebas dari tugasnya itu tanpa banyak yang tau bahwa ia sebenarnya sama sekali tidak paham dengan materi tersebut.
"Aduh, maaf pak perut saya sakit. Saya mohon ijin untuk pergi ke toilet untuk buang hajat." ucap Chika sambil memegangi perutnya.
"Alah itu hanya alasan saja, sebenarnya kau tidak bisa bukan ?" tanya salah seorang siswa yang memang mengetahui kelemahan Chika
"Jangan asal bicara kau ya, aku benar-benar sakit perut." jawab Chika mencoba membela diri.
"Benarkah bukankah setiap kau disuruh mengerjakan soal-soal di depan kau selalu saja sakit perut." ucap yang lainnya lagi.
"Kau ini bisanya hanya mengejek saja. Coba kau kerjakan soal ini, sementara saya pergi ke toilet sebentar." jawab Chika sambil terus memegangi perutnya.
"Huu !" serentak semua siswa -siswi yang berada di dalam kelas tersebut.
__ADS_1
"Chika awas dikakimu ada ulat bulu." ucap salah seorang teman Serli.
"AW !" teriak Chika sambil sambil berjingkrak-jingkrak karena ketakutan. Ia segera berlari dan meminta bantuan Misel agar segera mengusir ulat bulu yang diucapkan oleh siswa tersebut.
"Hahahaha." mereka tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Chika.
"Sudah cukup !" bentak pak Dodit.
"Sudah Chika, jika kau memang tidak bisa akui saja. Saya tidak akan menghukum mu dan untuk yang lainnya, apakah ada yang bisa mengerjakan soal itu ?" tanya Pak Dodit.
Serentak semua langsung diam, tak ada yang menjawabnya. Kemudian Airin melangkah maju dan segera mengerjakan soal yang ditulis oleh Chika.
Hanya dalam hitungan detik Airin bisa menyelesaikan soal itu. Lagi-lagi semua siswa kagum dengan kecerdasan Airin.
Prok Prok ...
Tepuk tangan dari penghuni kelas tersebut, menghancurkan kesunyian yang baru saja tercipta. Chika yang merasa kalah hanya bisa diam seribu bahasa.
"Bagaimana mungkin si tukang sapu itu menyelesaikan soal itu dengan mudah dan dalam waktu yang sangat singkat."
"Jika dibiarkan terus menerus maka semua penghuni Sekolah ini akan mengaguminya, termasuk Arian ketua OSIS yang tampan itu."
"Aku harus bisa menyingkirkan tukang sapu itu dari Sekolah ini sebelum semuanya terlambat. Apapun caranya ." batin Chika.
Sementara Airin hanya tersenyum, kemudian kembali menjelaskan tahap demi tahap agar teman-temannya memahami materi tersebut.
Setelah itu Airin menuliskan sebuah soal untuk menguji coba kemampuan mereka dengan hadiah makan siang gratis di kantin.
Setelah Airin mengatakan hal itu banyak sekali dari teman-temannya yang tunjuk tangan untuk bisa menjawab soal tersebut.
Antusias dari para murid-muridnya membuat pak Dodit tersenyum lebar. Ia bangga dengan Airin meskipun ia dihina oleh teman-temannya namun ia sama sekali tidak membenci mereka.
Malah Airin dengan suka rela membantu mereka untuk memahami materi pelajaran yang mereka anggap sulit menjadi lebih mudah. Sehingga pelajaran Matematika yang biasanya menjadi menakutkan berubah menjadi sangat menyenangkan.
__ADS_1