29 Hari

29 Hari
Bab. 58. Ungkapan Arian


__ADS_3

Kebencian terkadang bisa menjadi sebuah awal dari sebuah petaka, baik bagi yang dibenci atau pun sang pembenci itu sendiri. Karena benci adalah awal dari sebuah kejahatan yang tertanam di dalam lubuk hati yang terdalam.


"Aku membencimu Airin ! aku sangat sangat membencimu. Demi apapun itu aku bersumpah aku akan merebut Arian dari sisimu. Dengan cara apapun aku tidak perduli, yang pasti aku akan memisahkan kalian berdua bagaimana pun caranya."


"Dan untuk mu Arian, aku akan membuatmu bertekuk lutut dihadapan ku serta memohon cinta dari ku yang selama ini kau abaikan. Aku bersumpah ! aku akan mewujudkan semua sumpahku ini meskipun aku harus kehilangan nyawaku sekalipun." ucap Chika dengan penuh kemarahan dan kebencian.


Setelah itu ia menangis pilu, menenggelamkan kesedihan dan kebenciannya dengan air mata. Ia menunduk dan terisak-isak, sambil merobek-robek buku pelajarannya.


Seluruh buku yang ia sobek mengotori seluruh ruang kelas tersebut. Kemudian Chika berteriak sekuat tenaga untuk melepaskan rasa Amara di dalam dada.


Setelah puas, ia terdiam sejenak dan mulai menghapus air matanya dengan menggunakan tisu. Meskipun demikian air matanya tak dapat ia bendung, tetap saja menetes dan membasahi pipinya mulusnya.


Saat Misel telah kembali, ia melihat Chika sedang menghapus air matanya. Dengan rasa khawatir, Misel mendekati Chika.


"Chika ! apa yang terjadi ? mengapa kau menangis ?" tanya Misel sambil membantu menghapus air mata sahabatnya itu.


Chika hanya menangis sambil menatap Misel yang terlihat begitu menghawatirkan nya. Dengan lembut Misel meraih tubuh Chika kemudian ia memeluk dan menepuk-nepuk pundak Chika layaknya sedang menenangkan seorang anak kecil.


"Chika katakan yang sebenarnya, apa sebenarnya yang terjadi ? sejak aku mengenalmu baru hari ini aku melihat kau begitu rapuh dan juga sangat menyedihkan."


"Katakanlah dengan jujur, siapa tau aku bisa membantu meskipun hal itu sangat kecil kemungkinannya. Tapi sebagai seorang teman aku akan selalu mendukungmu." ucap Misel dengan lembut.


"Misel antarkan aku pulang, aku tidak ingin berada di seni lebih lama lagi, ku mohon !" ucap Chika dengan suara yang sangat menyedihkan.


"Baiklah kita akan pulang, tetapi kau harus menceritakan semuanya selama dalam perjalanan, aku akan membalaskan dendam mu itu." ucap Misel dengan tulus.


Chika mengangguk menyetujui permintaan Misel. Setelah itu Misel segera mengantarkan Chika untuk pulang. Di perjalanan Chika menceritakan kejadian yang baru saja ia alami.

__ADS_1


Mencintai Arian yang hanya bertepuk sebelah tangan membuat Chika harus menelan kenyataan pahit, pria yang ia cintai lebih memilih wanita yang sangat ia benci selama ini.


"Misel sebenarnya apa kelebihan si tukang sapu jalanan itu ? mengapa Arian lebih memilih dia dari pada aku ?." tanya Chika kemudian.


"Entahlah aku juga bingung akan hal itu. Airin terlihat begitu spesial di mata banyak orang, padahal dari awal kita sudah menunjukkan bahwa ia hanya seorang penyapu jalanan." jawab Misel.


Kemudian suasana menjadi hening, pikiran mereka melayang menjelajahi setiap peristiwa yang pernah mereka alami.


"Chika apakah kita akan ke rumah sakit dahulu atau langsung ke rumah saja ?" tanya Misel.


"Kita pulang saja, biarkan ayah di antar oleh yang lainnya. Kita datang ke sana juga tidak bisa melakukan banyak hal."


"Dan kau harus kembali ke sekolah setelah mengantar aku pulang. Karena hanya aku yang ijin pulang lebih awal." jawab Chika.


"Ok ! kalau begitu." jawab Misel.


Kesombongan dan keangkuhan seakan adalah hal yang biasa mereka lakukan. Bagi siapa saja yang berani melawan mereka pasti akan mendapatkan hukuman dari keluarga Fernandez. Hal itu yang membuat orang enggan untuk berurusan dengan keluarga itu.


Setelah sampai Chika segera turun sedangkan sang sopir kembali mengantarkan Misel kembali ke sekolah.


Sementara di sekolah sudah memulai mata pelajaran berikutnya sebelum Misel sampai. Airin menatap bangku kosong yang ada di dekatnya. Keningnya berkerut.


"Apa yang membuat Chika meninggalkan kelas sebelum waktunya ?" tanya Airin dalam hati.


Kemudian i memeriksa rekaman cctv dari ponselnya. Ia tercengang saat mendengarkan apa yang dikatakan oleh Chika.


Tanpa mereka sadari ternyata Chika begitu menyukai Arian, sehingga ia merasa tersakiti karena melihat keakraban Airin dan Arian. Keakraban itu ternyata telah menggoreskan luka di hati Chika begitu dalam.

__ADS_1


Setelah mengetahui kebenarannya, Airin mengcopy video tersebut kemudian ia berniat mengirimkannya kepada Arian.


"Arian ternyata selama ini Chika begitu mencintai mu, sehingga tanpa kita tau kita telah membuat sebuah luka di hati Chika yang terdalam."


"Ini adalah sebuah bukti dari ucapan ku. Aku berharap kau bisa mengambil langkah dengan lebih bijak. Terkadang dari hati yang terluka itu ada sebuah kebencian yang akan berakibat fatal."


"Kadang juga ada cinta yang tulus dari sebuah hati yang terluka itu. Silakan perhatikan video ini dengan baik, agar kau bisa mengambil sebuah keputusan yang paling tepat." ucap Airin dalam pesan teks yang ia kirim untuk Arian.


Tak lupa ia juga melampirkan video yang terjadi kepada Chika hari ini sehingga ia pulang lebih awal.


Setelah itu ia kembali memeriksa cctv di tempat yang lain untuk memastikan tidak ada sesuatu yang berbahaya.


Setelah pelajaran usai, Airin berjalan menuju ruang kepala sekolah, namun ia malah berpapasan dengan Airin sehingga ia terpaksa mengikuti Arian.


"Airin dari mana kamu mendapatkan video itu ? bukankah itu berada di dalam ruang kelas kalian ?" tanya Arian.


"Iya itu sebuah kejadian yang terjadi di dalam kelas kami. Aku mendapatkan itu dari bapak kepala sekolah. Karena beliau tidak ingin aku terlibat dalam masalah kalian berdua."


"Terlebih lagi karena tempramen Chika yang seperti itu, jadi alangkah lebih baik jika aku mengirimkan itu untuk mu juga. Aku ingin kau bisa mengambil langkah yang terbaik." jawan Airin dengan tulus.


"Aku mengerti maksud mu, tetapi Airin aku tegaskan bahwa cinta itu tidak bisa dipaksakan dan juga tidak bisa di hentikan. Ia datang kepada setiap hati yang dikehendaki."


"Jika Chika mencintai aku itu adalah hak dia, tidak ada larangan dalam hal itu selama ia tidak berbuat negatif dan merugikan orang lain ataupun dirinya sendiri."


"Begitu juga halnya dengan cinta yang aku miliki. Cinta ini hadir bukan untuk Chika melainkan untuk gadis lain. Aku tidak bisa memaksakan rasa cinta ini untuk Chika."


"Airin, jangan kau takut akan sumpah serapah yang di ucapkan oleh Chika seperti dalam video tersebut. Aku akan melindungi mu dengan segenap kemampuan yang aku miliki." jawab Arian dengan tulus sambil menatap Airin.

__ADS_1


__ADS_2