29 Hari

29 Hari
Bab. 73. Pengusiran


__ADS_3

Disaat Arian dan juga Airin menikmati indahnya cinta, di susul oleh Deo dan juga Serli. Chika lebih memilih untuk mengurung dirinya di dalam kamar.


Ia menangis tanpa air mata. Hatinya begitu sakit saat mengetahui bahwa Airin adalah pemilik SMA Golden A&H yang menyamar sebagai salah satu pelajar, hanya untuk bisa menghentikan tindakan bullying yang sering ia lakukan.


Janji yang ia buat dihadapan teman-temannya dulu terlintas dalam pikirannya. Bagaimana bisa ia terprovokasi hanya karena melihat penampilan Airin yang begitu sederhana namun memiliki daya tarik yang luar biasa.


Aura yang begitu istimewa itu, membuat ia harus melangkah dengan cepat, sayangnya ia salah dalam memilih jalan.


Hari ini belum genap 29 hari, tapi ia sudah kalah telak oleh Airin, jangankan melakukan bullying malah saat ini ia adalah korban bullying karena kehancuran keluarga Fernandez.


Belum lagi, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa Misel sahabatnya telah mengandung anak dari ayahnya karena hubungan terlarang di antara mereka.


Chika tidak bisa mengeluarkan air mata meskipun ia sangat ingin sekali menangis, untuk bisa menumpahkan segala rasa yang ada didalam hatinya.


"Chika, buka pintunya nak, bibi ingin bicara sebentar." ucap Ibu Iyem sambil mengetuk pintu.


"Masuk, pintunya tidak dikunci." jawab Chika tanpa mau beranjak.


"Apa yang sebenarnya terjadi ? ceritakan kepada bibi, siapa tau bibi bisa membantu." ucap ibu Iyem dengan tulus, sambil ia duduk di samping Chika.


"Apakah kau yakin ?" tanya Chika tanpa melihat wanita disampingnya.


"Jika bibi bisa, pasti akan bibi lakukan." jawab Ibu Iyem.


"Aku kecewa karena ibuku pergi meninggalkan aku sejak bayi, ayahku yang telah membesarkan aku seorang diri. Dia melimpahi kasih sayang dan juga harta untuk ku, Hingga aku bisa berdiri tanpa harus menundukkan kepala kepada siapapun."


"Tetapi ayahku telah pergi dengan membawa semua itu, kini aku bukanlah siapa-siapa lagi. Dan parahnya lagi, aku harus tinggal bersama adik ibuku yang hanya bekerja sebagai tukang sapu jalan."

__ADS_1


"Apakah menurut mu, Airin tidak akan menertawai aku ? dulu ia yang selalu aku hina sebagai anak tukang sapu jalanan, bahkan aku telah membayar mahal seseorang untuk membakar rumah ini."


"Tetapi dengan mudahnya Airin merubah gubuk reyot mu menjadi rumah yang lumayan bagus untuk kalangan menengah kebawah."


"Yang lebih parahnya, sekarang aku yang tinggal menumpang disini sebagai keponakanmu." ucap Chika.


"Chika meskipun bibi baru mengenal nak Airin, dia itu sangat baik nak, entah bagaimana orang tuanya mendidik ia hingga seperti sekarang ini."


"Jadi ia tidak akan mungkin menertawai mu, bukankah ia lebih mengalah tanpa mengatakan apapun kepada mu, meskipun kamu telah melakukan banyak hal yang bisa merugikan dirinya." ucap Ibu Iyem.


"Cukup, aku tidak ingin mendengar kau memuji dan membanggakan dia didepan ku. Aku sangat membencinya."


"Ia mempunyai harta, tahta dan juga ia telah merebut Arian dari ku. Seandainya saja ia tidak muncul pasti saat ini Arian menjadi kekasih ku." ucap Chika.


Suasana menjadi hening sesaat, hanya suara nafas mereka yang terdengar karena menahan begitu banyak tekanan.


"Apa yang bisa bibi bantu ?" jawab ibu Iyem.


"Pergilah dari sini sejauh mungkin, dan jangan pernah kau muncul kembali terutama di hadapan Airin dan juga Arian."


"Aku tidak mau, orang-orang mengenalku sebagai anak tukang sapu jalanan. Cih, memalukan sekali." jawab Chika.


"Mengapa kau bisa berfikir begitu Chika ? bahkan ibumu juga adalah seorang tukang sapu jalanan yang kebetulan diangkat oleh ayahmu sebagai simpanannya." jawab Ibu Iyem dengan menahan amarahnya.


"Tetapi selama ini tidak ada yang mengetahui siapa ibu kandung ku yang sebenarnya. Untuk itu aku ingin selamanya aku dikenal sebagai putri tunggal tuan Fernandez ?" jawab Chika dengan penuh penekanan.


"Chika mengapa kau seperti ini ? tidak baik bagi seorang anak yang tidak mau mengakui ibu kandungnya sendiri, terlebih lagi kau adalah seorang perempuan." ucap Ibu Iyem dengan menahan perasaan kecewanya.

__ADS_1


"Terserah apa yang ingin kau katakan ! sekarang pilih saja aku atau kau yang akan tetap tinggal di rumah ini ?" tanya Chika dengan tegas.


"Jika kau ingin bibi pergi, maka bibi akan pergi. Tapi bagaimana kau bisa mengurus hidup mu ? bukankah selam ini kau selalu dilayani oleh seorang pelayan ?" tanya ibu Iyem yang masih mengkhawatirkan keponakannya itu.


"Anda jangan khawatir, ada aku disini yang akan melayani non Chika seperti biasanya. Dan kau tidak perlu khawatir tentang kami." ucap seorang pelayan yang tiba-tiba muncul di depan pintu.


"Kau sudah mendengarnya sendiri ? kalau begitu tunggu apa lagi, sekarang juga cepat tinggalkan tempat ini sebelum aku berbuat kasar kepada mu !." ucap Chika tanpa belas kasihan.


"Tapi ini sudah malam, aku pergi kemana ? beri aku waktu besok pagi baru aku akan pergi dari sini." ucap ibu Iyem.


"Untuk apa harus menunggu besok ? sekarang juga pergi dari sini !" ucap Pelayan itu dan langsung saja mengusir ibu Iyem tanpa belas kasih.


Kemudian ia segera mengunci pintu rumah tanpa memperdulikan teriakan dan permohonan dari ibu Iyem.


"Chika tolong buka pintunya, ini kan bibi sekedar untuk makan dan minum, atau biarkan bibi membawa bekal dan pakaian." ucap ibu Iyem sambil menggedor-gedor pintu.


Namun, tetap tidak ada jawaban dari dalam. Ibu Iyem tetap berusaha dan terus memohon agar mereka merasa sedikit iba. Namun tetap saja tidak ada jawaban sama sekali dari dalam rumahnya.


Setelah segala usaha yang ia lakukan tidak mendapat respon apapun dari dalam, akhirnya ibu Iyem melangkahkan kakinya tak tentu arah dan tujuan.


Di malam yang gelap dan dingin, kakinya tetap melangkah menyusuri jalan setapak yang bada didepannya. Ia hanya berjalan dannhendak mencari tempat untuk berteduh malam ini sebelum besok ia akan melanjutkan perjalanannya.


Namun sejauh ia melangkah tak satupun tempat yang bisa ia gunakan untuk beristirahat, hingga kakinya gemetar karena terlalu lelah, belum lagi ia belum amakn sama sekali sejak pagi, karena ingin menunggu Chika.


Saat ini, ia berjalan dengan sempoyongan karena terlalu lelah dan lapar, pandangan matanya mulai kabur bahkan ketiga ada sebuah mobil yang melintas ia sudah tidak dapat menghindar.


Mobil tersebut berhenti tepat di depannya, hingga membuat tubuh ibu Iyem langsung jatuh ke tanah. Ia masih berusaha untuk bangkit dan meminta maaf kepada si pengendara mobil itu, namun apalah daya ia benar-benar tidak bisa melakukannya.

__ADS_1


Tubuhnya kembali jatuh dan pandangannya menjadi gelap, hanya terdengar sebuah langkah yang buru-buru mendekati tubuhnya yang terbaring di atas jalan.


__ADS_2