29 Hari

29 Hari
Bab. 12. Rencana Perbaikan Rumah


__ADS_3

Setelah sampai di Rumah Pak RT, mereka disambut dengan sangat baik dan mereka dipersilakan untuk istirahat karena malam semakin larut.


Dan keesokan harinya Airin tidak masuk sekolah, ia membantu ibu Iyem untuk membersihkan sisa-sisa kebakaran itu dibantu oleh warga sekitar.


"Apa ini ? bukankah ini adalah bukti bahwa kebakaran ini adalah faktor kesengajaan." batin Airin sambil memperhatikan sebuah korek api dan juga satu buah derigen bensin.


Kemudian ia segera membungkus benda itu dan menyimpannya di dalam plastik. Setelah itu ia menghubungi anak buahnya agar datang menemuinya bersama Polisi.


Tak lama mereka datang dan Airin segera membuat laporan dan memberikan barang buktinya.


"Pak tolong selidiki siapa pelaku pembakaran rumah Ibu Iyem, dan cari tau apa motif dibaliknya. Dan ini salah satu barang bukti yang ditemukan di lokasi kejadian."


"Saya berharap agar segera mendapatkan jawaban dari masalah ini. Dan siapapun orang dibalik peristiwa ini saya harap bisa mendapatkan hukuman yang setimpal, meskipun ia seorang pejabat sekalipun." ucap Airin.


"Baik nona, kami akan mengerjakan tugas kami tanpa pandang bulu. Hukum tidak mengenal pangkat dan jabatan Nono, jadi anda jangan khawatir akan hal itu." jawab sang Polisi.


"Baiklah pak, terimakasih banyak atas bantuannya." jawab Airin sambil menjabat tangan Polisi tersebut.


"Saya minta hubungi pengacara saya, dan sampaikan ia harus bisa memenangkan masalah ini. Saya yakin ada orang hebat di balik peristiwa ini." ucap Airin.


"Apakah anda mencurigai seseorang nona ?" jawab Anak buah Airin.


"Iya, pasti orang tersebut menginginkan saya, dengan membakar rumah ini. Buat pelaku menerima hukuman yang layak karena telah melakukan kejahatan kepada orang yang miskin yang tidak bersalah." ucap Airin.


"Baik nona, akan saya laksanakan apa yang menjadi perintah anda.


Setelah itu, ia juga meminta agar anak buahnya segera membangun kembali rumah ibu Iyem dengan alasan bedah rumah hadiah dari Perusahaannya.


"Dan untuk acara bedah rumah ibu Iyem, segera laksanakan. Saya tidak ingin menunggu terlalu lama."


"Kasihan beliau, karena beliau tidak tau apa-apa. tetapi malah menjadi korban. Buat segera surat untuk perbaikan rumah ibu Iyem, berapapun harganya."


"Baik nona, saya kan saya akan meminta agar rumah ibu Iyem dibangun maksimal dalam waktu Dua hari dari sekarang. Saya akan membayar para pekerja yang benar-benar ahli." jawab anak buah Airin.

__ADS_1


Kemudian Airin menandatangani surat perintah elektronik, agar bisa segera diproses.


Setelah semuanya beres, ia kembali dan bergabung bersama dengan yang lainnya untuk membereskan bekas kebakaran itu.


"Ibu, mari kita istirahat sebentar." ucap Airin.


"Iya nak, ibu juga merasa sangat lelah. Nanti kita lanjutkan lagi." jawab Ibu Iyem dengan menyeka keringat diwajahnya.


"Nak siapa orang yang berbicara dengan mu tadi dan mengapa ada Polisi juga ?" tanya Ibu Iyem.


"Mereka dari team bedah rumah ibu, mereka berencana untuk membangun kembali rumah ibu."


"Dan Polisi yang datang tadi, karena mendapatkan laporan bahwa ada yang sengaja membakar rumah ini." jawab Airin.


"Siapa yang berniat jahat terhadap ibu ? apakah ibu mempunyai kesalahan ? jika begitu ibu akan memperbaiki semua kesalahan ibu." jawab Ibu Iyem dengan sedih.


"Ibu jangan bersedih, mereka pasti akan mendapatkan balasan dari apa yang mereka kerjakan."


"Dan ibu jangan bersedih, karena ini bukan kesalahan ibu, mungkin mereka membenci Airin Bu. Karena merasa benci itulah sehingga mereka bisa melakukan hal keji itu." jawab Airin.


Sementara di Sekolah, Chika terlihat sangat berbahagia saat tau bahwa hari ini Airin tidak masuk sekolah.


"Apakah kau mengetahui sesuatu mengapa tukang sapu itu tidak masuk sekolah ?" tanya Misel.


"Memangnya dia siapanya saya, sehingga kau bertanya tentang dia." jawab Chika dengan acuh.


"Kau terlihat begitu bahagia, aku pikir kau telah memberi dia sebuah pelajaran sehingga ia tidak bisa masuk ke sekolah." jawab Misel.


"Jika dia tidak masuk sekolah itu lebih baik, artinya aku tidak perlu melakukan apapun untuk dia meninggalkan sekolah ini. Itu yang membuat aku bahagia." jawab Chika dengan tersenyum puas.


"Kau benar!" ucap Misel.


"Sekarang lebih baik kita pergi ke kantin untuk menikmati hari yang indah ini. Dari pada harus mengikuti pelajaran yang dapat membuat kita kehilangan selera makan." ucap Chika.

__ADS_1


Kemudian keduanya pergi meninggalkan kelas dan menuju ke kantin sekolah. Saat keduanya berjalan dengan santainya. Mereka bertemu dengan Arian.


"Mengapa kalian berada di luar kelas ? apakah kalian ingin membolos ?" tanya Arian.


"Tidak siapa yang bolos, kami hanya ingin ke toilet." jawab Chika asal.


"Toilet ? bukankah toilet terletak di sebelah sana !" ucap Arian sambil menunjuk ke arah toilet.


"Oh iya ternyata kami tersesat. Terimakasih telah mengingatkan." ucap Chika kemudian ia segera menarik tangan Misel, dan segera meninggalkan Arian.


Arian hanya menggelengkan kepalanya, kemudian Arian menuju ke Perpustakaan untuk mengambil beberapa buku.


"Mengapa kita harus ke toilet ? bukankah kau bilang tadi kita akan ke kantin ?" tanya Misel sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kau ini, tidak mungkin aku akan mengatakan yang sebenarnya kepada Arian. Bisa jatuh harga diriku ini." jawab Chika.


"Oh aku tau, kau sengaja berpura-pura dihadapan Arian agar nama baik mu tetap terjaga di hadapan Arian. Karena sebenarnya kau mencintai Arian." ucap Misel.


"Kalau sudah tau sebaiknya kau diam dan dukung setiap rencana ku untuk bisa mendapatkan Arian." jawab Chika.


Kemudian mereka berputar arah dan kembali menuju kantin untuk menghindari pelajaran Matematika.


Mereka tidak mau malu lagi di hadapan pak Dodit, karena mereka tidak bisa mengerjakan soal yang diberikan oleh Pak Dodit.


Setelah sampai di kantin mereka segera memesan makanan dan juga minuman, setelah itu mereka duduk di bangku yang terletak di bagian pojok ruangan.


Keduanya menikmati makanan dan juga minuman mereka sambil melihat film dari ponsel mereka.


Begitulah kegiatan yang dilakukan oleh Chika dan Misel. Bahkan kadang mereka menikmati obat terlarang di saat mereka sedang bolos Sekolah.


Mereka selalu mendapatkan apapun yang mereka inginkan dari orang tua mereka, hanya satu yang tak pernah mereka dapatkan yaitu perhatian dan kasih sayang dari orang tua mereka.


Hal itu membuat mereka tumbuh tanpa bimbingan dari orang tua, mereka hanya dicukupi kebutuhan materi dan pengasuhan hanya diberikan oleh seorang asisten rumah tangga, yang selalu kalah saat mereka membatah apa yang di nasehat kan untuk kebaikan mereka.

__ADS_1


Dan anak yang tumbuh dalam kehidupan yang seperti itu, sangat mudah menjadi sasaran orang-orang yang mengedarkan obat-obatan terlarang.


__ADS_2