
Serli melihat Chika dan tersenyum sambil melipat kedua tangannya di depan dada sebagai permohonan maaf dan rasa terima kasihnya.
Airin membalas senyuman Serli dan kembali fokus untuk bersiap-siap dengan amarah Chika.
Melihat Airin sudah tidak berada di hadapannya, Chika sangat marah besar saat melihat Airin yang sudah duduk di bangkunya.
"Dasar kau tukang sapu, berani sekali kau mengabaikan perintahku." ucap Chika dengan sangat lantang.
Setelah itu Chika mengangkat bangku yang ada di hadapannya ia hendak melemparkan bangku tersebut ke arah Airin.
Dengan penuh amarah, Chika melemparkan bangku tersebut ke arah Airin.
"Semuanya pergi dari sini ! segeralah menghindari bangku tersebut !" teriak Airin agar tidak ada teman yang jadi korban.
Untung saja mereka semua mendengarkan Airin sehingga semuanya aman, bangku yang dilemparkan oleh Chika jatuh ke lantai dan patah.
Melihat Airin yang tidak apa-apa Chika semakin marah. Ia kembali melemparkan tas yang ada di hadapannya.
Dengan sigap Airin kembali menghindarinya. Tas tersebut terbentur ke dinding. Dan semua isi di dalamnya jatuh berserakan. Ponsel yang ada didalam tas tersebut tak luput dari kehancuran karena dilemparkan dengan sangat kuat.
"Chika, HP ku ... ." ucap Misel dengan sangat khawatir.
Chika terdiam saat menyadari bahwa tas yang baru saja ia lemparkan adalah milik Misel sahabatnya.
"Hp ku, makanan ku dan semuanya, oh tuhan mimpi apa aku semalam ? mengapa nasibku menjadi seperti ini. Apa yang harus aku katakan kepada orang tuaku." ucap Misel sambil meraih barang-barang yang berserakan dihadapannya.
"Hai tukang sapu ! semua ini gara-gara kamu, lihatlah semua barang berharga milik ku jadi rusak."
"Aku tidak mau tau, besok kau harus mengganti HP ku !" teriak Misel setelah membereskan barang-barangnya.
Semua mata memandang ke arah Airin seakan menunggu jawaban dari Airin. Terutama Chika ia berharap bahwa Airin akan menangis dan meminta maaf kepada mereka.
__ADS_1
Namun Airin sama sekali tidak merespon apa yang dikatakan oleh Misel. Ia dengan santai merapikan rambutnya yang berantakan karena menghindari lemparan demi lemparan dari Chika.
Hal itu semakin membuat Misel dan juga Chika semakin naik pitam. Keduanya berjalan dan mendekati Airin.
Kedua tangan mereka hendak menampar wajah Airin, namun beruntung ada tangan kokoh yang melindungi Airin.
"Hentikan perbuatan kalian yang tidak mencerminkan sikap seorang pelajar." ucap Arian dengan nada yang dingin.
Semua mata memandang ke arah sumber suara, Arian dengan tegas menghempaskan tangan Chika dan juga Misel yang hendak menampar wajah Airin.
"Arian aku, aku ... ." ucap Chika terhenti saat Arian menatapnya dengan tajam.
Sementara Misel ia sama sekali tidak berani berkata apa-apa selain menundukkan wajahnya. Ia tidak berani jika harus melawan Arian.
"Airin, kau dipanggil oleh Kepala Sekolah sekarang." ucap Arian.
"Baik, terimakasih karena telah menyelamatkan aku untuk yang kedua kalinya." ucap Airin dengan tersenyum tulus.
Kemudian Airin sedikit membungkukkan badannya dihadapan Arian, setelah itu ia berlalu meninggalkan suasana kelas yang menjadi hening.
Sedangkan Chika dan juga Misel tidak berani, bertindak apa-apa, jangankan untuk berbicara untuk bernafas saja mereka seakan tak berani, dengan keadaan mereka yang tertangkap basah melakukan kesalahan lagi di hadapan Arian.
"Chika dan kau juga Misel kelakuan kalian sangat memalukan. Ingat saat ini Kepala Sekolah telah tiba dari perjalanan Dinasnya. Jika kau masih ingin menjadi murid di sini, maka perbaikilah sikap kalian." ucap Arian kemudian ia berlalu meninggalkan kelas tersebut.
"Ah brengsek ! semua ini gara-gara tukang sapu jalanan itu !" ucap Chika dengan penuh kebencian.
"Ingatlah bahwa aku tidak akan pernah tinggal diam saat si miskin seperti dirimu berani menentang ku! akan aku balas semua perbuatan mu hingga kau tidak bisa melupakannya seumur hidup mu." batin Cika.
Begitu dengan Misel, ia seakan tidak mau melepaskan Airin begitu saja, karena ponsel kesayangannya yang baru itu rusak, padahal ia baru mendapatkannya satu Minggu yang lalu sebagai hadiah ulang tahunnya.
Keduanya bersumpah di dalam hati, akan membalas dendam kepada Airin atas kejadian pagi ini.
__ADS_1
Sementara Serli, bisa sedikit lega karena kejadian tadi sama sekali tidak membuat Airin kenapa-kenapa, namun ia masih merasa khawatir dengan pembalasan yang akan dilakukan oleh Chika dan juga kawan-kawannya.
Disisi Lain, Airin berjalan menuju kantor Kepala Sekolah. Ia segera masuk dan menemui sang Kepala Sekolah yang merupakan sahabat ayahnya.
"Silakan duduk Airin ! bagaimana harimu selama berada di Sekolah ini ?" ucap sang Kepala Sekolah.
"Terimakasih om, Airin suka berada di sini." jawab Airin.
"Tapi mengapa kau tidak pernah terlihat di kediaman mu ? sebenarnya apa yang kau lakukan sehingga kau tidak berada di sana ?" tanya sang Kepala Sekolah lagi.
"Airin tinggal di rumah ibu Iyem om, beliau adalah seorang penyapu jalan yang tanpa sengaja bertemu dengan Airin."
"Saat itu beliau sedang sakit dan butuh biaya untuk bertahan hidup, Airin ingin membantu beliau secara langsung tetapi ditolaknya, sehingga Airin menggantikan pekerjaannya untuk sementara waktu agar gaji yang beliau terima tidak di potong." jelas Airin.
"Mengapa kau harus tinggal di sana juga, bukankah kau bisa menolong wanita itu tanpa harus menggantikan pekerjaannya ?" tanya Kepala Sekolah itu lagi.
"Tidak masalah om, dengan begini semua yang berada di sini akan mengenal Airin sebagai tukang sapu jalan, mereka tidak akan pernah tahu siapa Airin sebenarnya kecuali om."
"Dengan begitu Airin akan lebih mudah untuk menghapuskan bullying yang terjadi di Sekolah ini om, karena mereka akan melakukan hal itu kepada Airin."
"Singkatnya Airin akan dijadikan sebagai korban bullying itu karena Airin di anggap sebagai tukang sapu jalan. Sebuah profesi yang layak untuk mereka bully." jawab Airin.
"Terserah kepada mu, tapi ingat jangan sampai kau malah terjebak dalam perikanan itu. Dan jangan sungkan untuk memberitahu om jika kau tidak bisa menangani mereka."
"Karena selam ini, dari pihak siswa dan perangkat Sekolah tidak ada yang berani mengungkapkan kejadian itu." jelas sang Kepala Sekolah.
Tak lama kemudian, Arian mengetuk pintu kemudian masuk ke dalam ruangan Kepala Sekolah tersebut.
"Arian, silakan duduk ! ada hal yang ingin saya sampaikan." ucap sang Kepal Sekolah.
Kemudian Arian duduk di dekat Airin. mereka menghadap sang Kepala Sekolah. Mereka menunggu apa hal yang akan disampaikan oleh sang Kepala Sekolah.
__ADS_1
"Arian, seperti tahun-tahun sebelumnya, Sekolah kita selalu mengadakan acara di hari ulangtahunnya. Dan pada acara tahun ini sang pemilik Sekolah ini akan datang dan beliau sendiri yang akan memberikan beasiswa kepada siswa yang berhak menerimanya. Jadi kau harus mempersiapkan acara tersebut." jelas sang Kepala Sekolah.