29 Hari

29 Hari
Bab. 20. Tamu tak diundang


__ADS_3

Suasana kelas seharusnya kondusif untuk mendukung proses belajar mengajar yang maksimal. Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai seperti yang diharapkan.


Namun suasana kelas itu berubah menjadi sangat menakutkan saat orang-orang suruhan ayah Chika datang ke Sekolah dan mencari Airin.


Beberapa lelaki yang berbadan besar dan berpakaian serba hitam itu langsung mendobrak pintu kelas, tanpa permisi mereka langsung masuk ke dalam kelas.


"Maaf tuan apa yang menyebabkan Anda datang ke ruang kelas kami ?" tanya pak Dodit.


"Siapa yang bernama Airin ?" ucap salah satu dari mereka.


"Untuk apa anda mencari Airin tuan ?" tanya pak Dodit lagi.


"Kami akan membawanya untuk memberikan sesuatu yang akan dia ingat seumur hidupnya. Dia telah berani dan sengaja mencelakai Chika nona kami."


"Jika anda tidak ingin menerima akibatnya, maka serahkan gadis yang bernama Airin itu !" jawab salah satu dari orang tersebut.


"Maaf tuan apakah hal ini tidak bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Mungkin Airin belum mengenal Chika karena dia adalah siswa baru di Sekolah ini." jawab pak Dodit.


"Justru dia adalah siswa baru, maka dia harus segera diperingatkan agar dia tidak melakukan hal yang sama dikemudian hari."


"Dia harus mengetahui siapa nona Chika. Dan dia harus menerima akibatnya karena telah berani menantang keluarga Fernandez!" ucap salah satu dari orang tersebut dengan penuh penekanan.


"Itu gadis yang bernama Airin." ucap Misel sambil menunjuk ke arah Airin.


Kemudian Semua orang yang berada di dalam kelas tersebut menatap ke arah Airin. Dengan pemikiran mereka masing-masing membuat suasana kelas menjadi sangat hening.


"Apa yang telah dilakukan oleh Airin sehingga keluarga Fernandez murka. Dan apakah tidak ada yang mengingatkan Airin siapa Chika dan apa yang bisa dia lakukan." batin pak Dodit.


"Kasihan Airin, bagaimana nasibnya nanti."


"Airin semoga ada keajaiban yang bisa menolong mu."


"Tamat sudah riwayat mi Airin."


"Seharusnya kau bersikap seperti Serli, meskipun sangat memalukan setidaknya kau akan selamat dari kemarahan keluarga Fernandez."

__ADS_1


"Maaf Airin kami tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolong mu."


Begitulah kira-kira ucapan dari para penghuni kelas itu meskipun mereka hanya berani berkata di dalam hati.


"Apa yang terjadi ?" tanya Arian yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.


"Siapa kau anak muda ? sebaiknya kau tidak ikut campur dalam urusan kami." jawab salah satu dari orang-orang suruhan keluarga Chika.


"Maaf saya tidak berniat untuk ikut campur, hanya saja ini adalah sekolah tapi mengapa anda berada di dalam kelas ini."


"Bukankah sebaiknya kalian menemui pihak sekolah jika ada sesuatu yang terkait dengan masalah penghuni sekolah ini." ucap Arian.


"Kami bebas melakukan apapun, jika itu menyangkut nama baik dan keselamatan keluarga Fernandez !"


"Jika kau ingin selamat sebaiknya kau segera duduk di bangku mu anak muda." jawab orang itu.


"Oh ternyata seperti ini sikap keluarga Fernandez ! pantas saja Chika tidak tau sopan santun, karena memang seperti itu tingkah kalian semua." ucap Arian.


"Untung saja, aku tidak dekat dengan Chika apalagi menyukainya. Sikapnya dan orang-orangnya tidak mencerminkan bahwa keluarga Fernandez adalah orang yang berpendidikan."


"Sikap kalian tidak mencerminkan sebagai keluarga pejabat tetapi layaknya preman yang sering nongkrong di pasar tradisional." ucap Arian lagi.


"Aku sangat mengenal siapa keluarga Fernandez dan juga semua kebusukannya." jawab Arian dengan tegas.


"Kau berani menantang kami !" ucap salah satu dari mereka dan segera mendekati Arian.


Keduanya saling melemparkan tatapan penuh kebencian. Dan saling bersiap untuk melakukan perlawanan.


Lalu keduanya saling menyerang satu dengan lainnya. Disaat Arian dan juga pria berbaju hitam itu saling adu jotos. Airin berdiri kemudian berteriak.


"Hentikan !" ucap Airin dengan lantang.


"Kalian tidak perlu berkelahi, jika kau ingin membawa aku silahkan lakukan jika kau tidak ingin menjaga Chika." ucap Airin sambil mendekati Arian dan juga pria berbaju hitam tersebut.


"Oh kau ternyata yang bernama Airin, cantik juga. Jika kau mau menemani kami maka kami akan melepaskan mu dengan suka rela." ucap pria itu dengan mata yang menelusuri wajah dan tubuh Airin.

__ADS_1


"Sebelum kau melakukan hal itu, maka hadapi aku terlebih dahulu !" ucap Arian dengan menggeser posisi tubuh Airin agar berada di belakangnya.


Hal itu membuat Chika semakin membenci Airin. Kecemburuan dan kebencian membakar tubuh Chika. Ia segera berdiri dan memerintahkan agar orang suruhan ayahnya segera membawa Airin.


Ia tidak berfikir bagaimana pandangan Arian terhadapnya, saat ini ia hanya ingin segera menyingkirkan Airin dari samping Arian.


"Cepat bawa Airin ! jangan berbasa-basi lagi. Dia akan semakin besar kepala jika kalian menarik ulur untuk menangkapnya." ucap Chika sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Baik nona kami akan segera membawa gadis itu. Anda jangan khawatir serahkan urusan ini kepada kami." jawab pria itu dan ia segera menarik tangan Airin.


Dengan sigap Arian segera menepis tangan pria itu dan melindungi Airin.


"Cepat bawa gadis sialan itu !" bentak Chika.


Kemudian para anak buahnya langsung membawa Airin dan sebagian menahan Arian agar tidak melakukan perlawanan terhadap mereka.


Airin hanya tersenyum saat mereka membawanya pergi meninggalkan kelas tersebut. Sementara anak buah Chika segera mengikuti mereka untuk meninggalkan kelas tersebut.


Chika tersenyum penuh kemenangan, ia menatap kearah Arin dengan penuh arti. Sementara Arian hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia merasa gagal untuk melindungi Airin padahal baru tadi pagi ia berjanji untuk melindungi Airin.


Saat itu suasana kelas kembali hening, hanya detik jam dinding yang berbunyi memecahkan kesunyian di dalam ruangan itu.


Arian membalikkan badannya ia hendak meninggalkan kelas tersebut dan hendak menyusul Airin, apapun caranya akan ia lakukan untuk menyelamatkan Airin.


Namun baru beberapa langkah ia meninggalkan tempat tersebut, Airin sudah berdiri di hadapannya.


"Airin apakah ini kau ? apakah aku tidak bermimpi ?" tanya Arian sambil mengucek kedua matanya.


"Ini Airin, kak Arian tidak sedang bermimpi." jawab Airin dengan tersenyum.


"Bagaimana caranya kau bisa lepas dari mereka ?" tanya Arian dengan penasaran.


"Karena mereka datang tepat waktu." jawab Airin dengan melihat beberapa Polisi yang berjalan di belakangnya.


"Mereka ?" tanya Arian sambil tersenyum.

__ADS_1


Meskipun belum tentu bahwa Airin sudah terbebas dari anak buah keluarga Fernandez tetapi setidaknya saat ini Airin sudah terlepas dari mereka semua.


Karena selama ini belum ada yang bisa mengalahkan keluarga tersebut, meskipun keluarga tersebut yang jelas-jelas bersalah. Tetapi keluarga Fernandez akan membuktikan sebaliknya dengan kekuasaan yang mereka miliki.


__ADS_2