
Setelah menceritakan semuanya, baik Airin maupun Deo segera menghubungi keluarga Chika dan juga Misel. Termasuk keluarga Serli.
Setelah mereka datang, Arian mengurus administrasi rumah sakit kemudian segera membawa jenazah tuan Fernandez ke rumah Ibu Iyem untuk segera dimakan.
Disaksikan oleh banyak orang jenazah tuan Fernandez dikebumikan di pemakaman umum setempat. Tidak ada yang spesial. Bahkan orang-orang yang dulu begitu menghormati tuan Fernandez, baik itu kolega atau teman dan karyawan tuan Fernandez, tidak ada satupun yang datang untuk berbelasungkawa.
Setelah semuanya pergi, tinggal Chika yang ditemani oleh pelayanannya masih setia menunggu di atas pusara itu.
Chika masih enggan untuk menerima kenyataan ini. Ia bahkan ingin ikut bersama tuan Fernandez meningkatkan dunia yang fana ini.
Sementara Airin, dan teman-temannya yang lain masih setia menunggu sampai Chika mau pergi meninggalkan tempat itu.
"Non ayo kita pulang. Ini hampir gelap, lebih baik kita pulang dulu jika non mau besok kita bisa kesini lagi." ucap sang Pelayan itu.
"Tidak aku ingin di sini saja, jika kau ingin pulang, pulanglah terlebih dahulu." ucap Chika sambil menempelkan wajahnya di atas makam sang ayah.
"Chika ayo kita pulang. Masih ada banyak hal yang harus kamu selesaikan." ucap Arian.
"Kalian semua pulanglah, aku ingin disini." jawab Chika tanpa melihat wajah lawan bicaranya.
"Chika bukan hanya kamu yang merasa kehilangan, calon adikmu juga sangat kehilangan." ucap Deo keceplosan.
"Adik ? siapa yang kamu maksud ?" tanya Chika sambil mendekati Deo.
"Aku akan menceritakan semuanya setelah kita sampai di rumah. Aku tidak tega menceritakan semuanya disini." jawab Deo asal.
"Oke, aku tunggu janjimu !" jawab Chika kemudian ia segera masuk kedalam mobil Arian di ikuti oleh pelayan itu.
Setelah Chika bangkit, semua orang yang masih berada di tempat itu segera bubar dan kembali ke rumah masing-masing.
Sepenjang perjalanan mereka semuanya hanya bisa diam seribu bahasa. Tak ada yang bisa mereka ucap untuk bisa menghentikan keheningan itu.
__ADS_1
Setelah sampai di rumah, Chika segera mendesak agar Deo mau menceritakan semuanya kepada Chika.
Dengan senang hati Deo menceritakan semua kejadian yang baru-baru ini terjadi. Mulai masalah-masalah internal hingga apa Misel lakukan dibelakang Chika, termasuk kejadian yang dialami oleh Serli.
Chika menundukkan kepalanya, saat Deo menceritakan semua kebejatan sang ayah dan juga sahabatnya Misel.
Setelah puas mengatakan semual, Deo meminta maaf Chika sambil berpamitan untuk kembali.
"Chika, maaf karena aku menceritakan semuanya kepada mu, meskipun ini begitu pahit tetapi ini adalah sebuah kenyataannya."
"Ayahmu bukan hanya meninggalkan mu tetapi calon adikmu yang masih belum lahir juga. Dan kau tidak boleh putus asa akan semuanya ini. Aku yakin ayahmu telah memberikan bekal agar kau bisa melanjutkan kehidupan ini meskipun terasa berat."
"Jangan pernah merasa sendiri, masih banyak saudara atau teman-teman yang selalu siap untuk membantu mu." ucap Deo.
"Baiklah, kami pamit pulang dahulu. Masih ada Serli yang harus kami jaga." ucap Arian berpamitan diikuti oleh yang lainnya.
Sebuah kenyataan pahit yang harus Chika terima kembali, bahwa Misel yang ia anggap sebagai sahabat ternyata mempunyai hubungan terlarang dengan sang ayah.
Kini ia harus mendengar kenyataan itu, disaat sang ayah baru saja dimakamkan. Belum lagi kondisi Serli yang masih dalam proses penyembuhan membuat Chika menjadi lebih tertekan.
Sejak kejadian pahit yang dialami oleh Chika, ia menjadi pendiam dan mempunyai perilaku yang lebih baik. Bahkan ia juga menyatakan untuk bisa bergabung dengan yang lainnya untuk menyambut pesta ulang tahun Sekolah mereka.
Meskipun banyak teman-teman yang memandang ia dengan sebelah mata, namun ia tetap tersenyum menanggapi hal itu.
Semua anggota OSIS ataupun yang terlibat di dalam acara tersebut, sedang melakukan gladi resik agar besok, disaat acara yang sebenarnya di tampilkan mereka semua sudah dalam keadaan yang siap.
"Airin, besok adalah hari ulang tahun SMA Golden A&H ini, semoga semua acara yang aku susun ini bisa membuat pemilik SMA Golden merasa puas."
"Doain ya, biar semuanya lancar seperti yang kita rencanakan tanpa ada kendala sedikitpun." ucap Arian sambil menggenggam tangan Airin.
"Pasti sang pemilik SMA ini akan merasa puas. Berkat semua perjuangan yang kalian lakukan dan aku tidak menyangka bahwa kau bisa membuat konsep yang sedemikan rupa." jawab Airin dengan tulus.
__ADS_1
"Terimakasih Airin, kau adalah penyemangat dalam hidupku ini." jawab Arian sambil menatap wajah cantik yang ada didepannya dengan senyuman manisnya.
Setelah semua selesai melakukan gladi resik, Arian dan juga seluruh anggotanya pulang untuk beristirahat agar besok mereka sudah bertenaga dan bugar kembali.
"Arian, bagaimana apakah semuanya sudah siap ?" tanya Airin.
"Sudah, kita bisa pulang sekarang atau kau ingin kita pergi ke suatu tempat makan sekalian kita jalan-jalan."
"Sejak kita jadian kita belum pernah sekalipun pergi berdua. " ucap Arian tulus sambil merapikan rambut Airin.
"Aku ikut saja." jawab Airin sambil tersipu malu .
Kemudian keduanya masuk kedalam mobil dan meninggalkan sekolah SMA Golden A&H. Menuju sebuah kafe yang terletak di sebuah pantai.
Keduanya menikmati indahnya senja ditepi pantai. Suasana yang begitu cocok dengan suasana hati keduanya. Kencan pertama yang romantis.
Setelah puas menikmati keindahan pantai, mereka akhirnya pulang agar bisa beristirahat dan besok mereka bisa datang ke acara ulang tahun sekolah yang sudah ditunggu-tunggu oleh semua pihak.
"Airin, terimakasih untuk hari ini, dan bolehkah aku mengantar mu sampai ke depan rumah. Agar malam Minggu besok aku bisa meminta ijin kepada orang tuamu untuk memberikan putrinya yang cantik ini." ucap Arian saat di dalam mobil.
"Maaf Arian, untuk saat ini aku belum siap." jawab Airin.
"Apa yang membuat mu takut, siapapun kamu dan bagaimana pun kondisi keluarga mu, aku tetap mencintaimu apa adanya dan tanpa syarat apapun." ucap Arian mencoba menyakinkan sang pujaan hati.
"Aku hanya belum siap saja, tidak ada masalah yang lainnya." jawab Airin dengan tidak enak hati.
"Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dari ku ? Dan kapan kau akan siap untuk mengenalkan aku kepada kedua orang tuamu ?" tanya Arian penuh dengan permohonan.
"Besok setelah acara ulang tahun sekolah kita, aku akan mengenalkan mu kepada kedua orang tuaku dan kau boleh datang ke rumahku kapanpun kau mau."
"Tetapi sejak saat itu, aku tidak akan datang lagi ke sekolah sebagai seorang siswi di SMA Golden A&H lagi." jawab Airin tanpa ragu dan terlihat begitu tegas dan jelas.
__ADS_1