
Disaat sang Surya masih dalam peraduannya, dan disaat hampir semua orang masih terlelap di balik selimut mereka, Ibu Iyem sudah bangun untuk menjalankan kewajibannya terhadap sang pencipta.
Dengan sebuah doa ia mengawali hari sebelum memulai sebuah aktivitas yang akan beliau lakukan.
Setelah selesai melakukan pekerjaan di rumah pak RT, Ibu Iyem menuju pekarangan rumahnya, beliau melihat sudah banyak sekali bahan bangunan untuk mendirikan rumahnya.
Air matanya kembali menetes, beliau seakan masih tak percaya bahwa rumah yang dulu sangat usang dan termakan si jago merah itu kini akan diganti dengan rumah yang lebih baik.
Rumah yang awalnya hanya terbuat dari bahan kayu-kayu bekas itu, kini akan diganti dengan tembok yang kokoh dan permanen.
Beliau kembali bersujud, mengungkapkan terimakasih kepada sang pencipta atas semua karunia yang beliau terima.
Airin yang melihat hal itu, semakin bersyukur karena ia telah menolong orang yang tepat.
"Ibu Airin pamit untuk bersekolah dahulu, semoga rumah ini akan segera selesai dalam waktu yang lebih singkat dari rencana pembangunannya."
"Semoga banyak orang yang akan dengan sukarela untuk membantu mendirikan rumah ini." ucap Airin sambil mencium tangan ibu Iyem.
"Iya nak, hati-hati dijalan dan semoga semua ucapan mu menjadi sebuah doa yang di ijabah Allah." jawab ibu Iyem dengan tulus.
Kemudian Airin berlalu meninggalkan ibu Iyem dengan segudang kebahagiaannya. Airin tidak langsung pergi ke Sekolah, ia datang ke Perusahaannya untuk menandatangani beberapa berkas-berkas penting perusahaannya.
Sementara Om Bima, sudah menyiapkan kejutan untuk mang Udin seperti yang diperintahkan oleh Airin.
Sebuah motor dengan warna merah dan hitam itu dihiasi dengan pita dan logo perusahaan Golden A&H.
Semua mata yang melihat pasti sangat penasaran sekali, untuk siapa motor mewah itu diberikan oleh sang pemilik perusahaan sekaligus pemilik Sekolah tersebut.
Mang Udin yang menyadari bahwa akan ada kunjungan dari sang pemilik Sekolah dengan cekatan membersihkan setiap sudut Sekolah tersebut.
Beliau tidak ingin sang pemilik itu kecewa dengan pekerjaannya. Begitu juga dengan para dewan guru yang datang dan mengetahui hal itu.
__ADS_1
Mereka saling menyiapkan yang terbaik untuk ditunjukkan terhadap sang pemilik Sekolah tempat mereka menggantungkan hidup keluarganya.
Setelah semuanya siap, dan semua orang yang ada dalam Sekolah tersebut sudah berkumpul di Aula, om Bima Selaku Kepala Sekolah itu segera naik ke podium.
Setelah mendapatkan kode dari Airin, om Bima memulai pidato singkatnya.
"Kepada mang Udin selaku orang yang telah bekerja keras dalam menjaga kebersihan dan keindahan Sekolah ini, saya mewakili pemilik Golden A&H mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada mang Udin."
"Dan sebagai tanda terimakasih pemilik Golden A&H memberikan sebuah cinderamata untuk segala kerja keras mang Udin."
"Dihadapan semua orang yang ada di Sekolah ini, saya menyerahkan sebuah motor yang mungkin sangat sedikit sekali nilainya jika dibandingkan dengan jasa-jasa mang Udin."
"Mang Udin terimalah ini, dan jadikan ini sebagai awal dari perjuangan mang Udin untuk terus bekerja dengan tulus dan ikhlas demi kemajuan Golden A&H."
"Dan untuk yang lainnya, kalian masih mempunyai banyak kesempatan untuk mendapatkan hadiah dari sang pemilik Golden A&H."
"Rencananya beliau akan hadir dalam acara ulang tahun Sekolah ini. Dan beliau berencana memberikan beberapa hadiah dan beasiswa bagi yang berhak."
"Ambilah segala sesuatu yang baik dari mang Udin, agar kita bisa melakukan yang terbaik untuk kita dan juga Sekolah ini." jelas om Bima.
Setelah itu mang Udin naik keatas podium dan menerima hadiah yang sangat luar biasa dalam hidupnya.
Setelah menerima kunci dari motor mewah itu, mang Udin langsung melakukan sujud syukur di atas podium.
Kembali Airin mendapatkan doa yang tulus dari hati yang tulus. Air mata Airin kembali menetes saat mendengar doa-doa yang dipanjatkan oleh mang Udin.
Setelah acara itu selesai semua orang pergi dan melanjutkan aktivitas mereka kembali. Sedangkan mang Udin seakan tidak percaya bahwa ia kini memiliki sebuah motor mewah dari pemilik Golden A&H.
Rasanya baru kemarin, ia harus berjalan kaki jika melakukan hal yang jauh dari tempat tinggalnya. Kini ditangannya terdapat sebuah kunci sebuah motor mewah.
"Selamat ya mang atas semuanya." ucap Airin sambil mendekati mang Udin.
__ADS_1
"Iya neng, terimakasih atas semuanya neng." jawab mang Udin dengan tulus.
"Bagaimana mang apakah mang Udin menyukai motor ini ?" tanya Airin.
"Tentu saja mang Udin menyukainya neng, sekarang mang Udin tidak perlu berjalan kaki jika hendak kemana-mana."
"Baru kemarin kita membicarakan tentang jalan kaki yang mang Udin lakukan, eh hari ini mang Udin mendapatkan rejeki nomplok berupa sebuah motor."
"Bagaimana jika nanti pulangnya mang Udin antar sekalian mencoba motor ini." ucap mang Udin dengan tulus.
"Boleh mang, Airin sangat beruntung bisa menjadi penumpang pertamanya mang." jawab Airin dengan tersenyum.
"Mang motor itu Airin beli untuk membantu mang Udin, tetapi mang Udin tidak pernah lupa untuk membantu orang lain."
"Kebahagiaan yang mang Udin rasakan, selalu mang Udin bagi untuk orang-orang di sekitar mang Udin."
"Sungguh mulia sekali hatimu mang, seharusnya kau layak mendapatkan yang lebih dari sebuah motor ini." batin Airin.
"Wah selamat untuk mang Udin, kami perlu belajar banyak kepada mang Udin. Terutama belajar tentang tanggung jawab dan kesabaran yang mang Udin miliki." ucap Arian yang sudah berada di samping Airin sambil mengulurkan tangannya untuk mang Udin.
"Terimakasih banyak untuk semuanya, dan semoga saja tuan Arian juga mendapatkan hadiah yang layak untuk tuan." jawab mang Udin dengan tersenyum.
"Seandainya aku bisa meminta hadiah mang, aku pasti akan meminta hati dan cinta Airin. Ia sangat berbeda dari gadis pada umumnya." batin Arian sambil melirik Airin yang tersenyum manis dan berdiri di sampingnya.
"Kalau begitu Airin permisi dulu ya mang, selamat beraktifitas dengan motor barunya mang." ucap Airin kemudian ia melangkahkan kakinya menuju ke ruang kelasnya.
"Airin tunggu !" ucap Arian sambil sedikit berteriak.
Airin berhenti sejenak untuk menunggu Arian, setelah itu mereka berjalan beriringan menuju ke kelas mereka masing-masing. Semua mata memandang ke arah keduanya dengan pemikiran mereka masing-masing.
Ada yang suka dan ada pula yang tidak suka, begitulah kehidupan yang kita jalani. Ada sebagian orang yang menyukai apapun yang kita lakukan dan ada pula yang tidak pernah menyukai apapun yang kita lakukan entah itu baik atau buruk semuanya sama tergantung dari sudut pandang mereka yang melihatnya.
__ADS_1