
Setelah Arian memarkir mobilnya, ia segera membukakan pintu untuk Airin. Kemudian ia mengantarkan Airin menuju kelasnya.
"Airin nanti disaat istirahat ku tunggu kau di perpustakaan ya, kita akan membahas acara ulang tahun Sekolah kita."
"Di sana banyak yang ikut berpartisipasi dalam acara itu, jadi kau jangan khawatir." ucap Arian.
"Baiklah kak, Airin akan ke sana." jawab Airin singkat.
"Dan satu hal lagi, jika Chika dan teman-temannya melakukan hal yang tidak baik, jangan sungkan untuk memberi tau aku."
"Kau jangan pernah merasa sendiri, ada aku yang selalu siap untuk mu." ucap Arian dengan tulus.
Airin tersenyum mendengar ucapan dari Arian.
"Terimakasih banyak untuk semua, maaf Airin belum bisa membalasnya." ucap Airin saat berada di depan pintu kelasnya.
"Jangan sungkan, bukankah kita selayaknya saling tolong menolong ?. Jangan lupa untuk datang nanti saat jam istirahat." ucap Arian.
"Baiklah Airin pasti akan datang." jawab Airin.
Kemudian Arian membukakan pintu untuk Airin. Ia tidak ingin kejadian yang sama akan terulang lagi. Ia siap menjadi pelindung Airin dari Chika.
Setelah pintu terbuka, Airin segera masuk dan segera duduk di bangkunya. Arian menatap tajam ke arah Chika dan juga Misel. Setelah itu ia berlalu meninggalkan kelas Airin dan menuju kelasnya.
Sementara Chika semakin tersulut emosi melihat perlakuan spesial Arian untuk Airin. Kemarahannya yang sudah ia lampiaskan kepada Serli. Kini memuncak kembali saat melihat perlakuan Arian yang begitu istimewa untuk Airin.
Kemarahannya sudah mengalahkan akal sehatnya, dengan sekuat tenaga ia menggebrak meja yang ada dihadapannya. Setelah itu ia berdiri dan segera mendekati Airin.
Semua mata memandang iba ke arah Airin, mereka sebenarnya tidak ingin hal yang sama menimpa Airin seperti yang dialami oleh Serli.
Entah hal gila apa yang akan dilakukan oleh Chika terhadap Airin. Mereka benar-benar mengalami kejadian diluar batas kemampuan mereka.
Sedangkan Airin hanya diam, sambil mempersiapkan diri untuk menyambut serangan dari Chika yang mungkin bisa membahayakan dirinya.
__ADS_1
Chika yang sudah tersulut emosi, langsung menendang dan mengebrak meja di hadapan Airin.
"Jangan kau merasa senang dulu tukang sapu ! kau hanya mendapatkan pertolongan dari Arian, bukan berarti kau bisa seenaknya melakukan hal yang kau suka."
"Ingat masih ada aku disini yang akan melakukan hal-hal yang tidak pernah kau pikirkan. Kau harus ingat kau sedang melawan siapa." ucap Chika dengan penuh penekanan.
"Terimakasih telah mengirimkan." jawab Airin singkat.
"Kau jangan sombong dulu tukang sapu, jika aku bisa menghilangkan rumahmu maka aku juga bisa menghilangkan dirimu." ucap Chika dengan tatapan penuh dendam.
"Oh ternyata kau pelaku dibalik kebakaran itu." ucap Airin sambil berdiri berhadapan dengan Chika.
"Jika itu benar apa yang akan kau lakukan tukang sapu ? bahkan hukum yang ada bisa dibeli oleh ayahku."
"Kau jangan bermimpi disiang bolong. Kau bisa saja selamat dari peristiwa itu tapi kau tidak akan bisa selamat dari Chika." jawab Chika dengan angkuhnya.
"Aku tidak sedang bermimpi Chika ! kau lihat saja apa yang bisa dilakukan oleh tukang sapu ini. Kau harus bertanggung jawab atas semua perbuatan yang telah kau lakukan !" jawab Airin dengan dingin.
Tidak ada yang berani bersuara, untuk bernafas saja mereka seakan tak leluasa. Mereka begitu takut akan apa yang akan terjadi lagi di dalam kelas tersebut.
Kali ini Chika benar-benar sangat marah, mereka tidak ingin terlibat apapun dengan Chika, mereka memilih untuk menutup mata dan telinga mereka agar tidak menjadi sasaran kemarahan Chika.
"Kau berani menantang ku ? kau hanya memiliki sebuah sapu tetapi sudah berani melawan Chika ! Kau pikir aku seperti sampah yang setiap hari kau bersihkan ?"
"Kau harus ingat siapa Chika yang sedang kau hadapi ! dasar kau tukang sapu." ucap Chika sambil menarik kerah baju Airin.
Airin menghempaskan tangan Chika dan kembali merapikan seragamnya.
"Kau lebih buruk dari sampah yang ada di jalanan Chika ! bahkan sapu yang aku gunakan untuk membersihkan jalan itu tidak layak untuk membersihkan dirimu dengan segala kotorannya."
"Kau bahkan lebih hina dari selembar daun yang jatuh di atas tanah yang sering aku bersihkan itu." ucap Airin dengan menatap tajam wajah Chika.
Dengan cepat Chika menampar wajah Airin, sehingga meninggalkan bekas merah diwajahnya.
__ADS_1
"Ini sebagai peringatan untuk mu tukang sapu. Agar lain kali kau ingat siapa dirimu. Bekas merah di pipimu sebagai tanda bahwa kau tidak layak berhadapan atau bahkan melawan Chika."
"Dan kau harus selalu mengingat bahwa kau bukan lawan yang sebanding dengan ku !" ucap Chika setelah menampar wajah Airin.
Airin tersenyum kemudian ia membalas tamparan Chika lebih keras, dua kali tamparan Airin membuat Chika meneteskan air mata.
"Ini sebagai tanda bahwa aku juga bisa melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan. Dan kau harus ingat tidak semua orang bisa kau tundukkan dengan semua yang menjadi milik ayahmu."
"Kau harus ingat bahwa semua kekayaan orang tuamu yang selama ini kau banggakan adalah hanyalah titipan. Semua kan hilang dengan sekap mata saat titipan itu di ambil."
"Kedua tanda merah di pipimu sebagai pengingat bahwa kau akan menuai semua yang telah kau tanam !"
"Bahkan yang akan kau tuai bisa lebih buruk dari apa yang telah kau lakukan terhadap orang lain." jawab Airin.
"Kau berani menamparku ! ingat kau akan menerima akibatnya !" ucap Chika sambil mengusap kedua pipinya.
"Akan aku tunggu kejutan dari mu nona Chika yang terhormat." jawab Airin dengan santai.
"Kau !" ucap Chika sambil menunjuk ke arah Airin.
Kemudian Chika kembali duduk di bangkunya dan segera menghubungi orang tuanya. Tak lupa ia berfoto dengan keadaan yang sangat menyedihkan.
Setelah itu ia meminta agar ayah Chika segera memberikan hukuman untuk Airin yang berani melakukan tindakan yang membahayakan dirinya.
Setelah selesai mengadu kepada sang Ayah, Chika menunjuk Airin dengan kedua jarinya sambil tersenyum penuh kemenangan.
Sementara Airin Hanya tersenyum sambil melipat kedua tangannya. Setelah itu ia mengeluarkan sebuah krim untuk menghapus warna merah di pipinya akibat perbuatan Chika.
Setelah itu ia mengirimkan sebuah pesan, berupa rekaman pengangkutan Chika, bahwa ia adalah dalang dari kebakaran rumah ibu Iyem.
Setelah itu Airin dengan santai mengeluarkan buku dan peralatan lainnya untuk mengikuti pelajaran yang sebentar lagi akan dimulai.
Sementara siswa yang lainnya tidak berani melakukan hal apapun. Mereka tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi terhadap Airin atau yang lainnya setelah pengaduan dari Chika.
__ADS_1