
Chika dan Misel pergi ke rumah sakit menggunakan taksi, ini adalah kehidupan awal bagi Chika tanpa kemewahan yang selama ini selalu bersamanya.
Sejak semalam, ketika ia keluar dan meninggalkan kediaman Fernandez. Ia telah kehilangan semuanya. Kini ia tak berbeda dengan yang lainnya.
Bahkan boleh dibilang kalau dia lebih buruk, karena ia harus menumpang hidup di rumah seorang penyapu jalanan. Yang lebih parahnya lagi rumah tersebut pernah ia bakar tanpa merasa iba sedikitpun.
Namun kini, setelah rumah itu diperbaiki. Ia dengan tidak tau malu malah menumpang tinggal di situ. Sebuah kenyataan yang membuat Chika ditampar oleh kenyataan, bahwa kekejaman dan kesombongannya kini berbanding terbalik 180 Derajat.
Saat ini hanya bisa berkompromi dengan keadaan, dan ia harus menanggalkan semua kesombongannya itu, demi bisa bertahan hidup.
Akhirnya mereka sampai, setelah itu Chika menuju meja resepsionis untuk menyampaikan permasalahannya.
Setelah itu datang seorang Perawat yang mendekati Chika dan juga Misel.
"Mari nona, saya antar anda untuk menemui Dokter yang menangani ayah anda." ucap Perawat tersebut.
"Ada apa dengan ayahku ? bukankah ia baru saja pulang dari Rumah sakit dan sudah dinyatakan sehat. Untuk apa harus ditangani oleh Dokter lagi ?" tanya Chika.
"Maaf saya tidak bisa menjelaskan masalah ini. Sebaiknya anda menemui Beliau sendiri untuk mengkonfirmasi masalah ayah anda." jawab Perawat tersebut dengan sopan.
"Baiklah antar kami untuk menemui Dokter tersebut." jawab Chika dengan sopan.
Disaat mereka berjalan mengikuti Perawat tersebut, mereka bertemu dengan Airin, Arian dan juga Deo yang sedang duduk di depan ruang tunggu.
Chika melihatnya sekilas, kemudian melanjutkan perjalanan menuju ruangan yang ada didepan lorong.
"Silakan masuk !" ucap Perawat tersebut sambil membuka pintu utuk mereka.
Chika segera masuk dan di ikuti oleh Misel, setelah keduanya duduk mereka langsung menanyakan perihal tuan Fernandez.
"Maaf Dokter bagaimana dengan kondisi ayah saya ?" tanya Chika.
__ADS_1
"Apakah nona tidak berada di tempat kejadian saat itu ?" tanya sang Dokter tanpa pertanyaan dari Chika.
"Maksud Dokter ? Saya sudah dua hari ini menginap di rumah bibi saya." jawab Chika.
"Baiklah kalau begitu saya akan menjelaskannya. Saat malam kejadian Polisi menemukan tuan Fernandez sudah tidak bernyawa lagi dan dengan posisi masih menggantung di atap rumah yang berada di belakang rumah utama."
"Setelah jenazahnya di bawa ke rumah sakit ini, kami melakukan otopsi dan hasilnya menunjukkan bahwa hal ini murni bunuh diri. Dan kami mengundang anda kesini untuk menyerahkan jenazah agar bisa dikebumikan sesegera mungkin." jelas Dokter tersebut secara panjang lebar.
Chika tidak bisa mendengar penjelasan itu sampai selesai, hatinya hancur berkeping-keping. Seluruh pertahanannya yang sejak semalam berusaha ia bangun sekarang telah hancur saat ia mendengar bahwa sang ayah telah meningkatnya untuk selamanya.
Kini ia hanya hidup seorang diri, hanya bersama seorang bibi yang baru saja ia kenal. Seluruh dunia seakan runtuh seketika, awan gelap dan petir datang dengan tiba-tiba, dan membuat pandangan keduanya kabur dan berkahir dengan jatuhnya tubuh keduanya.
Dokter tersebut segera memanggil perawat untuk menolong mereka. Dengan cepat mereka dibawa ke ruang pemeriksaan untuk memastikan kondisi mereka.
Airin yang melihat hal itu langsung mengikuti kedua temannya yang tiba-tiba pingsan di ruang Dokter.
Deo dan Arian hanya bisa menunggu di depan pintu. Ia tidak diperkenankan untuk masuk melihat kondisi keduanya.
"Saya teman sekelas mereka Dokter, apakah ada yang harus saya lakukan Dokter ?" tanya Airin.
"Sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan, mereka hanya pingsan karena terlalu schok saat mendengar berita yang mungkin membuat mereka terpukul."
"Tetapi untuk nona yang satu ini, ia dalam keadaan hamil 5 Minggu. Apakah pihak keluarga sudah mengetahuinya ? hal ini sangat mempengaruhi mental pasien." jelas sang Dokter.
"Apa dia hamil ? bagaimana mungkin Dokter dia masih bersekolah dan ia adalah teman satu kelas saya." ucap Airin dengan rasa tidak percaya.
"Jika seseorang sudah masuk ke usia baligh dan ia pernah melakukan hubungan suami-istri, tentu ada kemungkinan bisa hamil."
"Dan untuk usia atau status sebagai seorang pelajar, jika ia tidak bisa menjaga pergaulannya maka hal ini bisa saja terjadi. Apakah anda teman dekat pasien ?" tanya sang Dokter.
"Bukan Dokter, saya hanya teman satu kelas, untuk kehidupan pribadi mereka saya sama sekali tidak mengetahui." jawab Airin.
__ADS_1
"Baiklah, segera hubungi pihak keluarga agar bisa merawat mereka berdua." ucap sang Dokter.
Kemudian Beliau meminta agar Airin, segera menghubungi pihak keluarga. Dan ditunggu segera.
"Airin apa yang terjadi ? mengapa kau terlihat seperti itu ?" tanya Arian sambil menggandeng tangan Airin kemudian ia mengajak untuk duduk di sampingnya.
"Misel dinyatakan hamil, dan Dokter meminta agar segera menghubungi pihak keluarga. Sedangkan Chika ia terlalu shock mendengar kabar tentang ayahnya." jawab Airin singkat.
"Apa hamil !" ucap Arian dan juga Deo secara bersamaan.
"Kasihan anak yang ada didalam kandungnya, ia belum sempat lahir bahkan diketahui oleh ayahnya. Tapi takdir berkata lain, Tuhan telah mengambil ayahnya sebelum ia mengetahui keberadaannya." ucap Deo keceplosan.
"Deo, yang meninggal itu Tuan Fernandez ayah Chika, sedangkan yang hamil itu Misel jadi mengapa kau berkata seperti itu ?" tanya Airin tak habis pikir dengan ucapan Deo.
Kemudian Arian menjelaskan maksud perkataan Deo, termasuk mereka juga telah melihat dengan mata kepalanya sendiri adegan saat di rumah sakit waktu itu.
Sebenarnya Arian dan Deo tidak ingin mengungkit masalah itu, hanya saja ia tidak ingin ada sesuatu yang ditutupi di hadapan Airin.
Airin menatap keduanya nseakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Sama sekali tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa salah satu siswi di SMA Golden yang begitu tersohor ada seorang siswi yang menjadi wanita panggilan. Sungguh semua diluar pemikirannya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan ?" tanya Airin dengan putus asa.
"Kita harus menghubungi keluarga Misel, tetapi untuk Chika siapa yang bisa kita hubungi ? sedangkan jenazah tuan Fernandez sudah menunggu untuk segera dikebumikan." ucap Deo.
"Chika masih mempunyai seorang bibi, adik kandung ibunya." jawab Airin.
"Apakah kau mengenalnya ?" tanya Arian.
"Iya aku sangat mengenalnya, beliau adalah ibu Iyem. Yang selama ini aku tinggal bersamanya. Aku baru tau semalam saat Chika datang dengan membawa banyak koper." jawab Airin.
Kemudian ia menjelaskan semuanya secara runtut, kejadian yang membuat ia masih saja enggan untuk mempercayainya.
__ADS_1
Ia masih sangat khawatir dengan keadaan ibu Iyem. Karena sikap Chika dan pelayan yang bersama Chika seperti ada maksud yang tersembunyi.