
Serli tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia hanya bisa menangis pilu meratapi nasibnya. Kalau saja ia menuruti perkataan Airin, agar ia pulang di antar oleh mang Udin mungkin hal ini tidak akan terjadi.
Dengan sisa-sisa tenaganya, ia mencoba melawan dan melindungi dirinya dari dari keberingasan tuan Fernandez.
Namun tuan Fernandez sudah tidak memperdulikan perlawanan yang dilakukan oleh Serli.
Tanpa pikir panjang lagi, ia segera memulai aksinya. Ia melepaskan semua kain yang menutupi tubuh keduanya dengan kasar.
Terlihat tubuh polos Serli, membuat tuan Fernandez ingin segera menikmatinya, menuntaskan segala yang ada tanpa ada yang tersisa.
Serli sudah tidak bisa berkutik lagi, ia kehilangan semua tenaganya, ia memejamkan matanya sambil terus berdoa dan berharap ada sebuah keajaiban.
Disaat Serli pasrah dengan keadaan yang menimpanya, tiba-tiba ada seseorang yang datang kemudian memukul tuan Fernandez hingga ia tersungkur kemudian pingsan.
Pria berdasi itu membalikkan badannya, kemudian ia melemparkan kain ke arah Serli.
"Tutupi tubuhmu dengan ini." ucap pria berdasi itu.
Dengan cepat mendorong tubuh tuan Fernandez dan menjatuhkannya di lantai. Serli bangkit dan menutupi tubuhnya. Setelah itu Airin masuk ke dalam kamar tersebut.
"Serli apakah kau baik-baik saja ?" tanya Airin sambil memeluk tubuh Serli dengan erat.
Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi seandainya ia terlambat untuk datang menolongnya.
"Aku baik-baik saja Airin, terimakasih karena kau telah menyelamatkan kehormatan ku." ucap Serli sambil membalas pelukan Airin sambil menangis.
Keduanya saling memeluk erat untuk saling menumpahkan perasaan mereka. Serli merasa bersyukur karena Airin dan pria berdasi itu datang tepat sebelum kejadian itu terjadi.
Serli tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya jika mereka tidak datang tepat waktu. Entah bagaimana caranya ia harus menjalani kehidupan setelah itu.
"Syukurlah jika kau baik-baik saja, maafkan aku seharusnya kau tidak perlu mengalami hal ini. Jika aku langsung melepaskan Chika."
"Maafkan aku Serli. Aku terlalu lama berfikir sehingga kejadian ini harus menimpamu."
__ADS_1
"Sekarang, bersihkan dirimu dan gunakan pakaian ini." ucap Airin sambil menghapus air mata di wajah Serli.
"Tidak perlu meminta maaf Airin, semua ini adalah kecerobohan ku sendiri. Seandainya aku mengikuti ucapan mu, agar aku tidak pulang sendiri, maka hal ini tidak mungkin terjadi." ucap Serli.
Kemudian Serli berdiri dan dibantu oleh Airin, kemudian ia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah Serli masuk ke kamar mandi, Airin berdiri dan mendekati tubuh tuan Fernandez.
"Bawa dia, masukkan ke kedalaman kamar kosong itu dan ikat tubuhnya serta tutup mulutnya." ucap Airin kepada pria berdasi itu.
"Baik nona." jawab pria itu kemudian ia mengangkat tubuh tuan Fernandez dan membawanya ke tempat dimana Serli di sekap.
Airin membersihkan kamar yang berantakan itu sambil menunggu Serli. Ia juga memerintahkan orang-orangnya untuk membersihkan jejak mereka agar tidak dapat di deteksi.
Setelah Serli keluar dari kamar mandi, Airin mengajaknya keluar meninggalkan kamar tersebut dan berjalan menuju ke mobilnya.
"Serli masuklah, mari kita pulang." ucap Airin dengan tersenyum.
"Airin ini mobil siapa ?" tanya Serli.
"Jika sudah lebih baik segera tinggalkan tempat ini. Dan tinggallah salah satu dari kalian."
"Jika semuanya aman segera hubungi saya, agar saya bisa segera mengembalikan semua seperti sebelumnya." jawab Airin.
"Baik nona, akan kami laksanakan." jawab pria itu sambil sedikit menundukkan kepalanya, kemudian ia berlalu meninggalkan Airin dan juga Serli.
"Airin sebenarnya apa yang terjadi ? siapa kamu sebenarnya ?" tanya Serli.
"Serli mari kita masuk dan segera meninggalkan tempat ini sebelum orang-orang tua Fernandez menyadari semuanya." ucap Serli sambil membuka pintu mobilnya dan segera masuk tanpa menjawab pertanyaan dari Serli
Serli Mau tidak mau mengikuti Airin, kemudian mereka segera meninggalkan tempat tersebut dan di ikuti oleh orang-orang Airin.
Serli Hani bisa menyimpan kekagumannya saat melihat begitu banyak mobil-mobil mewah mengikuti mereka.
__ADS_1
"Airin sebenarnya siapa kau sebenarnya ? Jia kau hanya tukang sapu bagaimana mungkin kau bisa mengendarai mobil ini dan memerintahkan mereka semua."
"Mobil ini dan semua itu, sebenarnya siapa kau Airin. Tetapi siapapun kau, aku sangat berterima kasih, karena kau telah menyelamatkan kehormatan dan juga masa depanku." batin Serli sambil tersenyum menatap Airin yang santai mengemudikan mobilnya.
"Serli kau ingin langsung pulang atau kau ingin pergi kemana setelah ini ?" tanya Airin.
"Aku ingin pulang saja Airin, aku ingin beristirahat di rumah saja." jawab Serli.
"Baiklah kalau begitu, ingatlah untuk selalu tersenyum. Dan angkat lah wajahmu saat menatap Chika nanti, jangan lagi kau menundukkan kepala di hadapannya."
"Kau harus bisa melepaskan diri dari lingkaran kejahatan Chika atau yang lainnya. Dan jangan kau mau menjadi bahan permainan mereka."
"Sesuatu yang tidak benar harus kita lawan, jika kita tidak mampu untuk melawannya setidaknya kau harus berani mengatakan kepada yang lain, siapa tau mereka bisa membantu kita." ucap Airin.
"Terimakasih Airin, aku akan selalu mengingat pesanmu. Lalu bagaimana dengan Chika apakah kau membebaskannya ?" tanya Serli.
"Ia Chika sudah keluar dari penjara, hanya saja ia tidak akan ada yang menjemput. Biarkan ia sampai ke rumah dengan berjalan kaki dan segera menolong ayahnya." jawab Airin.
"Bukankah itu Chika ?" ucap Serli sambil menunjuk ke arah seseorang yang berjalan dengan sangat lesu dari balik mobilnya.
"Iya, dia adalah Chika. Orang yang paling kau takuti di Sekolah. Sekarang lihatlah ia begitu menyedihkan."
"Hidup ini, seperti roda yang selalu berputar. Kadang kita berada di bawah dan kadang kita berada di atas. Kita hanya perlu menjalani semuanya dengan penuh rasa syukur apapun keadaan kita saat ini."
"Janganlah kita menjadi sombong dan menyalah gunakan saat kita berada di atas. Dan jangan pula kita mengeluh saat kita berada dibawah." ucap Airin sambil tersenyum.
Serli menatap Airin dengan tersenyum kagum, seorang gadis yang masih seusianya tetapi memiliki pemikiran yang jauh lebih dewasa dari umurnya.
Kemudian Airin menghentikan mobilnya di depan sebuah minimarket. Mereka turun untuk membeli makanan dan minuman.
"Serli belilah sesuatu untuk oleh-oleh adikmu dan juga orang tuamu. Sampaikan kepada mereka bahwa kau baru saja mengunjungi sahabat mu dan mereka memberikan oleh-oleh untuk kau bawa pulang."
"Agar keluarga mu tidak merasa khawatir, karena kau pergi terlalu lama sehingga telat untuk pulang." ucap Airin.
__ADS_1
"Tetapi aku tidak mempunyai uang." jawab Serli dengan lirih.
"Kau jangan berfikir untuk itu, aku yang akan membayar semuanya. Anggaplah sebagai tanda permintaan maaf dari ku." jawab Airin.