29 Hari

29 Hari
Bab. 61. Seorang teman


__ADS_3

"Serli, kau sungguh sangat berbakti kepada orang tuamu. Aku sangat iri, aku selama ini sangat buruk sekali." ucap Chika dengan menundukkan kepalanya.


"Chika jangan bersedih, setiap orang pernah melakukan kesalahan. Tinggal mau memperbaiki kesalahannya atau tidak itu saja bedanya."


"Selama kau mau berubah pasti kau juga akan bisa lebih baik dari siapapun, termasuk aku. Jadi kau jangan bersedih seperti itu." ucap Serli.


"Terimakasih Serli, kau begitu baik. Aku bangga jika kau mau berteman dengan ku." ucap Chika.


"Tentu saja, aku sangat beruntung bisa menjadi teman mu." jawab Serli.


"Mulai saat ini kita adalah teman !" seru Chika sambil menggenggam erat tangan Serli.


Keduanya tersenyum, kemudian melanjutkan berbincang-bincang masalah teman-teman dan juga mata pelajaran serta guru bidang studi masing-masing.


Hingga tanpa terasa, keduanya sudah hampir sampai di kediaman keluarga Fernandez. Keduanya segera turun, Chika membayar ongkos kemudian ia berdiri diam, ia ragu apakah harus mengantarkan Chika sampai kedalaman atau cukup sampai di sini saja.


"Serli ! ayo masuk !." teriak Chika didepan gerbang.


Namun Serli masih tetap diam tak menjawab ucapan Chika. Chika buru-buru menghampiri Serli, ia takut Serli berubah pikiran dan akan segera melarikan diri.


"Serli, mengapa kau hanya berdiri di situ ? mari kita masuk !." ucap Chika sambil mendekati Serli yang masih berdiri di sisi jalan.


Serli menatap Chika dengan sebuah keraguan di matanya, namun ia tak dapat mengungkapkan apa yang sebenarnya ia rasakan.


"Serli, bukankah kita ini teman ? jadi apa y membuatmu ragu untuk ikut aku masuk ke dalam ? bukankah rumah ini juga rumahmu juga ?" ucap Chika mencoba meyakinkan Serli.


"Tapi aku takut, bukankah kita ini sangat jauh berbeda? ibarat langit dengan bumi. Perbedaan kita sangat jauh sekali." jawab Serli.


"Mengapa kau berbicara seperti itu ? bukankah kita sudah berteman, lalu mengapa kau bisa bicara seperti itu ?" ucap Chika dengan bersedih.

__ADS_1


"Bukan begitu Chika, maksud ku, aku aku hanya takut keluargamu akan melarang aku untuk berteman dengan mu, itu saja." jawab Serli dengan gugup.


"Jangan khawatir soal itu, Misel juga bukan orang yang kaya, ia juga masuk ke SMA Golden A&H karena beasiswa. Tapi kami berteman dan keluarga ku tidak keberatan akan hal itu."


"Jadi kau jangan cemas, aku tidak dilarang untuk berteman dengan siapapun. Ayo cepat masuk jangan takut ! selama ada aku kau akan aman." ucap Chika sambil menarik tangan Serli.


Dengan ragu, Serli melangkahkan kakinya mengikuti Chika masuk kedalam rumah mewah itu.


Terbayang kembali bagaimana ia saat itu. Ia disekap dalam ruangan kosong dan kotor dan lebih parahnya lagi, ia hampi saja kehilangan mahkota paling berharga.


Tanpa ia sadari tubuhnya gemetar karena ketakutan. Dan hal itu di lihat oleh Chika. Namun Chika seolah tak melihat apa yang terjadi pada Serli.


Dengan penuh semangat ia mengajak Serli masuk kedalam kamarnya. Ketika memasuki kamar yang begitu mewah dan luas itu. Mulut Serli menganga karena takjub melihat desain kamar yang begitu bagus, dengan dominasi warna merah muda. Kamar yang terlihat bak kamar seorang putri dalam negeri dongeng.


"Serli inilah kamar ku. Aku biasanya bersama Misel menghabiskan waktu berdua disini. Jika kau merasa haus atau kau ingin menikmati buah atau makanan ringan, ambil saja di kulkas itu."


"Jangan sungkan kau boleh mengambilnya sesuka hati mu. Aku mandi terlebih dahulu, kau tunggu aku sebentar, Ok !" ucap Chika.


Kini ia begitu baik, bahkan ia memperlakukan Serli seperti sahabat karibnya sendiri. Perlahan Serli duduk di sofa sambil memperhatikan sekelilingnya.


"Serli, jika kau bosan, kau bisa menyalakan televisi sambil menunggu aku mandi, dan ambilah apa yang kau inginkan di kulkas itu. Jangan sungkan anggap saja seperti rumah mu sendiri." ucap Chika dari balik pintu kamar mandi.


Setelah berkata seperti itu, ia kembali masuk dan mengunci kamar mandi tersebut. Setelah itu ia menyalakan kran dan terdengar suara gemericik air dari kamar mandi.


Setelah itu ia segera menelfon sang ayah, yang saat ini masih beristirahat di kamar pribadinya.


"Halo, ayah, aku sudah berhasil membawa Serli ke rumah ini. Saat ini ia masih berada di dalam kamar ku." ucap Chika dengan berbinar-binar.


"Apa yang kau katakan ? bagaimana kau bisa dengan cepat membawa gadis itu ke rumah ini ?" tanya tuan Fernandez dengan penasaran.

__ADS_1


"Itu gampang sekali, aku hanya menawarkan sebuah persahabatan dengannya. Setelah itu ia dengan suka rela ikut bersama dengan ku." jawab Chika.


"Kau mang putri yang ayah banggakan. Kau bahkan begitu gesit dalam melakukan tugasmu. Apa yang harus ayah lakukan untuk mu, Hem ?" tanya tuan Fernandez dengan begitu bahagia.


Gadis yang selam ini ia inginkan, kini tengah berada di dalam perangkap putri kesayangannya. Maka ia kan memberikan hadiah untuk kerja kerasnya itu.


"Apakah ayah melupakan janji ayah ? bukankah ayah telah berjanji akan mendapatkan Arian untuk ku ?" tanya Chika dengan kesal.


"Ayah tidak lupa hal itu sayang, ayah hanya ingin memberikan hadiah kecil untuk putri kesayangan ayah ini." jawab tuan Fernandez.


"Baiklah, aku akan memikirkan hal itu. Sekarang aku harus bagaimana ? apakah aku harus mengantarkan Serli, atau aku harus menunggu sebentar lagi ?" tanya Chika.


"Kau tunggu sebentar lagi, ayah akan meminta pelayan untuk menyiapkan makan malam kita. Setelah siap ayah akan memanggilmu berserta Serli." jawab tuan Fernandez.


"Makan malam ?" tanya Chika bingung.


"Iya, makan malam untuk menghormatinya sebelum ayah melakukan sesuatu untuk menyelesaikan misi ayah."


"Dan ayah ingin ia benar-benar merasa bahwa kau adalah sahabat terbaiknya." jelas tuan Fernandez.


"Baiklah, aku akan menunggu. Tapi jangan terlalu lama, aku tidak suka berpura-pura baik dengan gadis miskin itu." jawab Chika kemudian ia segera menutup teleponnya.


Setelah itu ia segera mandi, setelah selesai ia segera berganti baju kemudian ia keluar menemui Serli.


"Maaf, aku terlalu lama. Sekarang giliran mu, kau mandi terlebih dahulu agar lebih segar." ucap Chika dengan begitu ramah.


"Tapi aku harus segera pulang, aku takut orang tuaku akan mencari ku." jawab Serli.


"Sekarang kau hubungi ayahmu dan katakan kepadanya bahwa kau sedang berada di rumah teman. Dan kau akan ku antar setelah kita selesai makan malam." jawab Chika dengan tersenyum.

__ADS_1


"Apakah, ayahmu tidak keberatan ?" tanya Serli dengan ragu.


"Tidak akan ! untuk itu kau mandi terlebih dahulu dan pakailah pakaian yang telah aku siapkan untuk mu. Agar ayahku tidak merasa risih dengan kondisi mu saat ini." jawab Chika dengan jujur.


__ADS_2