
Arian segera meninggalkan ruang Kepala Sekolah setelah mendapatkan tugas untuk mempersiapkan acara ulang tahun Sekolah. Ia segera mencari beberapa referensi terkait untuk acara tersebut.
Arian juga sangat penasaran dengan pemilik Sekolah yang sebenarnya, karena sejauh ini belum di ketahui oleh publik siapa sebenarnya pemilik Sekolah tersebut. Hanya sang Kepala Sekolah yang mengetahuinya.
Arian ingin memberikan yang terbaik untuk acara ulang tahun Sekolahnya tersebut, ini adalah kesempatan bagi seluruh siswa dan siswi SMA yang berprestasi, karena mereka akan mengenal lebih dekat siapa pemilik sekolah sebenarnya.
Arian duduk di Perpustakaan untuk mencari referensi acara tersebut, jari jemarinya berselancar di atas keyboard. Ia ingin membawa beberapa referensi dari sekolah - sekolah lain sebagai bahan untuk meeting OSIS yang akan ia adakan.
Sebuah acara yang ia pikirkan adalah panggung seni, Semua siswa dapat berperan dalam acara tersebut.
Disaat Arian tengah fokus dengan keyboardnya, datanglah Deo sahabat dekatnya.
"Hai, serius banget, emangnya ada tugas apa dari Kepala Sekolah ? sampai-sampai kau tidak masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran." tanya Deo sambil duduk di samping Arian.
"Sebentar lagi acara ulang tahun Sekolah kita, nah aku diminta untuk menyiapkan acara agar lebih meriah, soalnya acara ulang tahun kali ini berbeda." jawab Arian.
"Apa bedanya ?" tanya Deo dengan santai.
"Bedanya pada acara kali ini, pemilik Sekolah kita akan hadir dan beliau sendiri yang akan memberikan beasiswa kepada para siswa yang berhak." jelas Arian.
"Wah kalau begitu kita harus membuat acara kali ini berbeda dari acara tahun-tahun sebelumnya. Asal kau tahu pemilik Sekolah ini masih sangat muda, siapa tau jika kita sukses dengan acara tersebut kita bisa lebih dekat dengan beliau."
"Sukur-sukur bisa jadi pacarnya. Kan hal itu akan menguntungkan bagi kita, dengan begitu masa depan yang cerah sudah ada di depan mata." ucap Deo sambil tersenyum membayangkan bahwa pemilik sekolah tersebut adalah seorang wanita cantik.
"Terus aja berkhayal ! dari mana kau tau kalau pemilik sekolah kita masih muda dan beliau adalah seorang gadis cantik ?" tanya Arian sambil menepuk punggung sahabatnya itu.
"Ya berharap hal yang baik tidak Maslah bukan. Aku sih berharapnya demikian." jawab Deo dengan jujur.
__ADS_1
"Kau ini, masih pagi juga sudah berkhayal. Lebih baik kau bantu aku untuk memikirkan acara agar pesta ulang tahun kali ini lebih meriah dari acara tahun-tahun sebelumnya." ucap Arian lagi.
"Em ... bagaimana jika kita mengadakan acara seni, misalnya kita adakan drama cinta Romeo dan Juliet." usul Deo.
"Aku juga berfikir demikian, tetapi kalau kisahnya Romeo dan Juliet sudah tidak asing, maka ceritanya sudah bisa ditebak oleh penonton, sehingga kurang seru." jawab Arian.
"Ya kita ganti aja jalan ceritanya, misalnya kisah cinta Antara Deo dan Chika. Sebuah kisah cinta yang penuh dengan perjuangan dan diwarnai dengan derai air mata." jawab Deo.
"Kalau kisah cinta itu, pasti bisa ditebak oleh penonton. Soalnya bukan sebuah cerita tetapi hanya sebuah curahan hati seorang pria yang tak mampu untuk mengatakan cinta."
"Dan dalam cerita itu, sama sekali tidak ada perjuangan yang ada air mata karena sang pemeran utamanya hanya bisa menangis karena rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan." jawab Arian.
"Kau ini seharusnya mendukung aku sebagai sahabat bukannya malah meledek. Seandainya ada kesempatan pasti akan ku kejar cintanya Chika si ketua geng." jawab Deo.
"Oke kalau begitu akan aku berikan kesempatan itu. Dan kau harus membuktikannya kepada kita semua." ucap Arian sambil tersenyum menggoda sahabatnya itu.
"Yang benar saja kau, kapan aku bisa bersama dengan Chika." jawab Deo seakan tak percaya.
"Nah itu baru namanya teman ! dari dulu kek punya pikiran seperti itu." jawab Deo dengan antusias.
Keduanya kemudian melanjutkan untuk membahas acara apa yang akan mereka suguhkan untuk merayakan acara ulang tahun sekolah mereka.
Sementara Airin kembali lagi ke dalam kelasnya setelah berbincang-bincang dengan sang Kepala Sekolah yang merupakan sahabat dari ayahnya.
Disaat Airin memasuki ruang kelas tersebut, guru yang bertugas di kelasnya sudah masuk terlebih dahulu.
"Airin dari mana saja kau sehingga baru masuk ke dalam kelas saya. Apakah kau sengaja ingin menghindari mata pelajaran Matematika ini ?" tanya sang guru dengan sinis.
__ADS_1
"Maaf Bu bukan begitu, tadi kebetulan saya di panggil Kepala Sekolah Bu. " jawab Airin.
"Untuk apa kau dipanggil Kepala Sekolah ? apakah kau menanyakan tentang beasiswa mu ?" tanya sang Guru.
"Mengapa ibu berkata seperti itu ?" tanya Airin dengan sangat heran. Bagaimana bisa seorang Guru berbicara seperti itu.
"Iya Bu, pasti dia bertanya soal beasiswanya, dia pasti ingin mengetahui sampai kapan ia bisa mendapatkan beasiswa agar bisa tetap bersekolah di sini." jawab Misel.
"Bukan seperti itu, ia menanyakan apakah beasiswa yang ia peroleh bisa di terima dalam bentuk uang tunai. Karena ia sudah bingung mau mencari uang dari mana untuk menggantikan Ponsel Misel yang ia hancurkan." jawab Chika lagi.
"Paskah benar begitu Airin ? apakah kau telah merusak ponsel milik Misel ? sehingga kau menanyakan tentang beasiswa kepada Kepala Sekolah ?" tanya Sang Guru dengan penuh selidik.
"Tidak Bu bukan seperti itu, yang merusak ponsel Misel adalah Chika. Karena yang melemparkan tas milik Misel adalah Chika." jawab Airin.
"Semua itu karena ulah mu dasar tukang sapu." jawab Chika mencoba membela diri.
"Tukang sapu ? siapa tukang sapu yang kau maksud Chika ?" tanya sang Guru lagi.
"Siapa lagi kalau bukan Airin Bu ! apakah ibu belum membaca yang menjadi trending topik di Mading Sekolah kita ? di sana dipasang foto-foto yang membuktikan bahwa ia adalah tukang sapu jalanan." jelas Chika.
"Apakah benar demikian Airin ? kalau kau hanya tukang sapu jalanan mengapa kau bisa masuk ke Sekolah yang elit seperti sekolah ini ?"
" Apakah kau melakukan sesuatu atau apa yang membuat seseorang mau memasukkan kamu ke Sekolah ini ?" tanya sang guru.
" Bisa jadi seperti itu Bu "
"Mungkin ia masuk karena ia mendapatkan beasiswa dari donatur sekolah kita."
__ADS_1
"Mungkin karena ia adalah siswa yang berprestasi di sekolah sebelumnya sehingga ia diberi kesempatan untuk masuk ke Sekolah kita." ucap beberapa siswa yang lainnya.
"Intinya dia bisa masuk ke sekolah ini karena belas kasihan donatur sekolah ini. Seandainya aku tau bahwa donatur itu adalah ayah ku, maka saat ini juga aku akan meminta ayahku untuk segera mencabut beasiswa untuk tukang sapu seperti dia." ucap Chika dengan menatap tajam ke arah Airin.