
Jangan menyia-nyiakan waktu yang kita miliki hanya untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, lebih baik gunakanlah waktu yang kita miliki untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat baik bagi kita sendiri ataupun untuk orang lain.
Jangan sampai kita menyesal dikemudian hari, karena kita tidak bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin.
Kalimat itu yang selalu membuat Airin ingin bisa bermanfaat bagi orang lain. Setelah selesai membantu Ibu Iyem untuk membereskan puing-puing rumah yang terbakar, Airin segera melakukan pekerjaannya sebagai tukang sapu jalan.
Ia tidak ingin hanya berpangku tangan menunggu bantuan dari orang lain, ia tidak ingin jika gaji yang diterima oleh ibu Iyem dipotong karena ia tidak bekerja.
Dengan penuh semangat ia mengerjakan apa yang menjadi tugasnya, sambil bersenandung ia melakukan pekerjaan itu. Meskipun ia memiliki segalanya namun pekerjaan yang ia lakukan tidak membuatnya malu atau jijik sama sekali.
Sehingga semua pekerjaan yang ia kerjakan selesai dengan hasil yang memuaskan. Disaat ia sedang beristirahat mang Udin datang menghampirinya.
"Neng Airin, ini minumlah dahulu dan makanlah sedikit makanan ini untuk mengembalikan tenaga yang telah terkuras tadi." ucap mang Udin dengan tersenyum.
"Terimakasih mang, ngomong-ngomong mang Udin mengapa ada disini ?" tanya Airin sambil menerima bungkusan dari mang Udin.
"Iya neng, setiap seminggu sekali mang Udin teh harus membeli obat, agar mang Udin tetap bisa bekerja." jawab Mang Udin.
"Membeli obat, memangnya mang Udin sakit apa ?" tanya Airin.
"Mang Udin teh terkena sakit paru-paru neng, dahulu sewaktu Manh Udin masih muda mang Udin adalah seorang perokok berat neng, untungnya dari pemerintah memberikan obat secara gratis."
"Mang Udin harus meminum obat itu selama enam bulan tanpa boleh terputus agar penyakit mang Udin bisa sembuh total." jelas mang Udin.
"Lalu obat apa yang mang Udin beli ? bukankah obat untuk paru-parunya gratis ?" tanya Airin.
"Ini mah multi vitamin neng, kata Dokter yang ada di Puskesmas mang Udin harus mencukupi kebutuhan gizi dan juga vitamin agar bisa cepat sembuh dan tetap sehat." jawab mang Udin dengan jujur.
Airin tersenyum melihat semangat dari mang Udin, meskipun ia hanya bekerja sebagai tukang kebun di Sekolah milik Airin, tetapi beliau selalu menyisihkan sedikit uangnya untuk menjaga kesehatannya dengan cara membeli beberapa produk multi vitamin.
"Lalu bagaimana mang Udin selama ini, maksud Airin mang Udin membeli obat ini menggunakan kendaraan apa ?" tanya Airin lagi.
__ADS_1
"Mang Udin berjalan kaki neng, biar bisa menghemat biaya. Dari pada uangnya untuk bayar angkutan umum lebih baik di gunakan untuk yang lainnya neng." jawab mang Udin.
"Berjalan kaki ? memangnya tidak jauh mang tempat membeli obatnya ?" tanya Airin lagi.
"Ya lumayanlah neng, tapi hitung-hitung sambil berolahraga." jawab mang Udin dengan tersenyum.
"Mang Udin tidak lelah, bukankah sebelum keluar tadi mang Udin sudah bekerja, lalu berjalan kaki dalam jarak yang jauh." ucap Airin.
"Segala sesuatu yang kita kerjakan dengan ikhlas tidak akan terasa berat neng, sama halnya dengan neng Airin, setelah pulang Sekolah neng Airin langsung bekerja. Memangnya neng Airin tidak capek ?" tanya mang Udin.
Lalu keduanya tertawa dan berbincang-bincang, menceritakan pengalaman mereka masing-masing menjadi seorang tukang bersih-bersih.
Sebuah pekerjaan yang dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, namun pekerjaan itu akan mempunyai dampak yang besar bagi seluruh orang di lingkungan sekitarnya.
Bayangkan saja jika mereka tidak ada, bagaimana keadaan Sekolah atau fasilitas umum lainnya ? pasti akan tampak sangat kumuh karena tidak ada yang mau merawat dan membersihkannya.
"Maafkan saya mang, seharusnya saya memikirkan kesejahteraan semua orang yang bekerja bersama saya."
"Ternyata masih ada yang terlewatkan oleh saya mang, sekali lagi maafkan saya Mang." ucap Airin dalam hati.
Setelah mang Udin berlalu meninggalkan Airin, ia segera menghubungi Kepala Sekolah.
"Selamat siang om, maaf mengganggu waktunya sebentar om." ucap Airin.
"Selamat siang, apakah ada yang bisa om bantu ?" jawab Om Bima.
"Begini Om, Airin ingin meminta tolong. Jika om Bima sudah senggang tolong belikan sebuah mobil untuk mang Udin tukang kebun di Sekolah kita om." jawab Airin.
"Mobil ? tetapi mang Udin tidak bisa mengendarai sebuah mobil Airin, bagaimana jika kita belikan sepeda motor saja ? om rasa mang Udin bisa mengendarainya." jawab om Bima.
"Baiklah om jika itu yang terbaik, yang penting jangan sampai terlalu lama ya om, kasihan Mang Udin, beliau berjalan kaki jika pergi kemana-mana." jawab Arin.
__ADS_1
"Ok, besok pagi kau bisa melihatnya. Sekarang juga om akan segera pergi untuk membeli sepeda motor untuk mang Udin." jawab om Bima.
"Baik om, terimakasih banyak untuk semuanya." jawab Airin, kemudian ia segera menutup panggilan tersebut.
Setelah itu ia kembali melanjutkan pekerjaannya, agar bisa segera pulang untuk membantu ibu Iyem di rumah pak RT.
Sementara Chika dan juga Misel, segera meninggalkan Sekolah setelah jam pulang, mereka menuju salah satu mall untuk berbelanja.
Misel ingin membeli sebuah HP untuk mengganti miliknya yang rusak dalam insiden dikelas kemarin.
Saat mereka dalam perjalanan, mereka melihat Airin yang sedang bersiap-siap untuk pulang. Mereka segera menghentikan mobilnya tepat di hadapan Airin.
"Hai tukang sapu jalan ! kau harus bekerja lebih keras lagi agar kau bisa segera mengganti Hpku yang telah kau rusak." ucap Misel setelah berada di depan Airin.
Sementara Airin hanya mengerutkan keningnya tanda ia tidak memahami apa yang dikatakan oleh Misel.
"Kau jangan lupa ingatan ! bukankah kau melihat sendiri bahwa HP Misel rusak dalam insiden kemarin !" ucap Chika dengan mendorong kepala Airin dengan jarinya.
"Bukankah kau yang melemparkan HP Misel ? lalu mengapa kau bilang bahwa aku yang merusaknya ?" tanya Airin.
"Itu semua karena ulah mu, seandainya kau tidak banyak bertingkah maka kejadian itu tidak akan terjadi."
"Oleh sebab itu kau yang harus bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi termasuk rusaknya Hp Misel." jawab Chika dengan sangat jelas.
"Tetapi aku tidak mau melakukan hal itu, karena itu bukan kesalahan ku maka aku tidak akan bertanggung jawab." ucap Airin dengan tegas.
"Terserah kau mau bilang apa ! yang pasti aku bisa mengambil semua gaji mu atas bantuan dari Ayahku." jawab Chika dengan tersenyum sinis.
"Jika kau melakukan hal itu, maka kau harus bertanggung jawab atas tindakan mu itu." jawab Airin.
Kemudian ia segera melangkah meninggalkan mereka berdua yang terbakar oleh api amarah, yang akan membuat akal sehat mereka hilang.
__ADS_1