
Terkadang seseorang menyesali sesuatu yang terjadi dalam hidupnya, sehingga ia merasa seakan tak mau lagi untuk melanjutkan mimpi yang pernah ia rangkai.
Kesedihan Serli semakin dalam saat ia teringat perjuangan orang tuanya agar ia bisa bersekolah. Merupakan sebuah kebanggaan saat ia berhasil masuk ke Sekolah Golden A&H dan mendapatkan beasiswa.
Hal itu bukan saja meringankan biaya sekolahnya tetapi juga dapat mencukupi biaya sekolah adiknya yang baru masuk ke sekolah tingkat pertama.
"Jika aku tidak melanjutkan pendidikan di sekolah itu, bagaimana aku bisa mencukupi biaya pendidikan adikku."
"Tetapi jika aku tetap bersekolah bagaimana aku bisa berjalan dihadapan semua teman-teman ku?"
"Apa yang harus aku lakukan ? haruskah aku melawan mereka seperti Airin ? tetapi bagaimana nasib keluarga ku nantinya." batin Serli dengan menitikkan air matanya.
Disaat Serli tengah asik dengan kesedihannya, Deo yang kebetulan melintas di tempat tersebut melihatnya.
"Bukankah itu seragam sekolah Golden ? lalu siapa gadis itu ? mengapa ia berada di sini disaat jam Sekolah ? apakah ia bolos sekolah ?" tanya Deo sambil memperhatikan Serli dengan seksama.
"Lebih baik aku ke sana saja. Siapa tau aku bisa membantunya dia terlihat sedang bersedih." ucap Deo sambil berjalan mendekati Serli.
"Bolehkah aku duduk di sini ?" tanya Deo.
Kemudian ia langsung duduk tanpa mendapatkan jawaban dari Serli.
"Maaf ya aku langsung duduk saja, habisnya kau lama sekali menjawabnya. Ngomong-ngomong mengapa kau berada di sini ? bukankah ini masih jam Sekolah."
"Kalau saya lihat seragam yang kau gunakan adalah dari sekolah Golden. Artinya kita satu sekolah."
"Bedanya saat ini aku sedang ijin karena aku harus menjaga adikku di rumah sakit, sedangkan kau disini ?" tanya Deo sambil memperhatikan Serli yang menundukkan kepalanya.
"Aku hanya ingin sendiri." jawab Serli singkat.
"Kau ingin sendiri tetapi memilih untuk berada di taman bermain. Apakah kau ingin bermain sendiri atau kau ingin mengenang masa kecilmu sendiri ?" tanya Deo.
Serli hanya menatap Deo sekilas kemudian ia menundukkan kepalanya lagi.
__ADS_1
"Jika kau adalah salah satu siswa di Golden A&H pasti sebentar lagi kau akan tau mengapa aku berada di sini." batin Serli.
"Maaf jika perkataan ku kurang berkenan, tetapi jika boleh tau mengapa kau menangis ? sebagai seorang lelaki aku tak akan tega melihat seorang wanita menangis pilu seperti ini." ucap Deo asal.
"Nona kenalkan aku Deo, salah satu siswa dari Golden A&H. Aku satu kelas dengan Arian sang ketua OSIS, yang sangat populer di Sekolah manapun." ucap Deo lagi.
Serli tersenyum kemudian ia hanya menggelengkan kepalanya melihat Deo yang begitu percaya diri.
"Apakah kau tidak percaya dengan ucapan ku tadi ? kalau kau tidak percaya aku bisa menghubungi Arian. Dia adalah sahabatku sejak masih kecil dulu."
"Jadi dia pasti akan mengangkat panggilan dari ku sang sahabat sejatinya." ucap Deo sambil menggerakkan kedua alisnya.
"Iya aku percaya. Tapi tidak perlu kau hubungi kak Arian. Saat ini mungkin ia masih sibuk dengan pelajarannya." jawab Serli.
"Kau salah ! Arian saat ini pasti ada di perpustakaan. Dia sedang sibuk mempersiapkan acara ulang tahun sekolah kita."
"Ngomong-ngomong siapa namamu ? sepertinya aku belum pernah melihat mu, apakah kau siswi baru yang menjadi perbincangan hangat di sekolah kita ?" tanya Deo.
"Bukan aku bukan siswi baru. Siswi baru itu bernama Airin, dia begitu cerdas dan sangat cantik, orang tidak akan percaya bahwa ia adalah tukang sapu jalan." jelas Serli.
"Kenalkan aku Serli." jawab Serli sambil mengulurkan tangannya.
"Aku Deo." jawab Deo sambil menjabat tangan Serli.
Keduanya kemudian tersenyum dan menatap lurus ke depan. Melihat anak-anak yang bermain dan tertawa bersama dengan teman-teman mereka.
"Kau cantik jika tersenyum. Meskipun air mata mu masih terlihat, setidaknya kau telah menunjukkan senyum mu."
"Ingatlah saat kita kecil dulu kita menginginkan agar cepat tumbuh dan lekas menjadi dewasa. Dan saat ini pasti kau berfikir ternyata dewasa itu tak seindah yang kita bayangkan dulu."
"Sebenarnya baik masih kecil ataupun sudah menjadi dewasa, hidup itu tetap sama. Kadang ada suka kadang ada duka."
"Ingatlah satu hal, semakin pekat malam maka semakin dekat ia dengan pagi. Jadi haruslah air mata mu dan tersenyumlah menyambut dunia."
__ADS_1
"Katakan kepada dunia bahwa kau mampu untuk melanjutkan perjalanan ini meskipun di depan sana masih ada banyak jalan berliku penuh duri." ucap Deo dengan santun.
"Mungkin kau bisa berbicara seperti itu karena kau tidak tau seberapa berat beban hidup yang harus aku tanggung." ucap Seli sambil menghembuskan nafasnya kasar.
"Jika beban yang kau tanggung lebih berat dari beban yang aku tanggung. Artinya Allah lebih percaya kepada mu dari pada aku."
"Allah percaya bahwa kau mampu dengan semua beban yang berat saat ini. Jadi tetaplah berfikir positif agar energi positif selalu bersamamu." jawab Deo.
"Tumben aku bisa sebijak ini. Apa mungkin sebenarnya aku ini mempunyai kelebihan ? atau aku sebenarnya memang salah satu orang yang bijaksana." batin Deo.
"Kau benar, seharusnya aku bisa berfikir positif agar energi positif itu mengikuti aku." ucap Serli.
"Kalau begitu tersenyumlah, tunjukkan kepada dunia bahwa kau mampu mengatasi semua beban yang saat ini berada di pundak mu." ucap Deo sambil menatap ke arah Serli.
Sementara Serli, hanya menatap lurus ke depan. Matanya terlihat terbuka namun terlihat begitu kosong dan hampa.
"Sebenarnya apa masalahmu, sehingga kau begitu tertekan. Seandainya aku bisa membantu pasti akan aku bantu. Aku tidak tega melihat kau seperti ini." batin Deo.
"Apakah kau mempunyai banyak waktu senggang ?" tanya Serli.
"Sebenarnya aku akan ke rumah sakit, tetapi jika kau membutuhkan bantuan aku siap membantu mu." jawab Deo dengan tulus.
"Maksud ku jika kau mempunyai waktu senggang kau bisa berada disini tetapi ... ." ucap Serli
"Tetapi jika aku sedang sibuk lebih baik aku pergi dari sini dan membiarkan mu sendiri meratapi nasib mu, begitu ?" tanya Deo.
"Bukan bukan seperti itu maksudnya. Aku hanya tidak ingin kau perduli dengan ku sementara banyak hal yang harus kau lakukan."
"Jika tidak keberatan, aku ingin mengunjungi adik mu yang sedang sakit." ucap Serli mencoba memperbaiki suasana yang mulai panas.
"Oh begitu, kalau begitu mari kita jalan sekarang. Dari pada kau menangis meratapi nasib lebih baik kau mengisinya dengan kegiatan yang lebih bermanfaat." jawab Deo dengan tersenyum.
"Ayo kita berangkat !" ucap Serli sambil berdiri dan berjalan mendahului Deo yang masih duduk.
__ADS_1
Deo tidak menyangka reaksi Serli akan seperti itu.