
"Kau memang harus mendukung aku Deo. Karena aku membutuhkan bantuan mu untuk mewujudkan konsep yang aku buat ini." jawab Arian.
"Ok, kau tinggal mengarahkan aku. Aku akan melakukan yang terbaik untuk sahabat ku ini." jawab Deo dengan tulus.
"Terimakasih teman, kau memang yang terbaik." jawab Arian.
"Lalu kapan aku akan memulai menyiapkannya ?" tanya Deo.
"Mulai besok. Aku ingin sebelum acara ulang tahun sekolah kita, dia sudah resmi menjadi kekasih ku. Dan aku ingin menyiapkan semuanya bersamaan dengan acara ulang tahun sekolah kita."
"Sekali mengayuh dayung, Dua pulau terlampaui. Bukankah begitu lebih baik.' ucap Arian dengan tersenyum.
"Ok, aku setuju ! artinya saat ini kita ada waktu untuk sekedar menjenguk tuan Fernandez ?" tanya Deo.
"Sebenarnya ada apa dengan mu kawan ? mengapa kau begitu antusias untuk mengunjungi mereka." tanya Arian.
"Aku masih penasaran dengan keluarga itu, dan aku juga penasaran siapa yang bisa menghukum tuan Fernandez yang kejam itu." jawab Deo dengan jujur.
"Baiklah setelah ini kita akan kesana. Semoga kau tidak ileran karena keinginan mu sudah aku kabulkan." jawab Arian dengan pasrah.
"Kau pikir aku wanita hamil yang masih ngidam !" ucap Deo seakan tak percaya dengan sahabatnya itu yang tega mengatakan begitu.
"Ya buktinya kau seperti wanita yang sedang ngidam." jawab Arian sambil merapikan laptopnya.
Deo berdiri sambil melemparkan bantal yang ada di sofa kearah Arian. Dengan sigap Arian menghindar dan keduanya saling lempar bantal sehingga kamar yang tadinya rapi sekarang terlihat begitu berantakan.
Setelah puas keduanya kembali' merapikan kamar tersebut agar terlihat rapi seperti sebelumnya.
Setelah itu keduanya bersiap-siap untuk mengunjungi tuan Fernandez di Rumah Sakit. Sedangkan Chika yang terbangun lalu bersiap untuk pulang.
Seperti yang telah dipesankan oleh sang ayah agar dia beristirahat di rumah dan Misel yang akan menjaga tuan Fernandez.
Setelah semuanya siap, Chika segera meninggalkan tempat tersebut. Sementara Misel membantu tuan Fernandez untuk membersihkan diri.
Setelah selesai keduanya menikmati makan malam yang telah dipesan secara online. Keduanya sangat menikmati kebersamaan ini, terlihat begitu romantis.
__ADS_1
Misel memperlakukan dan melayani tuan Fernandez layaknya suaminya sendiri, begitu juga sebaliknya.
"Misel, aku puas dengan pelayanan mu. Kau sangat mahir melayani aku baik di ranjang dan juga yang lainnya." ucap tuan Fernandez.
"Kalau begitu cepatlah sembuh agar selang infus itu tidak menghalangi pergerakan kita di ranjang." jawab Misel dengan senyum yang menggoda.
"Kau benar-benar sangat menggoda Misel. Tapi biarkan makan ini turun terlebih dahulu baru kita lanjutkan di atas ranjang. Aku ingin kau memberikan yang terbaik dan dengan gaya yang lebih menantang." ucap tuan Fernandez.
"Apakah tuan yakin bisa mengimbanginya ? bukankah selang infus itu sangat menggangu pergerakan kita. Bagaimana bisa aku melakukan gaya yang lebih menantang tuan." jawab Misel sambil mengedipkan matanya.
"Kau tunggu setelah aku keluar dari sini, akan aku buat kau tak bisa lagi berjalan dengan baik karena permainan ku." ucap tuan Fernandez.
"Aku akan menantikan saat itu tuan." jawab Misel dengan suara yang membangkitkan gairah.
"Kau !." ucap tuan Fernandez dan langsung menarik Misel dalam pelukannya.
Dengan gerakan yang cepat, keduanya sama-sama melemparkan kain yang menutupi tubuhnya. Keduanya saling membelit seperti sebuah tanaman yang merambat.
Tanpa memperdulikan dimana mereka berada sekarang. Yang pasti semua hasrat yang ada harus segera di tuntaskan. Ruangan yang tadinya dingin kini berubah panas karena gerakan dan permainan yang mereka ciptakan.
Tuan Fernandez menuntut Misel untuk melakukan lebih sehingga Misel yang mengendalikan permainan itu.
Tanpa aba-aba mereka menyingkir dari depan pintu agar mereka tidak mendengar suara-suara manja penuh kenikmatan itu.
Sementara Arian dan juga Deo telah sampai di parkiran. Mereka segera turun dan berjalan menuju ruang perawatan tuan Fernandez.
Dengan langkah yang santai keduanya menuju ruangan dimana kedua insan berbeda generasi itu bergulat mencari kenikmatan masing-masing.
Deo membawa parsel buah yang mereka beli untuk buah tangan. Setelah sampai keduanya saling menatap karena mereka tidak melihat pengawal yang menjaga di depan pintu.
"Apakah tuan Fernandez sudah pulang ?" ucap mereka secara bersamaan.
"Kita langsung masuk saja, jika kosong kita bisa menjenguk beliau di kediamannya lain waktu." usul Deo.
"Ok." jawab Arian.
__ADS_1
Lalu Deo mengetuk pintu sebelum masuk, namun karena tidak ada jawab mereka menunggu sesaat.
Keduanya saling pandang karena mendengar suara-suara yang belum pernah mereka dengar.
Deo semakin penasaran dengan suara-suara itu. Ia lalu mengetuk pintu kembali kemudian membuka pintu.
Alangkah terkejutnya mereka saat mereka melihat adegan panas di ranjang itu. Kedua ingsan yang masih menikmati keindahan dan juga kenikmatan itu tidak menyadari bahwa mereka telah menjadi tontonan dua pemuda yang masih lugu dalam hal itu.
Dengan cepat keduanya segera menutup pintu dan juga kedua matanya. Sehingga parsel ditangan Deo jatuh dan menimpa kakinya.
"AW !" teriak Deo.
Kemudian kedua penjaga yang menyingkir itu segera kembali karena mendengar suara teriakan dari depan pintu ruang perawatan Tuan Fernandez.
"Apa yang kalian lakukan disini ?" tanya penjaga itu dan segera menarik keduanya agar menjauh dari tempat itu.
"Maafkan kami, kami hanya ingin menjenguk tuan Fernandez dan tanpa sengaja melihat adegan itu." jawab Deo dengan jujur.
"Mengapa kalian nekat membuka pintu ?" tanya penjaga itu tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
"Kami sudah mengetuk pintu beberapa kali dan tidak ada jawaban, dan kami tidak melihat kalian berjaga di depan pintu jadi kami pikir kamar itu sudah kosong." jawab Arian.
"Sudahlah lebih baik kalian segera pergi dari sini dan kembalilah besok siang. Saat ini waktu yang tidak tepat untuk berkunjung." jawab penjaga itu.
"Baiklah kami akan segera pergi. Maaf telah mengganggu. " ucap Arian kemudian ia segera menarik Deo dan segera meninggalkan tempat tersebut.
"Ah sekarang mataku sudah ternoda, tanpa sengaja aku melihat adegan yang luar biasa itu." ucap Deo seolah ia adalah korban.
"Bukankah kau suka ?" tanya Arian sambil membuka pintu mobil dan segera memasang sabuk pengaman.
Deo segera mengikuti Arian dan keduanya segera meninggalkan tempat itu.
"Arian sepertinya aku mengenal wanita dalam adegan panas tadi." ucap Deo.
"Siapa ? apakah sebenarnya kau mengenal banyak pemeran adegan panas seperti itu ?" tanya Arian sambil tetap fokus mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
"Bukan begitu, tapi sepintas wajah wanita itu seperti Misel." jawab Deo.
"Jangan asal bicara, bukankah Misel adalah sahabat Chika. Dan lebih baik kita melupakan semua kejadian yang baru saja kita alami." ucap Arian.