29 Hari

29 Hari
Bab. 24. Pelajaran Hidup


__ADS_3

Setelah sampai di Rumah Sakit, Deo segera mengajak Serli untuk menemui keluarganya terutama sang adik yang masih terbaring lemah.


Orang tua Deo menceritakan bahwa Deo bisa bersekolah di Sekolah Golden karena mendapatkan beasiswa, bahkan beasiswa yang Diterima bisa digunakan untuk keperluan yang lainnya.


Hal serupa juga yang dialami oleh Serli. Deo tersenyum saat kedua orang tuanya menceritakan hal itu. Ia tidak memungkirinya. Bahkan ia mengucapkan banyak terima kasih kepada sang pemilik Sekolah tersebut meskipun ia belum pernah melihatnya.


Dari cerita keluarga Deo, Serli merasa lebih beruntung daripada Deo, karena keluarganya dalam keadaan sehat semuanya, berbeda dengan Deo yang memiliki adik yang menderita sebuah penyakit langka.


Namun terlepas dari semua itu, Deo adalah anak yang periang, sama sekali tidak terbayangkan bahwa Deo mengalami perjalanan hidup yang pahit.


Dari situ Serli, berfikir kembali. Seharusnya ia tidak boleh patah arang hanya karena perlakuan Chika terhadapnya. Meskipun perlakuan itu akan membuat dirinya menanggung malu.


Tetapi setidaknya, senyum dari orang - orang yang ia sayangi akan selalu terukir, dan tidak akan ada air mata yang menetes dari orang-orang yang ia sayangi itu.


Serli menarik nafasnya, kemudian ia meyakinkan diri bahwa ia harus terus melanjutkan pendidikan di SMA Golden A&H meskipun ia tau itu tak semudah yang dibayangkan.


Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya Serli berpamitan untuk undur diri. Ia kembali ke taman bermain untuk menata hati dan pikirannya.


Ia tidak ingin keluarganya mengetahui apa yang tadi pagi ia alami. Serli duduk sambil memutar-mutar pena ditangannya.


"Hai bolehkah aku bergabung ?" tanya Airin sambil tersenyum menatap Serli.


"Airin kau ... ." ucap Serli sambil menatap Airin yang berdiri di depannya dengan seragam berwarna oranye lengkap dengan semua peralatannya.


"Boleh aku ikut duduk ?" tanya Airin lagi.


"Tentu saja boleh, silakan duduk!" jawab Serli.


"Apakah sejak pagi kau berada di sini ?" tanya Airin setelah ia duduk di samping Serli.


"Tidak, tadi pagi aku beristirahat di tempat mang Udin, setelah itu mang Udin mengantarkan aku pulang."

__ADS_1


"Tetapi karena tidak ada orang di rumah aku beristirahat disini, kemudian aku bertemu dengan Deo yang kebetulan tidak masuk sekolah karena adiknya sedang sakit."


"Aku baru saja dari rumah sakit dan duduk di sini." jawab Serli.


"Oh begitu, sekarang bagaimana keadaan mu apakah jauh lebih baik ?" tanya Airin.


"Iya semuanya sedikit lebih baik. Airin apakah kau tidak merasa capek, pulang Sekolah langsung bekerja seperti ini ?" tanya Serli.


"Segala sesuatu yang kita kerjakan dengan sepenuh hati dan penuh rasa bersyukur akan terasa lebih ringan dari pada kita mengerjakannya dengan terpaksa."


"Saya tidak pernah merasa capek dalam mengerjakan ini. Dari tukang sapu jalan ini banyak hal yang bisa saya peroleh. Pengalaman, pembelajaran tentang kehidupan yang selama ini tidak pernah saya peroleh dari bangku sekolah, semua saya dapatkan disini."


"Terkadang banyak orang yang menilai pekerjaan ini dengan sebelah mata, padahal jika kita renungkan tidak semua orang dapat melakukannya."


"Butuh kesabaran dan keikhlasan untuk melakukannya. Bayangkan saja disaat kota kita mendapatkan penghargaan karena kebersihannya. Yang digadang-gadang adalah pemimpin padahal yang mewujudkan kebersihan itu lebih banyak para tukang sapu jalan itu."


"Seperti Gula yang tidak pernah mengeluh ketika ia membuat air teh atau kopi menjadi manis, ia tidak pernah marah saat yang disebut adalah kopi manis, atau teh manis bukannya Gula yang manis."


"Yakinlah bahwa Allah maha mengetahui setiap apapun yang terjadi di muka bumi ini, bahkan sehelai daun yang jatuh sekalipun atas ijin dari-Nya."


"Jadi mengapa saya harus merasa capek dalam melakukan sebuah kebaikan. Karena Allah tidak pernah tidur, Dia yang akan mengganti semuanya dengan lebih baik dengan cara-Nya." jelas Airin dengan tersenyum.


"Airin kau sungguh luar biasa, selain kau gadis yang cantik, kau cerdas ternyata kau juga memiliki pemahaman yang begitu luas, sehingga kau lebih bijak dari usiamu." ucap Serli.


"Jangan begitu Serli, kalau kau terus memuji aku, bisa-bisa aku terbang tinggi. Kalau bisa kembali sih tidak masalah tapi jika tidak bahagia coba ?"


"Kau akan kehilangan sahabat yang baik seperti aku ini." ucap Airin dengan merapikan kera bajunya.


Lalu keduanya tertawa bersama, sambil saling memukul dan saling mengejar satu sama lainnya.


"Serli sebenarnya apa yang kau sembunyikan ? mengapa wajahmu terlihat begitu tertekan. Benarkah kau hanya ingin beristirahat ?"

__ADS_1


"Besok akan aku cari tau dari mang Udin, pasti beliau tau apa yang terjadi. Setidaknya ada setitik jalan untuk mencari tau apa yang membuat Serli bolos Sekolah hari ini." batin Airin sambil tetap berlari.


"Serli cukup, kita duduk di sana saja ya sambil menikmati segelas es itu untuk menghilangkan dahaga." ucap Airin sambil mengatur nafasnya.


"Tapi aku tidak membawa uang." ucap Serli dengan menundukkan kepalanya.


"Bukankah aku yang mengajakmu ? artinya aku yang akan mentraktir mu jadi kau jangan sedih begitu."


"Asal kau tau, saat wajahmu bersedih langitpun ikut bersedih. Lihatlah awan hitam yang ada di sana itu !"


"Sebentar lagi akan jatuh, jika tidak ada angin atau matahari yang akan membawanya bersamanya." ucap Airin sambil menarik tangan Serli.


Serli tersenyum melihat Airin. Kemudian ia berjalan mengikuti Airin.


"Airin apakah kau tidak malu berteman dengan ku ?" tanya Serli ketika mereka telah duduk di atas rumput hijau.


"Mengapa aku harus malu ? sebaliknya kau malu tidak berteman dengan saya si tukang sapu ini ?" tanya Airin.


Kemudian Airin memesan dua es krim dan beberapa makanan ringan untuk mereka berdua.


"Untuk apa aku harus malu bukankah setiap pekerjaan itu mulia. Sudahlah jangan membahas tentang itu lagi. Aku berteman bukan karena pekerjaan tetapi karena kebaikan hati seseorang." ucap Serli sambil tersenyum menatap ke arah Airin.


"Nah begitu dong, kan enak dilihatnya. Tidak seperti tadi yang muka ditekuk seribu, kucel dan jelek tau. Seperti kau saja yang mempunyai segudang masalah." ucap Airin sambil menyodorkan es krim kepada Serli.


"Airin aku dengar Chika dibawa polisi, apa yang membuat ia ditahan ?" tanya Serli mencoba mengalihkan Airin agar ia tidak membahas kesedihannya.


"Chika terbukti sebagai dalang pembakaran rumah kami." jawab Airin dengan singkat.


"Jadi rumahmu dibakar oleh Chika ?" tanya Serli seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.


Airin hanya mengangguk, kemudian ia kembali nikmati es krim ditangannya. Airin tidak melihat perubahan raut wajah Serli ketika ia mengiyakan pertanyaan Serli

__ADS_1


__ADS_2