
Apapun yang terjadi roda kehidupan tetap berputar sebagai mestinya, siap atau tidak, suka atau tidak kita tidak bisa menolaknya, kita hanya bisa menjalaninya apapun yang terjadi.
Begitu juga Serli, yang beberapa hari tidak masuk sekolah karena takut akan terjadi pembalasan dari keluarga Fernandez, ia bersekolah atau tidak ia tetap saja akan menemui hari itu.
Setelah meyakinkan dirinya, ia akhirnya datang lagi ke sekolah untuk melanjutkan kehidupan yang sebenarnya.
Menjadi seorang siswi di SMA Golden A&H dan mungkin akan menjadi korban bullying dari Chika dan juga Misel, atau akan menjadi siswi pada umumnya yang datang untuk menuntut ilmu tanpa harus ketakutan setiap saat,
Saat Serli memasuki pintu gerbang sekolah, ia bertemu dengan Airin yang kebetulan juga baru saja sampai.
Airin tersenyum kemudian keduanya berjalan beriringan bersama, dengan senyum manis yang menghiasi wajah cantik mereka menuju ruang kelas. Dimana di tempat itu mereka akan memulai cerita baru hari ini.
"Serli bagaimana kabarmu setelah beberapa hari bersemedi di rumah ?" tanya Airin dengan tersenyum menggoda.
"Apaan si, aku bukannya bersemedi melainkan menenangkan diri. Sejak kejadian itu aku terus dibayangi ketakutan yang luar biasa." jawab Serli serius.
"Serli apapun yang kau pikirkan yakinlah semuanya akan baik-baik saja. Kita harus mengeratkan genggaman tangan akar bisa mendapatkan kekuatan yang luar biasa untuk menghadapi semua halang rintang yang ada di depan sana." jawab Airin sambil menggandeng tangan Serli.
"Kau benar Airin, meskipun aku tetap bersembunyi di rumah hari itu juga pasti akan datang. Hari dimana keluarga Fernandez menuntut penjelasan dari ku terkait masalah yang menimpa tuan Fernandez." jawab Serli dengan tersenyum getir.
"Maafkan aku Serli, seharusnya aku datang lebih awal agar kau aman dan tidak sempat dilihat oleh tuan Fernandez."
"Sehingga tidak akan ada yang mengetahui bahwa kau telah keluar dari ruangan itu. Tapi jangan takut ! aku akan berusaha untuk mencari jalan terbaik untuk semua ini." jawab Airin.
"Airin sebenarnya siapa dirimu ? malam itu kau terlihat berbeda. Semua lelaki itu menunduk hormat kepada mu dan bahkan kau mempunyai sebuah mobil mewah yang, ... ." belum sempat Serli menyelesaikan ucapannya tangan Airin sudah menutup mulut Serli dengan jari telunjuknya.
"Serli jangan terlalu berfikir jauh, itu hanya kebetulan saja. Semua pria itu adalah para pengawal SMA Golden kita yang akan datang tepat waktu demi keselamatan para siswa dan siswi SMA Golden A&H." jelas Airin.
__ADS_1
"Tetapi selama ini aku belum pernah melihat mereka berada di sini ?" tanya Serli dengan serius.
"Ya mana mungkin mereka ada diantara siswa untuk menuntut ilmu sama seperti kita. Mereka berada di tempat yang seharusnya."
"Sudahkah jangan berfikir terlalu jauh, lihat kelas kita sudah di depan mata. Tugas kita adalah menuntut ilmu sebagai mestinya. Dan meraih impian kita demi masa depan." jawab Airin.
"Serli kemudian mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya untuk memasuki kelas mereka.
Sebuah ruangan yang menjadi saksi, dimana banyak hal yang Serli alami. Dari menjadi seorang pelajar hingga menjadi bulan-bulanan bagi mereka yang suka menindas yang lemah.
Ada kegelisahan yang menjalar di hati Serli, namun ia tetap melangkah menuju ke bangku dimana ia biasanya duduk untuk mengikuti pelajaran.
Begitu juga Airin ia segera menuju tempatnya. Setelah beberapa saat Chika dan juga Misel datang dan masuk dengan begitu sombongnya.
Mereka menggunakan kacamata hitam, sambil tersenyum sinis melihat seluruh penghuni kelas.
Setelah itu Chika menatap Airin dengan sinis, namun Airin tersenyum menatap Chika balik. Kedua tatapan mereka bertemu.
Ada sebuah keraguan di hati Chika. Namun dengan cepat ia menatap kearah lain agar Airin tidak menyadari apa yang ia alami.
Tak lama setelah itu, bel tanda masuk berbunyi dan semuanya menjalankan peran mereka masing-masing sebagai mana mestinya..
Disaat keheningan Susana kelas, Airin membuka ponselnya dan mematikan bahwa cctv di semua titik berfungsi sebagai mana mestinya.
Airin tersenyum saat melihat Arian yang sedang fokus mengikuti pelajaran di kelasnya. Wajah tampan yang beberapa hari ini selalu menemaninya dalam beberapa momen.
Ada rasa hangat yang menjalar di hati Airin ketika senyum Arian menghiasi wajahnya dan tatapan yang tanpa sengaja bertemu meskipun hanya Airin yang menyadarinya.
__ADS_1
"Airin apa yang kau pikirkan, mengapa saat ini kau malah memikirkan Arian. Ingat Airin belum tentu Arian memiliki perasaan yang sama dengan mu, meskipun ia begitu baik."
"Kau harus ingat bahwa Arian selalu berbuat dan bersikap baik kepada semua orang, jadi kau jangan merasa GR sendiri, jangan sampai kau mempunyai harapan lebih yang pada akhirnya hanya akan menyakitimu." batin Airin.
Tanpa Airin sadari, Arian juga sedang memikirkan dirinya. Ia tersenyum bahkan merasa sedang ditatap oleh wanita cantik yang selalu menduduki tempat paling spesial di hatinya.
Arian bahkan sama sekali tidak fokus dengan materi pelajaran yang diberikan oleh sang Guru di depan.
Hati dan pikirannya melayang jauh, mencari sosok gadis cantik bermata indah yang selalu hadir dalam setiap mimpi indahnya.
"Airin sedang apa kau sekarang, apakah kau tau bahwa aku selalu memikirkan mu ?, bahkan di setiap langkahku dalam setiap detik ku selalu ada kamu dalam hati ini."
"Entah sejak kapan kau menempati ruang paling spesial di hatiku. Yang jelas saat ini kaulah pemilik hati ini." batin Arian.
Kedua insan yang berada di dalam kelas yang berbeda namun memiliki sebuah pemikiran yang sama. Sama-sama saling memikirkan satu sama lainnya dengan satu kata yang sama yaitu saling mengagumi atau bahkan tepatnya saling merindukan.
Ketika seorang anak manusia yang merasakan sebuah kerinduan dan perasaan yang sama, pasti akan merasakan hal yang sama yaitu hari yang terasa begitu lama.
Meskipun yang lain tidak merasa demikian. Namun berbeda halnya dengan Airin dan juga Arian. Mereka merasa waktu istirahat begitu lama padahal mereka hanya ingin melihat orang yang selalu mereka rindukan.
Meskipun hanya melihatnya sepintas saja, namun itu akan lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Sedangkan Chika sedang berfikir bagaimana caranya untuk bisa memaksa Serli agar mau mengatakan siapa orang yang telah menyelamatkannya dari keluarga Fernandez.
Chika memutar-mutar pena tangannya, ia sedang berfikir serius untuk menentukan langkah yang akan ia ambil untuk segera mengetahui siapa orang yang sudah berani membuat ayahnya menjadi seorang tawanan di kediamannya sendiri.
Bahkan membuat sang ayah harus berjuang untuk bisa melewati masa kritis di ruang IGD dan membuat Chika tidur di koridor rumah sakit seperti seorang gelandangan.
__ADS_1