29 Hari

29 Hari
Bab. 55. Cahaya


__ADS_3

Setelah lama panggilan Chika akhirnya di angkat juga. Dengan kesal Chika bertanya kepada penjaga tersebut.


"Sebenarnya semua orang pada kemana ha ? sejak tadi aku hubungi tidak satupun dari kalian yang mau mengangkat panggilan dari ku."


"Apa sebenarnya yang terjadi ? apakah ada sesuatu yang sengaja kalian sembunyikan dari ku ha ?" Ucap Chika tanpa basa-basi lagi.


"Maaf non saya masih di toilet, bagaimana mungkin saya menerima panggilan video dari nona." jawab Penjaga tersebut dengan gugup.


"Lalu sekarang kau ada dimana ?" tanya Chika.


"Di depan toilet non, kalau non Chika tidak percaya lihatlah sekeliling agar non Chika lebih yakin." ucap penjaga itu sambil mengarahkan kamera ke sekitar tempat dimana ia berdiri sekarang.


"Ya sudah sekarang kau kembali ke tempat mundan kata kepada ayahku bahwa aku ingin berbincang-bincang sebentar." ucap Chika.


"Sekali lagi maaf non, bukannya saya lancang tetapi tuan Fernandez telah terlelap sejak tadi. Saya tidak berani mengganggu beliau." jawab sang penjaga itu dengan sedikit bingung.


"Kau tidak perlu membangunkannya, kau hanya perlu memperlihatkan bahwa ayahku benar-benar tidur. Itu saja tak lebih." ucap Chika lagi.


"Tapi non, ... " ucap penjaga itu dengan bingung. Namun Chika tak memperdulikannya. Ia meminta agar penjaga itu segera mengarahkan kamera ponselnya ke ranjang sang ayah agar ia merasa tenang.


Dengan berat hati, penjaga itu berjalan menuju ke ruang perawatan tuan Fernandez. Ia berharap semoga apa yang mereka lakukan di dalam telah selesai agar Chika tidak mempersulitnya.


Setelah beberapa saat akhirnya, ia sampai didepan pintu dengan berat' hati ia mengetuk pintu kemudian ia membuka pintu perlahan.


Ia mengarahkan kamera ponselnya kedalam. Terlihat tuan Fernandez yang terbaring di atas ranjangnya sementara Misel sedang berada di dalam kamar mandi.


Akhirnya ia merasa lega, karena hal yang ia khawatirkan tidak terjadi. Setelah itu ia menutup pintu perlahan.


"Apakah ada lagi non yang perlu saya lakukan?" tanya penjaga itu dengan hati-hati.

__ADS_1


"Tidak, terimakasih. Tapi sampaikan kepeda Misel agar dia segera menghubungi aku." jawab Chika kemudian ia langsung menutup panggilan tersebut.


"Untung saja, jadi aku bisa bernafas dengan lega." ucap penjaga tersebut kemudian ia melakukan pekerjaannya sebagai mestinya.


Malam yang yang semakin larut, membuat semua insan berada di peraduannya masing-masing.


Malam yang begitu cerah, dengan berjuta bintang yang berkedip menawan. Bertemakan angin yang bersepoy kencang. Menanti sang Dewi malam yang remang.


Sang rembulan pun hadir mewarnai dunia. Hiasi alam yang gelap gulita. Kini terlihat begitu indah dan mempesona.


Bintang kian benerang, ikut gembira menyambut sang rembulan yang telah datang untuk mewarnai langit yang beranjak malam. Menyejukkan hati seorang insan yang duduk seorang diri di balkon rumahnya.


Seorang pria tampan menatap ke arah langit yang bertahtakan bintang, kemudian ia tersenyum saat terlintas wajah sang gadis pujaan hati tersenyum bersama sang rembulan.


"Airin, kau ibarat rembulan yang bersinar terang benderang. Kau membuat hidup ini semakin indah. Bahkan pahit dan kelamnya jalan hidup ini seakan tenggelam seiring kehadiran mu dalam kehidupan ku."


"Airin, sejak aku melihatmu. Bayang wajahmu seakan tak bisa terpisahkan dari ingatan ku. Senyum mu yang begitu tulus serta tatapan mata mu yang begitu teduh. Seakan menghipnotis ku untuk melupakan semua dan hanya terpusat pada dirimu."


"Tapi malam ini aku tidak menangis seperti malam-malam sebelumnya. Saat ini aku tersenyum karena mengingat semua tentangmu."


"Airin, terimakasih karena kau telah merubah duniaku meskipun tanpa kau sadari. Namun rasa ini dan semua ini murni dari dalam lubuk hatiku yang terdalam."


"Airin I love you." ucap Arian lirih.


Kemudian ia memejamkan matanya, menikmati cahaya bulan yang menyinari wajahnya dengan sempurna.


Di bawah cahaya sang rembulan wajah tampannya semakin memancarkan aura yang semakin membuat ia terlihat sempurna.


Deo yang juga terbangun, hanya bisa melihat sahabatnya itu dengan tersenyum. Sejak ia mengenal Arian baru kali ini pria itu tidak menangis pilu dibawah cahaya rembulan.

__ADS_1


Padahal hampir setiap malam, pria itu akan menangis karena merindukan kedua orang tuanya yang telah meninggalkan ia seorang diri di dunia ini.


Bahkan sang kakek juga ikut meninggalkannya satu tahun yang lalu. Kesedihan Arian semakin bertambah akan hal itu.


Namun malam ini, entah apa yang ia ucapkan dan ia rasakan. Yang jelas pria tampan itu tidak menangis lagi.


"Arian semoga hal ini akan bertahan untuk selamanya. Aku ikut bahagia karena kau pasti sedang merasa bahagia."


"Malam ini untuk pertama kalinya sejak aku mengenalmu, kau tersenyum tanpa air mata, tiada lagi tangis pilu yang setiap malam aku dengar."


"Arian, siapapun dia aku sangat bersyukur karena bisa merubah kehidupan mu menjadi kehidupan yang sesungguhnya. Siapapun gadis itu aku akan selalu mendukungmu untuk mendapatkan."


"Kau pantas untuk bahagia Arian, kau adalah orang kaya yang sesungguhnya. Budi pekerti dan sopan santun mu adalah cerminan dari hatimu yang terdalam. Yang jarang sekali di miliki oleh orang-orang kaya."


"Kedua orang tuamu pasti bangga karena memiliki anak seperti dirimu. Terlebih lagi malam ini mereka tidak melihat mu menetaskan air mata kesedihan lagi."


"Hanya sebuah senyum kebahagiaan yang terpancar dari wajah tampan mu. Semoga gadis itu mempunyai rasa yang sama seperti yang kau rasakan. Agar kebahagiaan mu akan abadi selamanya." ucap Deo dengan tersenyum menatap Arian.


Setelah itu, ia kembali merebahkan dirinya agar ia tidak menggangu Arian menikmati malam yang indah ini.


Sementara Arian masih betah menikmati keindahan malam di balkon. Ia tidak menyadari bahwa Deo memperhatikan dirinya dari dalam kamarnya.


Setelah lama akhirnya ia kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk dan membuka laptopnya. Untuk waktu yang lama ia menatap wajah Airin di layar monitornya.


Setelah itu ia membuka kembali pekerjaannya untuk memeriksa kondisi perusahaan keluarganya. Meskipun ia masih duduk di bangku SMA ia adalah pemilik perusahaan keluarganya.


Sejak sang kakek pergi meninggalkannya, ia memegang tanggung jawab besar itu. Awalnya ia masih bingung namun dengan bantuan Asisten pribadi sang kakek ia mampu menguasai semua.


Ia akan memeriksa semua laporan dari perusahaannya di malam hari, agar tidak menggangu waktu belajarnya. Setelah selesai ia mengirim semua laporan itu ke asisten pribadinya baru setelah itu ia kembali beristirahat.

__ADS_1


Menjemput mimpi indah, bersama sang Dewi malam. Arian membiarkan cahaya rembulan masuk ke dalam kamarnya menerangi kamar yang selama ini menjadi saksi bisu perjuangannya melewati sebuah kerinduan yang tidak bisa terobati.


__ADS_2