29 Hari

29 Hari
Bab. 76. Pekerjaan baru


__ADS_3

Chika akhirnya membuka pintu mobil belakang kemudian ia naik dan duduk di belakang kemudi dengan sedikit kecewa.


"Arian dia ?" tanya Chika sambil memperhatikan wanita yang ada di samping Arian.


"Dia calon istriku, mungkin ia terlalu lelah." jawab Arian jujur.


"Oh." jawab Chika singkat.


"Chika, sekarang kau tinggal dimana ? dan apa aktivitas mu sehari-hari ?" tanya Arian.


"Aku masih tetap tinggal di rumah yang lama, aku setia hari selalu berjualan asongan seperti ini."


"Sejak, pelayan itu mengkhianati aku dan mencuri tabunganku, aku tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi."


"Dan untuk bertahan hidup aku harus bekerja apapun. Yang penting mendapatkan penghasilan meski hanya cukup untuk makan satu kali." jelas Chika.


"Lalu bagaimana kabar ibu Iyem sekarang ?" tanya Arian lagi.


"Aku tidak tau bagaimana keadaannya sekarang. Karena terhasut oleh niat jahat pelayan ku, aku telah mengusir ibu Iyem, sejak acara ulang tahun Sekolah kita waktu itu."


"Mungkin apa yang aku alami saat ini, adalah balasan dari kejahatan yang pernah aku lakukan dulu."jawab Chika dengan jujur.


"Baiklah, ini sudah sampai di depan gang rumahmu. Maaf tidak bisa mengantarkan sampai rumah."


"Dan ini alamat perusahan Dewantara, jika kau berniat untuk bekerja datanglah besok pagi, dan kau akan mendapatkan pekerjaan mu sesuai hasil tes mu." jawab Arian.


"Terimakasih Arian. Aku pasti akan datang ke perusahaan itu." jawab Chika dengan mata yang berbinar.


Sejak ia lulus SMA, ia mencoba melamar pekerjaan di beberapa perusahaan, namun selalu saja di tolak dengan alasan tidak sesuai kualifikasi.


"Terimakasih Arian atas tumpangannya." jawab Chika setelah turun dari mobil.


Kemudian ia sengaja menutup pintu dengan sangat kuat, berharap agar wanita yang berada di samping Arian segera bangun.


Namun, Arian dengan sigap menahan pintu mobil dengan tangannya agar hal itu tidak menggangu Airin.

__ADS_1


Setelah memastikan pintu mobil tertutup sempurna dan Airin masih tetap terlelap. Arian melakukan mobilnya dengan pelan, agar Airin dapat tertidur dengan nyaman.


Sementara Chika, ia segera masuk ke dalam rumahnya. Ia membersihkan dirinya setelah itu beristirahat sejenak sebelum melakukan aktivitas sehari-hari.


Ia tersenyum membayangkan wajah tampan Arian yang saat ini lebih tampan dan terlihat begitu dewasa.


Ia kaya, tampan dan sangat baik hati. Ia berharap suatu saat nanti bisa bersanding dengan Arian untuk menghabiskan waktu hingga mereka tutup usia.


Membayangkan hal itu membuat Chika tersenyum bahagia. Ia lupa dengan semua penderitaan yang dialami selama ini.


Namun, khayalannya sirna, saat perutnya berbunyi karena lapar. Setelah itu ia segera bangkit dan mengambil nasi bungkus yang ia beli sebelum bertemu dengan Arian.


"Aku sedikit terlambat, Arian sudah mempunyai calon istri. Semoga mereka hidup berbahagia." ucap Chika kemudian ia menikmati makanan yang ada didepannya.


Saat ini Chika sudah terbiasa hidup dengan sederhana. Semua kesombongan yang ada dalam dirinya kini telah sirna tergerus oleh kejamnya kehidupan


Saat ini ia hanya bisa menjalani hari-harinya sebagai penjual asongan. Jangankan untuk bekerja di perusahaan, untuk menjadi tukang sapu jalanan aja ia tidak lulus seleksi.


Tiba-tiba ia teringat sebuah alamat yang ia terima dari Arian. Setelah itu ia segera membereskan makanannya. Setelah itu ia memeriksa saku bajunya untuk mencari sebuah kartu nama sebuah perusahaan.


Ia berharap bisa mendapatkan pekerjaan di perusahan Dewantara meskipun hanya sebagai tukang sapu atau office girl di sana.


Setidaknya ia memiliki pekerjaan tetap dan tentunya bisa mencukupi kebutuhannya sendiri.


Setelah selesai menyiapkan semuanya, ia segera memilih baju yang dipakai besok. Ia menggantung pakaian tersebut kemudian ia merebahkan dirinya di kasur hingga ia terlelap melupakan segalanya dan menjemput mimpi indahnya.


Keesokan paginya, ia segera mendatangi perusahaan Dewantara untuk melamar pekerjaan seperti yang sudah ia siapkan.


Setelah selesai sarapan ia segera pergi ke alamat yang ada dikartu itu dengan menggunakan jasa ojek online.


Setelah sampai ia beristirahat sejenak dan merapikan penampilannya. setelah yakin ia segera masuk dan menemui resepsionis dan mengatakan tujuannya datang ke perusahaan itu.


Setelah menunggu beberapa saat ia akhirnya di antar ke ruang personalia untuk melakukan beberapa tes dan interview.


Sebenarnya Chika tidak memenuhi kriteria apapun untuk menjadi karyawan perusahan Dewantara yang sangat besar itu.

__ADS_1


Namun karena permintaan dari Arian, maka Chika diterima untuk menjadi office girl di perusahaan tersebut. Dan ia boleh bekerja mulai besok pagi.


Chika keluar dengan sangat senang sekali, sehingga ia tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang mengepel lantai, dan lantai tersebut masih dalam keadaan basah.


AW ...


Teriak Chika, saat dirinya terpeleset dan jatuh tepat dihadapan seorang lelaki tampan dan juga seorang wanita cantik yang sedang membawa beberapa dokumen di tangannya.


"Maaf saya tidak sengaja dan terpeleset karena lantai masih sedikit basah." ucap Chika sambil berdiri dan menatap kedua orang yang berdiri di hadapannya.


"Chika, bukankah kau Chika Fernandez ?" tanya Serli sambil tersenyum manis menatap wanita yang ada di hadapannya.


Chika memperhatikan sejenak sambil mengingat siapa wanita cantik ini. Dan juga siapa pria tampan yang ada di sampingnya.


Setelah berfikir beberapa saat, akhirnya ia ingat bahwa wanita cantik itu adalah Serli dan juga Deo Tan sekolah dulu.


"Serli ! Deo ! kalian bekerja di sini ? lalu bagaimana dengan kabar kalian berdua ?" tanya Chika.


"Kami baik-baik saja, o ya ada apa kau datang ke perusahaan ini ?" tanya Serli.


"Kemarin aku bertemu dengan Arian secara tidak sengaja. Kemudian ia meminta aku untuk datang ke sini dan bekerja sesuai hasil tes dan interview."


"Dan besok aku mulai bekerja di sini, sama seperti kalian berdua." jawab Chika dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


"Baguslah Kalau begitu, Arian memang yang terbaik. Dan yang pasti kita bisa reunian bersama dengan yang lainnya." jawab Serli.


Sementara Deo, hanya diam saja melihat interaksi antara calon istrinya dan juga Chika teman satu sekolahnya dulu.


"Ayo, kita masuk sebelum terlambat semuanya." ucap Deo tiba-tiba.


"Baiklah Chika kami akan pergi terlebih dahulu karena banyak pekerjaan yang harus kami selesaikan."


"Yang semangat ya, dan itu adalah Misel teman sekolah kita dulu." ucap Serli sambil berlalu meninggalkan Chika seorang diri.


Chika berdiri mematung melihat, tubuh Misel yang sangat menyedihkan itu, perlahan Chika mendekati Misel yang sedang sibuk bekerja.

__ADS_1


Semakin Chika mendekat semakin terlihat wajah Misel yang terlihat sedikit lebih tua dari usianya. Chika diam membisu sambil memperhatikan setiap gerakan Misel saat mengepel lantai.


__ADS_2