29 Hari

29 Hari
Bab. 77. Makan siang istimewa


__ADS_3

Disaat Misel melihat orang yang mendekatinya, ia menoleh dan sedikit terkejut saat melihat Chika. Keduanya diam membisu diam seribu bahasa.


"Chika apa kabar ?" tanya Misel memecahkan suasana.


"Baik, kamu sendiri naga ?" tanya Chika.


Kemudian Misel menceritakan kehidupannya dengan sang buah hati, ia membesarkan anaknya seorang diri tanpa keluarga ataupun teman dekat.


Disaat ia terpuruk dan merasa putus asa, Arian datang dan menawarkan pekerjaan untuk dirinya agar bisa menghidupi anak semata wayangnya.


Setelah menceritakan semuanya, Misel tersenyum menatap wajah Chika. Kemudian ia berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Tunggu ! " panggil Chika.


Misel berhenti dan ia berbalik badan menatap ke arah Chika. Ia menunggu apa yang akan dilakukan oleh Chika.


"Misel, maafkan aku, karena selam ini mengabaikan mu dan juga adikku. Mulai besok aku juga akan bekerja di sini seperti dirimu. Kita masih bisa berteman kan ?" tanya Chika dengan sedikit ragu.


"Tentu saja, tetapi kau ditempatkan di bagian apa ?" tanya Model.


"Sama seperti dirimu, aku juga tidak mempunyai ijazah yang tinggi. Kecerdasan ku juga tidak seberapa bagus. Sejak kepergian ayah aku juga hidup seorang diri. Bahkan bekal yang diberikan oleh ayahku dibawa kabur oleh pelayan ku sendiri."


"Mungkin itu hukuman untuk diriku karena telah mengusir ibu Iyem dari rumahnya sendiri." jawab Chika dengan menunduk.


"Yang lalu biarlah berlalu, sekarang lebih baik kita mulai kehidupan ini dengan cara yang lebih baik lagi. Agar kedepannya kita akan menuai kebaikan." jawab Model lebih bijak dari pada Chika.


Keduanya kemudian saling berpelukan, dan terisak karena menyesali semua yang telah mereka lakukan.


Hal itu tak lepas dari penglihatan Deo, selaku asisten pribadi Arian. Ia akhirnya bisa tersenyum saat mengetahui bahwa Chika telah berubah menjadi lebih baik lagi.


Hal itu langsung ia sampaikan kepada Arian. Sahabat sekaligus pimpinannya.


"Tuan, baru saja saya mendengar percakapan antara Misel dan juga Chika, semoga mereka benar-benar bertaubat dan tidak akan mengulanginya di kemudian hari." ucap Deo.


"Semoga saja, tetapi kita juga tetap harus waspada terhadap segala sesuatunya." jawab Arian.

__ADS_1


"Tetapi saya juga baru mendengar bahwa selama ini ibu Iyem telah mereka usir dan tidak tau diman keberadaannya. Apakah hal ini perlu disampaikan kepada nona Airin. Karena bagaimanapun juga beliau sangat menyanyi ibu Iyem." ucap Deo.


"Sebaiknya lakukan pencarian secepatnya, dan aku akan menyampaikan hal ini kepada Airin setelah acara pertunangan kami selesai. Aku tidak ingin pikirannya terbagi dengan yang lain." jawab Arian tegas.


"Baiklah tuan, akan segera saya laksanakan." jawab Deo kemudian ia keluar dari ruangan itu meninggalkan Arian seorang diri.


Sementara Arian segera melanjutkan pekerjaannya yang masih menumpuk di meja kerjanya.


Ia harus bisa mengatur waktunya untuk belajar dan mengurus perusahaannya. Ia ingin segera menyelesaikan pendidikannya dan ia ingin segera meresmikan hubungan yang ia bina dengan Airin ke jenjang yang lebih serius.


Sementara Airin masih sibuk dengan pekerjaannya, Meskipun ia telah sukses dan boleh dikatakan sebagai ratu bisnis di negara Elang. Ia sama sekali tidak pernah berfikir untuk berhenti mengembangkan sayapnya.


Bahkan saat ini ia berencana untuk membangun perusahaan baru di tepi barat negara Elang yang terkenal dengan wilayah yang masih belum terekspos oleh media.


Setelah selesai memeriksa dokumen-dokumen yang menumpuk di meja kerjanya.


Airin mengambil ponselnya dan menghubungi Arian. Setelah beberapa saat panggilan itu tersambung.


"Arian apakah saat ini kau sedang sibuk ?" tanya Airin.


"Arian, aku bukan anak SMA lagi yang selalu kau gombalin dengan kata-kata indah itu." ucap Airin.


"Baiklah katakan saja apa yang bisa aku lakukan agar pujaan hatiku ini bisa selalu tersenyum manis ." jawab Arian masih dengan rayuannya.


"Bisakah kita makan siang bersama ? aku ingin menghabiskan banyak waktu sebelum kau kembali ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan mu." jawab Airin terus terang.


"Baiklah, dalam waktu satu menit aku akan menjemputmu." jawab Arian.


"Mana mungkin hanya waktu satu menit Arian." jawab Airin.


"Apanya yang tidak mungkin sayang. Segalanya untukmu bidadari surgaku." jawab Arian yang sudah muncul di depan pintu dengan senyum yang manis.


Ditangannya ada setangkai bunga mawar merah dan sebungkus coklat favorit Airin.


Dengan cepat Airin menghambur ke arahnya dan langsung masuk dalam pelukan hangat sang kekasih.

__ADS_1


"Apakah ada yang masih kau inginkan sayang ?" tanya Arian lagi.


"Aku ingin tahun ini kau dapat menyelesaikan pendidikan mu dan kau tidak akan pergi meninggalkan aku begitu lama." jawab Airin tanpa berfikir.


Bagaimana mungkin Arian akan bisa mengabulkannya, untuk bisa menyelesaikan pendidikannya ia harus melakukan setiap tangga yang memang harus ia lalui.


Namun bukan Arian namanya jika tidak bisa mengiyakan permintaan gadis pemilik harinya itu.


"Apapun demi kamu sayang." jawab Arian dengan senyuman yang begitu tulus.


Membuat Airin terasa ingin meleleh seperti es krim yang terkena sinar matahari, saat ia mendengar jawab pria yang selalu ia rindukan itu.


Kemudian keduanya, berjalan sambil bergandengan tangan dengan senyum menghiasi wajah mereka.


Saat sedang berkendara Arian menghubungi salah satu restoran yang ia miliki agar menyiapkan segala sesuatunya untuk makan siang mereka.


Setelah itu, Arian baru menggenggam tangan Airin seperti takut gadis itu akan melarikan diri darinya.


"Mulai besok Chika akan bekerja di perusahaan Dewantara, karena ia tidak memiliki kualifikasi apapun maka ia akan aku tempatkan sebagai office girl." ucap Arian.


"Apakah dia bersedia melakukan hal itu ?" tanya Airin dengan penasaran.


"Kemarin aku melihat ia sedang berjualan asongan. Jadi aku pikir bekerja di perusahaan akan lebih terjamin penghasilannya dari pada menjual asongan." jawab Arian.


"Aku selalu percaya kepada mu. Lakukan semua hal yang terbaik untuk kita semua. Dan jangan pernah menyesal karena telah menolong seorang." jawab Airin.


"Itulah salah satu yang aku suka darimu sayang, kau sungguh sangat istimewa. Berjanjilah bahwa kau akan menemani aku hingga kita menjadi kakek dan nenek." ucap Arian.


"Arian setelah aku pikir-pikir, kau sebenarnya mengambil prodi sastra khusus rayuan gombal ya ?" tanya Airin sambil tersenyum menggoda Arian.


"Hal itu karena, dalam setiap hubungan asmara harus ada sedikit bumbu-bumbu berupa sebuah rayuan agar hubungan itu lebih berwarna." jawab Arian.


"Tetapi sayangnya saat ini aku lapar dan aku butuh makan siang untuk mengembalikan energi ku yang terkuras untuk mendengarkan rayuan gombal itu." jawab Airin.


"Baiklah mari kita turun untuk menikmati makan siang istimewa kita." jawab Arian.

__ADS_1


Kemudian keduanya masuki restoran tersebut dengan tersenyum indah dengan tangan Airin menggenggam tangan Arain.


__ADS_2