
Setelah meyakinkan ibu Iyem, Airin pergi meninggalkan rumah itu. Ia segera menelpon sopir pribadinya agar segera menjemput dirinya di gang rumah ibu Iyem.
Setelah itu ia segera kembali ke rumah orang tuanya . Ia disambut dengan hangat oleh orang tua. Saat ini ia berada di dalam kamar pribadinya. Ia segera melakukan pencarian data diri ibu Iyem dan ibu kandung Chika.
Beberapa saat kemudian ia menemukan bahwa memang benar bahwa Chika adalah keponakan ibu Iyem.
"Semoga ibu Iyem baik-baik saja dan semoga kejadian ini bisa membuat Chika berubah lebih baik lagi." ucap Airin dengan tersenyum.
Setelah itu ia merebahkan tubuhnya di ranjang. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa tidur dikamar pribadinya ini. Ia segera memejamkan matanya.
Setelah pagi menjelang ia segera bangun dan setelah melakukan aktivitas seperti biasa, ia segera bersiap untuk pergi ke Sekolah. Ia ingat janji yang ia buat dengan Arian bahwa hari ini mereka akan melakukan latihan ditempat seperti biasanya.
Saat ia sampai di depan pintu Gerbang, ia melihat beberapa siswa yang tengah merundung seorang siswa.
"Dasar kau anak seorang pembunuh."
"Anak seorang koruptor, pantas saja selama ini ia begitu sombong dengan kekayaan yang ia miliki dengan sering bergonta-ganti tas dan barang-barang mewah lainnya. ternyata itu semua hasil korupsi."
"Seharusnya kau dikeluarkan dari Sekolah ini. Kau tidak layak menjadi siswa di SMA Golden A&H ini. Anak seorang pembunuh."
"Sekarang sudah terbukti, bahwa kau tidak bisa melakukan bullying di sekolah ini. Seharusnya kau bisa menepati janji mu kepada Airin. Bahwa kau akan keluar dari Sekolah ini jika hal itu tidak bisa kau lakukan lagi."
"Benar, keluar saja dari sekolah ini. Anak koruptor, Anak pembunuh."
Begitu kira-kira ucapan siswa dan siswi yang sedang mengelilingi seorang siswa yang terduduk di lantai dengan menundukkan kepalanya. Ia adalah Chika.
Sementara Misel sebagai sahabatnya tidak mau membantu dirinya. Ia malah asik duduk sambil memperhatikan apa yang sedang di alami oleh Chika.
"Semuanya hentikan ! apa yang kalian lakukan ha !" teriak Airin membuat semua orang di tempat itu menatap ke arahnya dengan heran.
__ADS_1
"Airin apa yang ingin kau lakukan ? apakah kau ingin melakukan hal yang sama seperti mereka ?" tanya Chika dengan begitu menyedihkan.
Seluruh tubuhnya basah, dan banyak kotoran yang menempel di tubuh basah itu. Hal yang sama seperti yang pernah ia alami di saat menjadi sasaran empuk oleh Chika dan kawan-kawannya.
Ibarat kata pepatah, ia yang menanam ia juga yang akan menuai. Seperti itulah yang saat ini dirasakan oleh Chika. Dia yang biasanya sebagai pelaku bullying saat ini menjadi korban bullying.
Semuanya lebih baik segera bubar dan kembali ke kelas kalian masing-masing." ucap Airin.
"Airin mengapa kau masih berbuat baik kepadanya ? bukankah selama ini dia tidak pernah memperlakukan siapapun dengan baik, termasuk dirimu ?" tanya salah seorang siswa.
"Aku tidak seperti dia yang suka berbuat buruk terhadap orang lain. Meskipun saat ini aku mempunyai kesempatan itu. Tapi apa bedanya aku Deng dia jika aku melakukan hal yang buruk seperti yang ia lakukan ?" tanya Airin sambil menatap wajah mereka satu persatu.
Semuanya menundukkan kepalanya. Mereka merasa apa yang dikatakan oleh Airin memang benar. Saat ini mereka melakukan hal yang sama seperti yang Chika lakukan waktu itu. Lalu apa bedanya mereka dengan Chika ?.
"Chika maafkan kami, kami telah melakukan sebuah kesalahan."
"Benar Chika maafkan kami. Kami tidak seharusnya melakukan itu kepada mu."
Ucap para siswa dan siswi itu, kemudian berlalu meninggalkan Chika dan juga Airin. Setelah mereka pergi Airin mendekati Chika kemudian mengulurkan tangannya hendak membantu Chika berdiri.
"Terimakasih, tanpa bantuan dari mu aku juga bisa berdiri sendiri dan bebas dari hinaan mereka semua." ucap Chika sambil menepis tangan Airin.
Airin hanya tersenyum melihat Chika, sebelum 29 hari ia telah bisa mengalahkan Chika. Sehingga tidak akan ada lagi kasus bullying di Sekolah SMA Golden A&H ini.
Dengan runtuhnya kekuasaan keluarga Fernandez, secara otomatis akan merubah Chika menjadi siswi seperti yang lainnya. Sehingga ia tidak akan pernah melakukan hal-hal seperti yang pernah ia lakukan.
Sedangkan Arian yang melihat kejadian itu, ia tersenyum. ia sangat bangga dengan Airin. Gadis yang ia pilih memang mempunyai hati yang sangat baik. Ia benar-benar cantik luar dalam.
Kemudian Arian berjalan mendekati Airin yang masih menatap punggung Chika dari belakang.
__ADS_1
"Mari kita masuk, sebentar lagi pelajaran kedua akan segera di mulai." ucap Arian.
"Pelajaran kedua, bukankah ini masih pagi dan pelajaran belum dimulai ?" tanya Airin bingung.
"Memang masih pagi, dan jam pelajaran dikelas belum di mulai. Tapi pelajaran pertama pagi ini adalah memaafkan kesalahan orang lain dan tidak membalas dendam."
"Itu pelajaran yang bisa aku petik dari peristiwa yang baru saja usai." jawab Arian dengan tersenyum.
"Kau bisa saja." jawab Airin dengan malu-malu.
"Apakah kau sudah mendengar kabar tentang Serli ?" tanya Arian sambil berjalan beriringan dengan Airin.
"Belum, aku belum tau tentang Serli." jawab Airin.
"Kasihan dia saat ini masih menjalani perawatan khusus, akibat obat yang dia konsumsi melebihi dosis." jawab Arian.
"Maksud mu ?" tanya Airin.
Ia hanya tahu bahwa Serli ditemukan di kediaman Keluarga Fernandez dalam keadaan pingsan dan ia masih belum sempat dinodai oleh tuan Fernandez meskipun sudah diberi obat perangsang.
"Semalam begitu aku mendengar kabar itu, aku dan Deo langsung ke rumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan, Serli harus dirawat secara intensif untuk menghilangkan pengaruh obat perangsang yang berlebihan yang ia konsumsi."
"Mungkin jika ia bisa menyalurkan malam itu, tidak akan separah ini keadaannya. Ia sudah mengalami banyak hal yang sangat mengerikan."
"Ia harus dirawat di psikiater juga , agar ia tidak merasa trauma. Untung saja video itu belum sempat ditemukan oleh orang lain. Jika tidak itu akan menjadi ancaman dikemudian hari untuk Airin." jelas Arian.
"Lalu saat ini, bagaimana kondisi Serli apakah ia sudah siuman ?" tanya Airin.
"Menurut informasi dari Deo, ia masih belum sepenuhnya sadar. Kadang ia bangun tetapi ia tertidur lagi." jawab Arian.
__ADS_1
"Kasihan Serli, semoga peristiwa ini tidak berpengaruh terhadap perasaan Deo." ucap Airin dengan khawatir.
"Kau tenang saja, Deo bukan laki-laki yang egois. Apa yang terjadi pada Serli murni kecelakaan dan ini bukan atas keinginan Serli sendiri. Ia adalah korban, jadi ia tidak berhak menerima hukuman dari apa yang telah terjadi." ucap Arian dengan serius untuk meyakinkan Airin.