
Setelah memeriksa kondisi wanita paruh baya yang hampir saja tertabrak, Perempuan itu segera membawa tubuh Iyem masuk kedalam mobil dibantu oleh sang supir.
Kemudian mereka melakukan mobilnya dengan lebih cepat, agar wanita yang saat ini pingsan bisa segera mendapatkan pertolongan.
Setelah sampai di depan panti asuhan Kasih ibu, wanita itu segera meminta pertolongan kepada pengurus panti agar membantu membawa tubuh wanita yang hampir saja ia tabrak itu.
"Nyonya apa yang terjadi ?" tanya pengurus panti asuhan itu setelah melihat tubuh ibu Iyem.
"Saya juga tidak tau pasti, tetapi sopir saya hampir saja menabrak wanita ini." jawab Ibu Nina.
"Sepertinya kondisi ibu ini tidak mengkhawatirkan, ia hanya kurang bertenaga saja Nyonya. Setelah istirahat pasti beliau akan segera sadar." jelas pemilik panti asuhan itu.
"Syukurlah kalau begitu. O ya bagaimana kabar anak-anak ?" tanya ibu Nina.
"Alhamdulillah nyonya, semuanya baik-baik saja, semua ini berkat donasi dari keluarga Nyonya." jawab pengurus panti asuhan itu.
"Jangan berlebihan begitu, saya hanya sedikit berbagi karena saya ingin mereka selalu mendoakan anak saya Airin, agar ia selalu mendapatkan berkah dari setiap langkahnya." jawab ibu Nina dengan tulus.
"Pasti nyonya, kami akan selalu mendoakan setiap kebaikan bagi nona Airin. Meskipun kami belum pernah bertemu dengan beliau, saya yakin ia adalah putri yang sangat cantik." ucap pengurus panti asuhan tersebut.
"Dimana saya ? mengapa saya berada di sini ?" tanya ibu Iyem yang sudah duduk sambil memperhatikan setiap sudut ruangan itu.
"Syukurlah, ibu sudah sadar. Saat ini ibu berada di pantai asuhan kasih Ibu." jawab ibu Nina.
"Saya tidak baik-baik saja." jawab ibu Iyem dengan serius.
Kruuuk Kruuuk Kruuuk ... Terdengar suara dari perut ibu Iyem, kemudian ia tersipu malu karena perutnya tidak bisa di ajak kompromi.
"Ibu lapar ? tunggu sebentar saya akan mengambil makanan untuk anda." ucap pengurus panti asuhan itu.
Setelah beberapa saat, ia kembali dengan sepiring nasi serta lauk dan sayur dan juga segelas air.
__ADS_1
Setelah mendapat ijin, ibu Iyem langsung melahap habis makan yang ada dihadapannya. Ia sangat lapar sekali karena sejak pagi ia belum makan sama sekali.
"Terimakasih, maaf telah merepotkan." ucap ibu Iyem sambil mencoba turun dari ranjang.
"Ibu mau kemana ? ini sudah larut. Jika anda ingin menghubungi seseorang, pakailah ponsel saya ini." ucap ibu Nina sambil menyerahkan ponselnya.
"Maaf, saya tidak mempunyai keluarga yang bisa saya hubungi." jawab ibu Iyem sambil meneteskan air mata.
Ia teringat bagaimana, Chika mengusirnya dari rumahnya sendiri, ia ingin sekali menghubungi Airin tetapi ia ragu apakah keluarganya mau menerima ia untuk menumpang hidup di keluarga Airin.
"Tidak masalah, jika tidak ada yang bisa dihubungi. Tetapi jika anda ingin pulang, biar di antar oleh sopir saya." jawab Ibu Nina dengan tidak enak hati.
"Sekali lagi maaf, saya juga tidak mempunyai tempat tinggal saat ini." jawab Ibu Iyem dengan suara yang gemetar.
"Baiklah kalau begitu, anda bisa tinggal di sini dan membantu kami untuk mengurus anak-anak panti ini." jawab pengurus panti dengan tersenyum.
'Terimakasih. Saya sangat senang sekali bisa membantu mengerjakan pekerjaan mulia ini." jawab ibu Iyem dengan mata yang berbinar.
"Terimakasih nyonya. Yang nyonya berikan waktu itu juga masih saya simpan nyonya." ucap pengurus panti itu dengan tulus.
"Tidak Maslah, gunakanlah uang ini dengan sebaik mungkin. Saya permisi dahulu karena sudah semakin larut. Kapan-kapan saya akan berkunjung lagi." ucap Ibu Nina.
Setelah itu, beliau berlalu meninggalkan panti asuhan itu dan langsung pulang, karena ia menerima kabar bahwa Airin akan pulang dan mengenalkan seseorang kepadanya.
Setelah beberapa saat, akhirnya ia sampai juga di rumah, dengan segera beliau masuk untuk menemui tamu yang sejak tadi menunggunya.
"Selamat malam Tante." ucap Arian dengan tersenyum saat menyapa ibu Nina.
"Selamat malam, maaf Tante baru bisa sampai, siapa ini Airin ?" tanya ibu Nina dengan tersenyum menggoda.
"Ma, kenalkan ini Arian." jawab Airin.
__ADS_1
"Halo Tante saya Arian." ucap Arian sambil menjabat tangan calon mertuanya di masa depan.
"Arian perkenalkan saya adalah ibu dari gadis cantik yang ada di samping mu itu. Ngomong-ngomong siapa nama lengkap mu mengapa nama kalian bisa hampir sama begitu ?" tanya Ibu Nina.
"Saya Arian Dewantara Tante, saya juga tidak tau mengapa nama kami hampir sama Tante, mungkin kami memang berjodoh Tante." jawab Arian mengalir begitu saja.
"Dewantara? apakah ibumu bernama Asti ?" tanya ibu Nina penasaran.
"Iya Tante, tetapi bagaimana Tante bisa mengenal mama saya ?" tanya Arian.
"Benarkah, berarti kalian memang berjodoh. Sejak kalian di dalam kandungan kami telah menjodohkan kalian dan nama kalian juga kami rencanakan sedemikian rupa."
"Lalu bagaimana kabar ibumu sekarang, sejak kami melahirkan kami tidak pernah lagi bertemu, karena papamu membawa kalian pergi ke kota lain." ucap Ibu Nina.
"Ibu telah pergi dan saat ini beliau sudah berada di surga Tante." jawab Arian.
"Bagaimana mungkin ! kamu jangan mengarang cerita." ucap Ibu Nina dengan emosi.
"Benar Tante, mama meninggal setelah melahirkan saya. Beliau mengalami pendarahan yang hebat." jelas Arian dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maafkan Tante, selama ini Tante tidak mengetahuinya. Lalu bagaimana dengan papamu ?" tanya ibu Nina sambil menggenggam tangan Arian.
"Beliau menyusul mama disaat saya berusia sepuluh tahun. Setelah itu saya dibawa dan dirawat oleh kakek, sayangnya kakek juga ikut menyusul kedua orang tua saya Tante." Arian menjelaskan semuanya tanpa ada yang ditutupi.
"Maafkan Tante sayang, sekarang hapus air matamu. Kau jangan bersedih masa ada Tante dan om disini dan juga ada Airin yang sejak dalam kandungan sudah kami jodohkan dengan mu."
"Selama ini tentu tidak mengetahui kabar tentang keluarga Dewantara, Tante hanya tau bahwa perusahaan Dewantara dipegang dan dijalankan oleh orang kepercayaan keluarga Dewantara.
"Tetapi Tante sangat bergembira sekali, karena Tuhan merestui perjodohan yang kami lakukan sekian lama. Kalian malah saling jatuh cinta tanpa kami jodohkan."
"Arian, mulai sekarang jangan panggil Tante lagi tetapi panggil mama. Setelah kau lulus sekolah kalian akan langsung bertunangan. Dan setelah kalian siap maka kalian harus segera menikah." ucap ibu Nina dengan antusias sekali.
__ADS_1
Sedangkan Arian menatap wajah Airin yang juga berseri-seri saat mendengar ucapan dari sang mama. Kedua insan yang masih kasmaran itu tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya karena telah mendapatkan restu dari orang tua.