29 Hari

29 Hari
Bab. 14. Sebuah Kebahagiaan


__ADS_3

Chika dan juga Misel akhirnya meninggalkan tempat tersebut dengan amarah karena ucapan Airin. Mereka sama sekali tidak pernah berfikir bahwa Airin akan melakukan hal itu. Bagaimana mungkin Airin malah balik mengancam Chika.


Setelah sampai di mall mereka segera membeli beberapa barang yang sudah mereka incar sejak disekolah.


"Chika lihat tas itu ! sangat cantik sekali." ucap Misel sambil menunjuk sebuah tas yang masih tersimpan di dalam etalase sebuah toko.


"Ayo kita lihat!" jawab Chika sambil mendekati tas tersebut.


Mereka terpesona melihat tas yang begitu cantik, bentuknya sederhana tetapi sangat elegan.


"Permisi nona, apakah ada yang bisa kami bantu ?" ucap penjaga toko tersebut.


"Tas ini cantik sekali." jawab keduanya secara bersamaan.


"Benar sekali nona, tas ini sangat cantik. Banyak wanita yang menginginkan agar bisa memilikinya. Tas limited edition dari Gucci tidak pernah diragukan lagi kualitasnya nona." jawab pelayan toko tersebut.


"Limited edition, seandainya aku bisa memilikinya pasti teman-teman akan semakin memuji ku karena aku termasuk orang yang beruntung."


"Berapa harga tas ini ?" tanya Chika sambil matanya tak berkedip sama sekali.


"Tas ini dibandrol dengan harga 15 M nona, di negara kita ini hanya ada dua, yang pertama sudah dimiliki oleh pemilik Sekolah sekaligus pemilik sebuah perusahaan yang terkenal itu nona."


"Jika nona bisa memilikinya pasti nona akan masuk dalam jajaran wanita kaya yang bisa memiliki produk dari Gucci ini." jelas penjaga toko itu sambil tersenyum.


"Apa 15 Miliar ?!" jawab Chika dan Misel secara bersamaan.


"Benar nona." jawab penjaga toko tersebut dengan senyuman yang menghias wajahnya.


"Bagaimana caranya agar aku bisa memiliki tas itu. Dari mana aku bisa memiliki uang sebanyak itu, bisa-bisa ayah membunuhku jika aku meminta uang sebanyak itu hanya untuk sebuah tas." keluh Chika.

__ADS_1


"Kau benar Chika, apalagi aku pasti sangat tidak mungkin aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu." jawab Misel.


Lalu mereka melangkahkan kakinya meninggalkan tempat tersebut bersama sebuah keinginan yang tidak bisa mereka wujudkan.


Sementara penjaga toko itu hanya menggelengkan kepalanya melihat mereka berdua.


Chikandan juga Misel akhirnya duduk dan memesan makanan sambil duduk termenung membayangkan bahwa mereka yang akan memiliki tas branded tersebut.


Sementara Airin segera kembali ke rumah pak RT untuk membantu ibu Iyem membersihkan rumah dan menyiapkan makan malam.


Seperti tidak memiliki rasa lelah, Airin langsung mengerjakan beberapa pekerjaan rumah agar ibu Iyem tidak terlalu lelah.


"Ibu Iyem, Airin kemarilan !" ucap pak RT.


Kemudian mereka berdua mendekati pak RT yang sedang berbincang dengan seseorang yang lelaki yang berpenampilan sangat rapi.


"Ada apa pak apakah ada sesuatu yang bisa kami bantu ?" tanya Ibu Iyem dengan sopan.


"Kami mendengar kabar bahwa rumah ibu terbakar, sehingga pemilik perusahaan Golden A&H ingin sedikit berbagi dengan ibu Iyem." jawab pria yang berbaju rapi tersebut.


"Alhamdulillah ... " ucap Ibu Iyem sambil bersujud. Beliau sangat bahagia sekali mendengar kabar itu.


Beliau tidak bisa berkata apa-apa selain melakukan sujud syukur sambil berurai air mata.


Airin yang menyaksikan hal itu ikut terharu, meskipun ia tau pasti ibu Iyem sangat bahagia namun ia tidak pernah membayangkan bagaimana reaksi dari Ibu Iyem.


Rasa syukur seseorang yang dilakukan dengan tulus akan membuat mereka lebih merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.


Airin menganggukkan kepalanya terhadap lelaki yang berpakaian rapi itu kemudian ia memeluk Ibu Iyem.

__ADS_1


"Ibu ini adalah hadiah dari Allah atas keikhlasan dan ketulusan hati ibu selama ini. Jadi ibu tidak perlu menangis lagi dan tidak perlu memikirkan biaya untuk memperbaiki rumah lagi." ucap Airin.


Bukannya menjawab ucapan dari Airin, ibu Iyem malah mengucapkan do,a untuk sang pemilik perusahaan Golden A&H. Do.a tulus yang diucapkan oleh seseorang dengan berurai air mata itu semakin menggetarkan hati setiap insan yang mendengarnya.


"Begitu sederhana yang aku berikan namun kau balas dengan segudang doa untuk kebaikanku. Sungguh aku tidak akan pernah bisa membalasnya selain ucapan terimakasih sebanyak-banyaknya." batin Airin.


"Baiklah ibu, bisakah anda menandatangani berkas-berkas ini agar kami bisa segera memprosesnya dan juga sebagai bukti laporan keuangan kami." ucap pria itu.


"Iya Bu, anda sangat beruntung sekali. Artinya sebentar lagi rumah ibu akan segera di perbaiki dan ibu juga Airin tidak perlu memikirkan biaya untuk perbaikan rumah lagi."


"Kalain hanya perlu memikirkan bagaimana caranya untuk melanjutkan hidup yang masih panjang ini. Tapi saya harap kalian tidak menjadi tinggi hati." ucap Pak RT.


Ibu Iyem segera menandatangani berkas-berkas itu dibantu oleh Airin. Setelah semuanya selesai pria itu segera berpamitan karena hari semakin gelap.


Sementara Airin dan Ibu Iyem segera melanjutkan pekerjaan mereka, mereka tidak ingin membuat pak RT dan keluarganya merasa kecewa terhadap mereka yang hanya numpang tinggal di rumah itu secara gratis.


Setelah selesai mereka segera menyiapkan makan malam dan setelah itu mereka beristirahat untuk melepaskan segala lelah setelah seharian penuh mereka beraktivitas.


"Nak Airin lebih baik nak Airin beristirahat, besok nak Airin harus berangkat sekolah. Jangan sampai semua kejadian ini mengganggu aktivitas belajar nak Airin."


"Ibu berharap nak Airin bisa hidup sukses, jangan sampai nak Airin memiliki kehidupan seperti ibu yang bergelimang dengan kesengsaraan." ucap Ibu Iyem dengan tulus.


"Ibu juga harus beristirahat, agar esok kita bisa bangun pagi dan memulai aktivitas kita dengan badan yang lebih segar. Dan bukankah besok ibu akan melihat bahwa rumah ibu akan kembali berdiri dengan kokohnya." ucap Airin.


"Sungguh mulia sekali hati pemilik perusahan itu. Padahal ia tidak mengenal ibu sama sekali, tetapi beliau rela mengeluarkan uang begitu banyak untuk membantu ibu."


"Alangkah bahagianya orang tua yang memiliki anak seperti itu. Mereka akan bahagia bukan hanya saat didunia ini tetapi mereka akan bahagia hingga ke Surga karena memiliki anak semulia itu." ucap ibu Iyem dengan tulus.


Airin tersenyum mendengar ucapan tulus dari wanita paruh baya yang belum lama ia kenal itu, namun banyak hal yang bisa ia ambil sebagai pelajaran dalam melalui kehidupan ini.

__ADS_1


Dari beliau Airin belajar tentang perjuangan hidup, tentang tanggung jawab dan tentang keikhlasan dan tentang bersyukur dalam menerima semua takdir yang harus kita lalui.


Tak pernah ada dendam dalam hati wanita paruh baya itu, meskipun banyak sekali orang yang memperlakukannya dengan tidak baik atau memandang belaiu dengan sebelah mata.


__ADS_2