
Setelah Chika keluar Misel segera mengambil pakaian dalamnya yang sudah di dorong masuk ke bawah ranjang.
Setelah itu ia segera menyimpannya, agar tidak terlihat oleh orang lain. Cukup sang pengawal itu saja yang melihatnya. Belum sempat Misel kembali ke tempatnya Chika kembali masuk tanpa mengetuk pintu.
Hal itu membuat Misel sedikit gugup akan kehadiran Chika yang begitu cepat. Sementara Chika memperhatikan Misel dengan penuh tanda tanya.
"Chika mengapa kau kembali ? apakah ada sesuatu yang tertinggal ?" tanya Misel dengan sedikit gugup.
"Tidak, aku berubah pikiran. Aku ingin beristirahat di samping ayahku, cukup lama kami berpisah jadi mumpung ada kesempatan lebih baik aku manfaatkan dengan sebaik mungkin." jawab Chika sambil memperhatikan Misel.
"Oh begitu." ucap Misel.
Ia tidak tau harus berkata apalagi, tapi yang membuat ia tenang pakai dalamnya sudah ia amankan di dalam tas, sehingga tidak akan membuat Chika curiga.
"Ayah apakah aku boleh tidur di samping mu ?" tanya Chika yang langsung naik dan segera berbaring di samping ayahnya.
"Tentu saja boleh, kau boleh disini bersama ayah, tetapi jika kau jenuh dan ingin kembali kerumah, maka kembalilah agar kau bisa beristirahat dengan tenang." jawab tuan Fernandez.
"Kapan ayah pulang ?" tanya Chika yang langsung memeluk tubuh sang ayah dengan sangat posesif.
"Tidurlah sayang, agar kau sehat dan jangan terlalu keras untuk berfikir." jawab tuan Fernandez sambil membelai lembut rambut sang putri.
Misel menatap dengan iri, ia sangat menginginkan hal yang sama. Ia juga ingin sekali bisa bermanja-manja dengan sang ayah.
Namun apalah daya, sang ayah tidak pernah mengharapkan kehadirannya. Saat sang ibu pergi meninggalkan dunia ini, ia benar-benar seorang diri di dunia ini.
Tiada lagi kasih sayang, dan belaian lembut untuknya lagi. Sang ayah selalu pergi pagi dan akan kembali saat malam hari disaat ia sudah tertidur.
Jangankan untuk mendapatkan uang melimpah, kasih sayang yang seharusnya bisa ia dapatkan, namun nyatanya tak bisa ia dapatkan.
Kekurangan kasih sayang dan juga kekurangan harta, yang telah membuat Misel tumbuh tidak seperti anak seusianya pada umumnya.
__ADS_1
Sedangkan Chika, meskipun ia tidak mempunyai seorang ibu, namun ia mendapatkan kasih sayang dan juga harta yang berlimpah.
"Misel jika lelah maka beristighfarlah juga, jangan sungkan." ucap tuan Fernandez yang sontak membuat Misel terkejut dan kembali kealam sadarnya.
"Ia tuan, saya akan beristirahat sebentar lagi, anda tidur saja agar kembali pulih dengan cepat." jawab Misel sambil tersenyum.
Tuan Fernandez mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum penuh arti menatap Misel.
Sementara Chika mencoba memejamkan matanya dalam dekapan sang ayah, namun tidak bisa berhasil. Ia mencium aroma parfum yang sangat khas dan sangat ia kenali.
"Bukankah ini adalah harum parfum milik Misel, tapi mana mungkin ?" batin Chika.
Perlahan terdengar tuan Fernandez mulai mendengkur pelan, hal itu menunjukkan bahwa beliau sudah mulai masuk ke alam mimpi.
Perlahan Chika membuka matanya dan mencoba melihat wajah sang ayah, perlahan ia mulai tersenyum saat melihat sang ayah sudah tertidur pulas.
Kemudian ia perlahan ikut memejamkan matanya. Ia melupakan dan menyakinkan dirinya bahwa ayahnya dan Misel tidak ada sesuatu yang perlu di khawatirkan.
Sementara Misel, ia tidak bisa memejamkan matanya. Ia berdiri dan berjalan-jalan di depan ruangan itu.
"Lain kali jangan meninggalkan jejak, akan menjadi sebuah pukulan yang sangat menyakitkan jika non Chika mengetahui hubungan terlarang antara anda dan tuan Fernandez."celetuk sang pengawal.
"Terimakasih atas perhatiannya." jawab Misel dengan santai.
Kemudian Misel kembali masuk ke dalam ruang perawatan tuan Fernandez, ia merasa sangat tidak nyaman dengan ucapan pengawal tersebut.
Setelah masuk ia melihat Chika dan ayahnya tidur dengan lelap, terukir senyum kebahagiaan diwajah cantik Chika.
Misel kemudian merebahkan tubuhnya di atas sofa, sambil membuka galeri di ponselnya. Ia menggeser-geser dan melihat beberapa foto kebersamaannya dengan Chika.
Seorang sahabat yang ia kenal sejak masuk ke SMA Golden A&H, berkat kedekatannya dengan Chika ia bisa disegani oleh teman-temannya. Bahkan ia bisa melakukan bullying bersama dengan Chika.
__ADS_1
Sebenarnya Misel melakukan itu semua demi menutupi kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinya. Ia melampiaskan kemarahannya kepada siapapun yang berani melawan Chika.
Misel menarik nafas dalam-dalam, kemudian ia melihat dua orang yang tertidur pulas itu. Chika adalah sahabat yang memberikan segalanya untuk dirinya. Sedangkan tuan Fernandez adalah pelanggannya yang akan memberikan banyak uang karena pelayanannya. Misel tersenyum miris mengingat itu semua.
"Chika maafkan aku, aku terpaksa melakukan hal itu, seandainya suatu saat nanti kau mengetahui kebenaran ini. Kuharap kau mau memaafkan aku."
"Jauh dari lubuk hatiku yang terdalam kau tetap sahabatku. Apapun yang kau lakukan aku akan mendukung mu. Chika sekali lagi maafkan aku." ucap Misel dengan lirih.
Kemudian ia menutup ponselnya dan memejamkan matanya. Ia sangat lelah baik hati, maupun fisiknya.
setelah beberapa saat akhirnya ia terlelap juga. Keadaan menjadi sunyi, hanya terdengar suara nafas mereka yang begitu teratur.
Sementara Arian masih membuka laptopnya, tangannya masih sibuk berselancar di atas keyboard. Ia sedang menyiapkan sebuah kejutan untuk Airin.
Ia ingin mengungkapkan perasannya kepada Airin dengan cara yang sangat spesial. Ia begitu serius mencari referensi dari berbagai sumber.
Sambil tersenyum manis ia mulai merangkai kata demi kata agar terangkai dengan sempurna dan juga bisa mewakili perasaannya.
"Airin semoga kau suka dengan kejutan yang aku persiapkan untuk mu. Dan aku berharap perasaan ini tidak bertepuk sebelah tangan." ucap Arian dengan tersenyum manis.
Kemudian ia menatap wajah Airin yang ia jadikan sebagai wallpaper di laptopnya. Ia mengusap wajah cantik yang tersenyum manis di layar monitor.
"Entah sejak kapan kau menjadi pemilik hati ini, Airin aku sangat berharap kau juga merasakan apa yang aku rasakan."
"Sejak aku bertemu denganmu, bayang wajahmu selalu ada dipeluk mataku. Ah, mungkin aku sudah gila karena berbicara dengan sebuah foto."
"Tetapi apa yang bisa aku lakukan selain ini ? aku janji setelah kita bersama nanti aku akan menjadi pelindung dan juga tempatmu bersandar."
"Airin aku gila ya ? ya aku tergila-gila kepada mu. Tapi kau membuat ku merasa bahagia sehingga aku seperti orang gila." ucap Arian sambil tersenyum-senyum sendiri.
Setelah itu ia bangkit dan mengambil air mineral dan juga beberapa makanan ringan. Ia menatap dan mencoba mengoreksi konsep yang ia buat untuk menyatakan perasaannya kepada Airin.
__ADS_1