29 Hari

29 Hari
Bab. 56. Ketenangan dalam kelas


__ADS_3

Sebelum sang fajar menampakkan dirinya, Arian sudah terbangun karena pelukan dari Deo. Deo menggigil kedinginan karena hembusan angin begitu bebas menyapanya.


Perlahan Arian bangkit, menutup pintu dan juga jendela. Setelah itu ia mengatur suhu ruangan agar lebih hangat. Kemudian ia berbaring lagi di samping Deo.


Perlahan ia memejamkan matanya kembali, seakan ia tak rela untuk berpisah dengan sang malam yang indah ini.


Deo perlahan membuka kedua matanya, ia merasa heran karena Arian masih enggan untuk membuka matanya. Ia kemudian mengatur alarm dan melanjutkan tidurnya.


Tanpa terasa sinar matahari sudah menembus gorden kamar Arian, sementara kedua pria muda itu masih enggan untuk bangkit dari peraduannya.


Bunyi alarm membuat keduanya langsung bangkit, mereka langsung menuju kamar mandi karena sudah kesiangan.


"Deo lebih baik kau cari kamar mandi yang lainnya jika kau tak ingin terlambat untuk datang ke Sekolah!" ucap Arian sambil menerobos masuk lebih dulu ke kamar mandi.


"Iya iya aku tau !" ucap Deo dengan cemberut.


Setelah keduanya siap mereka langsung berlari menuju mobil agar bisa datang ke sekolah tepat waktu.


"Arian apa yang membuatmu enggan untuk bangun pagi ? biasanya kau bangun lebih pagi meskipun kau tengah malam bangun ?." tanya Deo.


"Entah sebelum subuh aku bangun seperti biasanya, tapi aku tidur lagi. Sekali-kali bolehkan bangun siang ?. Biar bisa merasakan anak seumuran kita yang sebenarnya." jawab Arian asal.


"Kau pikir selama ini kau berumur berapa ? Dan bukankah kau juga seperti kami ? hanya saja kau sering bangun tengah malam dan menangis. Itu saja perbedaan di antara kita."


"Jika anak seusia kita sudah tidak menangis setiap hari, berbeda dengan mu yang setiap hari menangis melebihi anak yang berumur satu tahun." ucap Deo.


Arian hanya melirik Deo, setelah itu ia kembali fokus dengan kemudinya.


"Apakah kau marah ? maaf jika ucapan ku membuatmu tersinggung. Aku hanya ingin kau ikhlas menerima semuanya, bahwa tangisanmu tidak akan pernah bisa mengembalikan semua orang-orang yang kau sayangi."


"Tuhan lebih menyayangi mereka dibandingkan diri mu. Arian siapapun dia gadis yang telah menempati hatimu. Kejarlah ia secepatnya. Karena hanya dia yang bisa menghentikan tangisanmu di malam hari." ucap Deo dengan serius.

__ADS_1


"Apa kau mendengar semuanya semalam ?" tanya Arian.


"Tidak, aku tidak mendengar apapun. Hanya senyum di wajahmu yang terlihat. Senyum itu begitu nyata mengisyaratkan betapa bahagianya hatimu. Sehingga air mata yang kau tumpahkan setiap malam enggan untuk keluar." jawab Deo.


"Apa yang harus aku lakukan, hanya dengan mengingat senyuman di wajahnya bisa menghentikan air mata itu." ucap Arian tanpa perduli apakah Deo paham dengan ucapannya atau tidak.


"Arian, apapun yang akan kau lakukan aku pasti akan mendukung mu. Percayalah aku adalah orang pertama yang mendukung kau bersamanya tanpa syarat apapun."


"Aku yakin, gadis itu adalah gadis yang cantik luar dalam sehingga ia mampu membendung sungai di matamu itu." ucap Deo dengan serius.


"Terimakasih Deo, kau adalah sahabat terbaikku." jawab Arian dengan senyum yang tulus.


Setelah itu mereka berbincang-bincang tentang materi pelajaran yang rencananya akan diganti kerena tidak sesuai dengan yang dibutuhkan oleh SMA Golden A&H.


Tanpa terasa keduanya telah sampai di depan pintu gerbang. Tampak Misel dan juga Chika baru saja turun dari mobil.


Mereka sengaja berhenti agar bisa berjalan bersama dengan Arian. Tanpa pikir panjang Arian dan Edo segera keluar dari mobil dan berjalan melalui Chika dan juga Misel.


"Arian ! tunggu. " panggil Chika.


"Arian, terimakasih banyak atas bantuannya waktu itu. Jika tidak ada kalian pasti kami tidak tau keadaan ayahku." ucap Chika dengan tulus.


"Jangan sungkan, kita sebagai manusia harus saling tolong menolong dalam hal kebaikan." jawab Arian.


"Sekali lagi terimakasih ya. Apakah kalian ada waktu ? sewaktu istirahat aku akan mentraktir kalian makan, bagaimana ?" ucap Chika.


"Maaf Chika tapi aku sibuk, aku masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." tolak Arian dengan halus.


"Ya kok ditolak !." ucap Deo dengan sedikit kecewa.


"Iya Arian, anggap saja sebagai tanda terima kasih kami." ucap Serli.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong semalam kami datang ke rumah sakit tapi kami malah ... ." ucap Deo yang kemudian di tutup mulutnya oleh Arian.


"Benarkah ? lalu ?." tanya Chika kemudian.


"Karena sudah pada tidur jadi kami pulang lagi, takut mengganggu kenyamanan seseorang." jawab Deo sambil melirik ke arah Misel.


"Bagaimana jika kalian datang ke rumah, kebetulan sore ini ayahku sudah bisa pulang." ucap Chika dengan antusias.


"Maaf Chika mungkin lain kali aja. Saat ini aku benar-benar sangat sibuk, jika sudah senggang pasti kami akan berkunjung." jawab Arian.


Terlintas kekecewaan di mata Chika. Kemudian ia hanya tersenyum menatap Arian dan Deo.


"Semalam aku melihat semuanya." ucap Deo kemudian ia berlalu meninggalkan Chika dan juga Misel yang masih berdiri terpaku di tempatnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi semalam ?" tanya Chika dengan bingung.


"Sudahlah jangan di ambil pusing. Mungkin mereka benar-benar sedang sibuk. Bukankah ulang tahun Sekolah kita tinggal beberapa hari lagi, pasti Arian tengah sibuk untuk mempersiapkan semua itu." ucap Misel sambil menggandeng tangan Chika menuju kelas.


"Ok, semoga benar yang kau ucapkan." jawab Chika dengan sedikit harapan.


"Sebenarnya apa maksud Deo, apakah ia semalam sempat melihat aku dan tuan Fernandez ?" tanya Misel dalam hati.


Ada sebuah rasa yang kurang nyaman, ketika ada teman satu sekolahnya melihat pekerjaan apa yang ia lakukan selama ini. Namun ia segera menepis perasaan itu.


Ia hanya ingin bisa mendapatkan uang untuk mencukupi semua keinginannya. Meskipun ia sadar hal itu sangat salah.


Chika dan juga Misel berjalan dengan pikiran mereka masing-masing. Setelah sampai di dalam kelas, keduanya terlihat seperti sedang melamun.


Hal itu membuat seisi kelas bertanya-tanya dalam hati. Apa yang membuat kedua sahabat yang biasanya selalu mencari sasaran untuk mereka bully kini hanya diam membisu seperti patung.


Tidak ada lagi kegaduhan dan ketegangan yang mereka ciptakan. Saat ini mereka berprilaku layaknya siswa pada umumnya. Datang ke Sekolah dan segera duduk di bangku sambil mendengarkan penjelasan dari guru bidang studi masing-masing pelajaran.

__ADS_1


Kelas itu terasa damai dan sangat nyaman. Tidak ada rasa takut seperti biasanya. Hal ini membuat Serli lebih fokus dalam mengikuti pelajaran.


Karena hari ini ia lolos dari Chika dan juga Misel. Ia bisa belajar dengan lega tanpa perlu berfikir apa yang akan ia terima selanjutnya.


__ADS_2