
Setelah mendapatkan tugas masing-masing, mereka segera pergi meninggalkan tempat tersebut, mereka kembali ke kelas mereka masing-masing.
Namun sebelum Airin masuk ke dalam kelasnya, ia mendapatkan informasi bahwa Serli dan juga Misel dibawa pergi oleh tuan Fernandez.
Airin langsung kembali menemui Kepala Sekolah yang ada di ruangannya.
"Maaf om, Airin mengganggu waktunya sebentar." ucap Airin setelah masuk ke dalam ruangan itu.
"Duduklah Airin, apa yang bisa om bantu ?" tanya om Bima setelah Airin duduk.
"Om apakah benar Serli dan juga Misel dibawa pergi oleh tuan Fernandez ?" tanya Airin dengan penuh khawatir.
"Iya Airin, om Bima tidak punya alasan untuk mencegahnya. Jika kau merasa khawatir dengan mereka, kau bisa melawan Fernandez dengan jalan yang lainnya." jawab om Bima.
"Apa maksud om Bima ?" tanya Airin.
"Bukankah kau mempunyai kemampuan yang luar biasa di bidang komputer ! Jika kau bisa membuat usahanya bangkrut dan bisa mengungkapkan semua kejahatan yang pernah ia lakukan."
"Maka kekuasaan tuan Fernandez akan lengser sementara usahanya bangkrut. Ia tidak akan bisa fokus untuk mengurus Chika apalagi teman-teman mu yang baru saja ia bawa." jelas om Bima.
"Om Bima benar ! aku akan mencari tau tentang semua informasi keluarga Fernandez dari komputer."
"Dan aku akan membuktikan kebenaran yang selam ini mereka tutupi, dengan begitu Chika tidak akan mempunyai nyali untuk bertindak yang tidak layak dilakukan oleh siswa SMA Golden A&H ini." ucap Airin dengan penuh antusias.
"Tapi om minta jangan kau hukum terlalu berat, beri mereka kesempatan untuk bertaubat. Tetapi jika memang tidak bisa, apa boleh buat." ucap om Bima.
"Om, apakah ada cctv di setiap kelas ?" tanya Airin lagi.
"Belum, kita baru memasang cctv Hani di beberapa titik saja. Jika memang diperlukan maka om Bima akan segera memasang cctv demi kebaikan kita bersama." jawab om Bima.
"Benar om dengan adanya cctv, kita bisa memantau setiap keamanan bagi seluruh penghuni SMA A&H ini."
__ADS_1
"Tetapi saya ingin tidak ada yang mengetahui hal ini. Agar kita bisa mengetahui siapa yang layak kita pertahankan atau yang tidak." ucap Airin.
"Ok, kita akan meminta bantuan orang-orang kepercayaan Perusahaan Golden yang sudah terbukti keahliannya." jawab om Bima.
"Baiklah om, lebih cepat lebih baik jika kita bisa mengantisipasi tidak kejahatan di lingkungan Sekolah kita ini. Semuanya saya percayakan kepada om Bima."
"Kalau begitu saya permisi dulu om, selamat bekerja." ucap Airin dengan sopan.
Setelah itu ia kembali masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran di kelasnya. Airin memperhatikan satu persatu teman-temannya yang sedang mengikuti pelajaran dengan serius.
Tak terlihat oleh Airin, bahwa mereka belajar dengan penuh rasa takut. Mereka merasa takut jika harus menjadi Sandra keluarga Fernandez.
Saat Airin memperhatikan Guru yang sedang menjelaskan materi di depan, Airin melihat tangan sang Guru gemetaran.
"Apa yang terjadi ? mengapa guru itu mengajar dengan gemetaran." batin Airin.
Lalu Airin memperhatikan teman-temannya satu persatu dengan lebih teliti lagi. Barulah terlihat ada beberapa siswa yang menyembunyikan rasa takutnya dengan berbagai cara.
Semua mata memandang ke arah Airin dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Apakah tidak ada jawab dari pertanyaan ku ini ?" tanya Airin lagi.
"Airin sejak Chika di bawa oleh Polisi, bagaimana kami bisa tenang. Jika keamanan kami dan keluarga kami juga terancam." jawab salah satu murid yang sejak tadi hanya diam membisu.
"Mengapa kalian berfikir seperti itu ?" tanya Airin polos.
"Apakah kau memang tidak mengetahui siapa keluarga Fernandez itu ? lihatlah Misel dan Serli telah dijemput oleh mereka. Karena Misel sebagai sahabat Chika pasti ia aman. Tetapi Serli ... ." ucapannya terhenti.
"Tetapi Serli ?" tanya Airin lagi.
"Apa yang bisa Serli lakukan untuk bisa melawan mereka, nasib seluruh keluarganya akan menjadi taruhannya. Serli hanya bisa pasrah mengikuti apa yang diperintahkan oleh mereka."
__ADS_1
"Meskipun selam ini, ia tidak pernah membantah apa yang diperintahkan oleh Chika, tetapi tetap saja bukan jaminan dia akan aman." jawab siswa itu.
"Serli, saya dengar kau adalah anak baru yang sudah berani melawan Chika, dan kamu juga bisa bebas tanpa syarat saat orang-orang keluarga Fernandez membawamu."
"Apa yang kau lakukan sehingga kau bisa terbebas dari mereka dengan mudahnya ?" tanya salah satu dari mereka.
"Karena aku tidak bersalah, dan aku bisa membuktikan hal itu jadi mereka tidak bisa menangkap ku. Kebetulan ada Polisi yang datang sehingga mereka tidak bisa melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan." jawab Airin.
"Kau cerdas Airin, sehingga dengan kecerdasan yang kau miliki kau bisa melindungi dirimu, tetapi bagi kami ! apa yang bisa kami lakukan untuk melindungi diri kami dan juga keluarga kami."
"Kami hanya berharap akan ada keajaiban, agar kami bisa bersekolah dan belajar tanpa rasa takut." jawab siswa tersebut dengan pasrah.
"Aku harus segera bertindak cepat jika tidak, akan banyak hal yang seharusnya tidak terjadi. Sungguh miris Sekolah yang seharusnya menjadi lembaga pendidikan yang menyenangkan berubah menjadi ajang Bullying." batin Airin.
Airin hanya bisa diam, ia bisa merasakan apa yang teman-temannya rasakan. Hanya suara detik jam didinding yang terdengar, suasana menjadi hening dan sunyi.
Bahkan dewan guru yang mengajar juga diam seribu bahasa. Ia yang seharusnya bisa menjadi pelindung bagi seluruh siswa dan siswinya justru ia yang paling merasakan ketakutan.
"Baiklah lebih baik kita lanjutkan pelajaran kita, semuanya jangan lupa untuk selalu berdoa agar semua ini segera berlalu." ucap Airin mencoba memberikan semangat untuk teman-temannya.
Kemudian suasana kelas menjadi lebih baik dari sebelumnya, kegiatan belajar mengajar juga berjalan sebagai mana mestinya.
Saat Airin sedang memikirkan apa yang harus ia lakukan, tiba-tiba Serli mengetuk pintu dan meminta ijin untuk bisa melanjutkan pelajaran.
"Serli ! bagaimana keadaan mu nak ?" tanya sang Guru.
"Tentu saja kami baik-baik saja. Memangnya kami kenapa sehingga anda bertanya seperti itu ?" jawab Misel yang menyelonong masuk mendahului Serli.
"Kami semua mengkhawatirkan kalian, karena kalian dijemput oleh tuan Fernandez. Tapi syukurlah jika kalian baik-baik saja." ucap sang Guru.
"Memangnya tuan Fernandez akan memakan kami ! kami bukanlah orang yang bersalah sehingga harus dihukum. Bukan begitu Serli ?" ucap Misel sambil tersenyum menatap Serli yang hanya diam membisu.
__ADS_1
Serli lalu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban pertanyaan Misel. Tetapi setelah itu ia menunduk dan segera mengeluarkan buku pelajarannya. Hal itu tidak lepas dari perhatian Airin.