
Tuan Fernandez segera dilarikan ke rumah sakit agar bisa mendapatkan pertolongan segera dan tepat sasaran.
Sementara Arian dan juga Deo, mengantarkan Chika bersama pelayannya menuju ke rumah sakit, selama dalam perjalanan suasana menjadi hening.
Hanya terdengar suara Isak tangis Chika. Semuanya hanya bisa diam tanpa bisa berkata apa-apa. Mereka bingung bagaimana caranya agar Chika bisa lebih tegar dalam menghadapi semua ini.
"Non Chika yang sabar ya, tuan pasti akan baik-baik saja." ucap pelayan itu sambil membelai rambut Chika.
"Mengapa semua ini bisa terjadi ? ayahku disekap dalam rumahnya sendiri dan seluruh orang tidak ada yang mengetahui ? bukankah ada banyak penjaga tetapi mengapa mereka semua tidak tau apa yang terjadi di dalam rumah."
"Sejak kapan ayah ditahan, tidak ada yang bisa menjelaskannya. Untung saja Arian memaksa untuk membuka pintu itu. Jika tidak mungkin kita akan menemukan ayah dalam kondisi telah membusuk." ucap Chika.
"Apakah kalian tidak mengetahui bahwa tuan Fernandez menyekap seseorang ?" tanya Arian.
"Kami tidak tau." jawab Chika.
Namun sang pelayan hanya bisa pasrah mengatakan hal yang sama seperti yang Chika ucapkan.
Arian dan juga Deo saling pandang, mereka tau apa yang dikatakan mereka tidak sesuai kenyataan yang sebenarnya. Namun keduanya hanya tersenyum mendengar penjelasan dari keduanya.
Setelah sampai mereka segera turun dan menuju ke ruang UGD di sana terlihat para penjaga kediaman keluarga Fernandez sedang berkumpul.
Mereka menundukkan kepalanya, sambil menunggu hasil pemeriksaan oleh tim Dokter yang sedang menangani tuannya.
Mereka langsung bergabung dengan para penjaga itu sambil duduk di ruang tunggu. Sunyi sepi malam yang dingin semakin membuat suasana semakin mencekam. Hanya detik jam dinding yang terdengar suaranya.
Hanya sebuah doa yang mereka panjatkan, semoga ada sebuah keajaiban sehingga tuan Fernandez segera bisa melewati masa kritis.
Setelah lama menunggu, akhirnya seorang Dokter keluar dan menemui mereka.
"Dokter bagaimana keadaan ayahku ?" tanya Chika.
"Nona kami sudah berjuang semampu kami, beliau sedang berjuang untuk menghadapi masa kritisnya. Jika beliau bisa melewati masa ini maka beliau akan baik-baik saja, tetapi jika sebaliknya, maka ikhlaskan beliau dan persiapkan prosesi pemakamannya." jawab sang Dokter dengan pelan.
__ADS_1
"Apa ? apa maksud Dokter, ayah ku pasti baik-baik saja." ucap Chika lagi sambil kembali menangis.
Sang Dokter hanya tersenyum kecut sambil menepuk-nepuk pundak Chika, kemudian berlalu meninggalkan tempat tersebut.
Semuanya dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh sang Dokter, bahwa saat ini tuan Fernandez sedang berjuang untuk bisa hidup kembali.
Kemudian tubuh tuan Fernandez segera dipindahkan ke ruangan ICU, begitu banyak kabel yang menempel ditubuhnya. Beliau bernafas saja menggunakan bantuan tabung oksigen.
Chika hanya bisa menatap sang ayah dari balik jendela kaca yang ada di ruangan ICU tersebut.
"Ayah bertahanlah demi Chika." ucap Chika sambil berurai air mata.
"Chika kau yang sabar ya,.maaf tidak bisa menemani sampai pagi. Kami harus segera pulang karena malam semakin larut. Kami pamit undur diri." ucap Arian.
"Terimakasih banyak Arian, Deo. Pulanglah kalian. Jangan khawatir ini banyak yang menemani ku untuk menunggu ayah." jawab Chika.
Kemudian Arian dan Deo segera berlalu meninggalkan rumah sakit. Hanya Chika dan para penjaga dan juga pelayan yang menunggu di sana.
"Tidak aku tidak mau pulang, aku ingin disini bersama yang lainnya. Seandainya waktu itu kita memeriksa keadaan yang ada didalam kamar kosong itu mungkin sekarang keadaan ayah jauh lebih baik."
"Semuanya adalah salah ku, mengapa aku mengabaikan saat mereka bilang ada seorang temanku yang disekap di sana oleh ayah." ucap Chika dengan penuh penyesalan.
"Maafkan kami non, kami semua tidak becus bekerja sehingga kami tidak mengetahui bahwa orang yang berada di dalam kamar kosong itu adalah tuan bukan gadis itu." ucap salah satu penjaga itu.
"Sudahlah semuanya sudah berlalu. Sekarang lebih baik kita doakan ayah semoga dapat melewati masa kritis ini." ucap Chika.
Kemudian Chika duduk di kursi tunggu. Ia hanya menatap kosong lantai rumah sakit itu dengan pikiran kosong.
"Siapa yang berani melakukan hal ini, dia cari mati dengan mengusik ketenangan rumah Fernandez." ucap Chika dalam hati.
Susana kembali sunyi, perlahan Chika tertidur di kursi tunggu itu. Dengan sabar pelayan itu menyelimuti tubuh Chika agar tidak kedinginan.
Sementara Arian dan juga Deo, baru saja sampai di rumah, Deo menginap di rumah Arian. Ia ingin segera beristirahat karena malam semakin pekat.
__ADS_1
Setelah membersihkan diri, keduanya langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Deo merasa tubuhnya sakit semua karena membuka pintu dengan paksa. Punggungnya terasa sakit dan pegal semua.
"Arian mengapa kau tidak merasa sakit atau yang lainnya. Padahal kita tadi sama-sama membuka pintu itu dengan paksa." ucap Deo.
"Sebenarnya kita sama Deo, hanya saja aku tidak mengeluh seperti dirimu." jawab Arian.
"Arian apakah kau merasa ada sesuatu yang terlupakan ?" tanya Deo lagi.
"Aku sejak tadi diam karena sedang berfikir." jawab Arian.
Kemudian mereka sama-sama terdiam. Namun detik berikutnya keduanya bangkit dan saling menatap.
"Ponsel Chika ! ya kita melupakan ponsel Chika." ucap keduanya secara bersamaan.
"Padahal kita tadi sudah masuk dan tinggal mengambilnya." ucap Deo.
"Tetapi bagaimana ponsel Chika ada di ruangan itu ?" ucap Deo lagi.
"Itu artinya, saat tuan Fernandez menjadi Sandra di rumahnya sendiri terjadi sebelum Chika pulang."
"Dan bukankah ponsel Chika berada di tangan Misel. Kita bisa mencari tau peristiwa ini dimulai dari Misel." ucap Arian.
"Kau benar, tetapi bukankah kediaman keluarga Fernandez itu dilengkapi cctv? tapi mengapa tidak ada yang mengetahui jika orang yang mereka sekap telah kabur dan digantikan oleh tuan Fernandez."
"Dan bukankah seharusnya mereka merasa kehilangan tuan mereka. Pasti tuan Fernandez sudah berada di sana lebih dari dua hari." ucap Deo.
"Itu artinya bukan hanya kita berdua yang mendatangi keluarga Fernandez. Pasti ada orang hebat dibalik semua ini." jawab Arian.
"Maksudnya ?" tanya Deo dengan bingung.
"Ada orang hebat yang berhasil masuk dan menyelamatkan orang yang disekap itu, dan mereka bisa mengelabuhi para penjaga yang ada, termasuk cctv yang ada di kediaman Fernandez." jawab Arian.
"Baguslah kalau begitu. Keluarga Fernandez memang perlu diberi sedikit pelajaran agar mereka tidak merasa paling hebat sehingga bertindak sesuka hati mereka untuk menindas kaum yang lemah dan miskin seperti kami." ucap Deo dengan penuh semangat.
__ADS_1