29 Hari

29 Hari
Bab. 22. Kesedihan


__ADS_3

Perasaan sedih yang sangat mendalam dapat merubah kondisi psikis seseorang. Kesedihan bisa membuat seseorang untuk melakukan hal yang tidak pernah terduga sebelumnya.


Serli yang biasanya selalu ceria, kini hanya diam membisu dengan air mata yang tak pernah berhenti menetes. Ia memandang ke atap-atap langit kamar Mang Udin. Dalam diamnya ia berdialog sendiri.


"Seandainya dapat bertemu dengan Tuhan, aku akan bertanya kepadan-Nya mengapa aku harus menjalani kejadian seperti ini padahal tak pernah aku minta".


"Bahkan air mata ini tak cukup untuk mengungkapkan betapa sakitnya aku saat ini. Jika tidur lebih baik dari pada bangun, maka aku akan memilih untuk tidur selamnya agar aku tidak lagi merasakan hal semacam ini lagi".


"Aku tidak pernah meminta untuk terlahir dari keluarga yang kurang mampu, aku juga tidak pernah meminta untuk menjadi sasaran kebiadaban mereka."


"Tetapi aku bahagia karena terlahir dari mereka yang kaya hati. Semoga mereka tetap berbahagia dan menjadi lebih baik lagi. Semoga setiap kebaikan yang mereka tanam akan segera mereka tuai dengan hasil yang sangat luar biasa." ucap Serli lirih.


Setelah menatana hati dan pikirannya, ia kemudian bangkit dan melangkah keluar. Terlihat mang Udin yang sudah selesai mengerjakan pekerjaannya dan beliau berjalan menghampiri Serli.


"Neng apakah sudah lebih baik ?" tanya mang Udin dengan ramah.


Serli hanya tersenyum melihat mang Udin, kemudian ia duduk di bangku yang berada di depan tempat tinggal mang Udin.


"Neng hari ini ada kejadian yang sangat luar biasa. Tadi pagi entah apa yang terjadi antara neng Airin dan nona Chika, sehingga membuat neng Airin di tangkap oleh orang-orang suruhan keluarga Fernandez." ucap mang Udin sambil menghela nafasnya.


"Airin dibawa oleh orang-orang suruhan keluarga Fernandez ?" tanya Serli dengan khawatir.


"Iya non, tapi entah apa yang terjadi tiba-tiba neng Airin dilepaskan oleh mereka dan segera kembali ke dalam kelas."


"Tak lama setelah itu datanglah beberapa Polisi kemudian mereka menuju kelas dan menjemput paksa Nona Chika." jelas mang Udin.

__ADS_1


"Polisi datang menangkap Chika ?" tanya Serli dengan heran.


"Iya neng, mang Udin lihat Nona Chika dibawa dengan tangan diborgol dan dibawa dengan menggunakan mobil Polisi." jawab mang Udin.


"Seharusnya Chika mendapatkan ganjaran yang setimpal atas semua perbuatannya. Tetapi apakah mungkin keluarga Fernandez bisa dikalahkan ?"


"Lalu apa yang membuat Airin bisa.lepas begitu saja dari mereka. Apakah ini hanya siasat dari mereka saja ?"


"Airin aku berharap kau dan keluarga mu tidak akan mengalami hal buruk. Kau adalah siswa baru di sini dan mungkin kau adalah orang baru sehingga kau tidak tau siapa Chika."


"Chika dan keluarga Fernandez adalah kutukan untuk semua warga yang berada di kota ini. Seandainya aku bisa mengingatkan mu Airin."


"Tetapi bagaimana caranya aku bisa mengingatkan mu, sedangkan kau dan aku jarang sekali bertemu dan parahnya lagi, aku tidak mempunyai keberanian untuk menunjukkan muka lagi di depan semua teman-teman." batin. Serli.


"Neng mengapa melamun ?" tanya mang Udin.


Terbayang kembali di saat ia harus melepaskan seragamnya hanya untuk membersihkan lantai yang basah itu. Tanpa belas kasihan Chika malah dengan sengaja mengambil video saat Serli yang tanpa menggunakan seragam membersihkan lantai dengan seragamnya itu.


Dimana hati nurani mereka, mereka dengan bangga membuka pakaian yang seharusnya menjadi penutup tubuh seorang gadis, tetapi mereka malah membukanya dengan paksa.


Sebuah aib bagi seseorang malah dijadikan sebuah tontonan bagi mereka yang tidak mempunyai hati.


"Kau benar neng, mang Udin juga berfikir demikian. Bagaimana nasib neng Airin dan keluarganya nanti. Kita hanya bisa membantu mereka dengan do,a neng." ucap mang Udin sambil menghela nafas.


"Neng, neng Serli mau masuk ke kelas lagi atau mau pulang ? kalau mau pulang mari mang Udin antar. Mang Udin lihat neng Serli begitu sedih bahkan mata neng Serli sangat bengkak sekali neng."

__ADS_1


"Mungkin jika berada di dekat keluarga neng Serli, neng Serli bisa berbagi kesedihan dengan mereka sehingga beban hati neng Serli bisa berkurang."


"Tetapi jika neng Serli ingin masuk kembali sebaiknya wajah neng Serli dibersihkan dahulu dan kopreslah dengan air hangat agar sedikit mengurangi bengkaknya neng." ucap mang Udin dengan lembut.


"Terimakasih mang, tetapi saya ingin pulang saja mang. Saya ingin beristirahat di rumah. Jika sudah lebih baik besok saya akan mengikuti pelajaran lagi." jawab Serli.


Setelah berkata demikian, Serli bangkit dari tempat duduknya dan segera masuk untuk mengambil peralatan Sekolahnya.


Sementara mang Udin menyiapkan motor baru yang ia peroleh dari pemilik Golden A&H. Mereka membelah jalan raya dengan segudang kesibukannya.


Cahaya matahari yang bersinar terang, tidak menghalangi kedua insan beda generasi itu untuk terus melanjutkan perjalanan mereka, sama seperti jalan kehidupan mereka yang masih panjang, maka mau tidak mau harus tetap mereka lalui.


Setelah sampai di depan rumahnya Serli segera turun, dan mengajak mang Udin untuk masuk ke rumahnya, namun mang Udin menolaknya dengan alasan bahwa saat ini masih jam kerja untuk dirinya.


Sehingga ia harus segera kembali untuk melanjutkan pekerjaannya. Setelah berbasa-basi mang Udin kembali melakukan motornya menuju SMA Golden A&H, sebuah Sekolah kebanggaan banyak orang yang merupakan tempat ia tinggal dan mencari nafkah.


Namun siapa yang menyangka bahwa Serli tidak jadi masuk ke rumah, ia memutar langkah dan berjalan meninggalkan rumah tempat ia menumpahkan segala rasa.


Namun saat ini, ia tidak ingin ada salah satu dari keluarga mengetahui apa yang baru saja ia alami. Ia hanya ingin menenangkan diri sebelum kembali ke rumahnya.


Ia berjalan menuju sebuah taman bermain anak, ia duduk di salah satu kursi yang ada di taman tersebut. Ia menatap setiap wajah-wajah anak kecil yang begitu ceria menikmati setiap permainan mereka.


Canda dan tawa mereka begitu tulus, sebuah tawa yang keluar dari dalam hati yang begitu bahagia.


"Seandainya dulu aku tidak masuk ke sekolah Golden A&H, mungkin saat ini aku bisa tertawa lepas bersama dengan teman-teman ku yang memiliki derajat yang sama denganku."

__ADS_1


"Mungkin saat ini, aku masih duduk di bangku Sekolah dengan penuh semangat tanpa bayang-bayang mereka yang begitu menakutkan. Mungkin saat ini aku bisa bernafas lega tanpa sebuah beban." batin Serli sambil menatap lurus ke depan, melihat betapa bahagianya anak-anak itu bermain.


__ADS_2