29 Hari

29 Hari
Bab. 38. Jurus Jitu Deo


__ADS_3

Chika dan kedua pelayan itu saling pandang, kemudian menatap penjaga itu secara bersamaan.


"Apa kau yakin ?" tanya Chika kepada penjaga itu.


"Iya Nono, temen nona yang bernama Misel yang mengantarkan keruang itu bersama orang suruhan tuan." jawab penjaga itu.


"Apakah dia tidak diberi makan ? mengapa kami tidak diperintahkan untuk itu ?" tanya salah satu pelayan itu.


"Kalau untuk itu saya tidak tau, baiklah nona saya kembali berjaga. Dan jangan takut itu bukan suara setan." ucap penjaga itu lalu pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Kalau begitu mari kita pergi dari sini." ucap Chika.


"Tapi non, apakah kita tidak perlu melihat orang yang ada di dalam itu ? atau kita beri dia makan dan minum, kasihan non jika dibiarkan terus menerus dia bisa mati kelaparan." ucap salah satu pelayan itu.


"Jika mau beri saja dia makan, tetapi ingat jika ayahku murka jangan salahkan beliau karena kalian tidak mengikuti apa yang diperintahkan oleh beliau." ucap Chika sambil meninggalkan tempat tersebut.


"Sungguh malang nasibnya, semoga tuan berbelas kasihan dan segera membebaskannya seperti janjinya karena non Chika sudah dibebaskan dia hari yang lalu."


"Kasihan dia, siapapun dia semoga ada yang segera menyelamatkan dia." batin sang pelayan.


Kemudian kedua pelayan itu mengikuti Chika meninggalkan tempat tersebut, dengan berharap ada yang segera menolong orang yang ada di dalam kamar kosong tersebut.


Sementara Chika masuk kedalam kamarnya dan hendak tidur lagi, namun ia urungkan niatnya dan ia segera keluar untuk mencari ayahnya.


Chika berjalan menuju kamar sang ayah. Setelah sampai Chika mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada jawaban.


Perlahan Chika membuka pintu kamar itu kemudian ia segera masuk ke dalam.


"Ayah, ayah dimana Chika sudah pulang ayah." ucap Chika sambil mencari ayahnya ke seluruh sudut ruangan itu, namun ia tidak menemukan ayahnya.


"Sebenarnya ayah dimana ? kamar ini seperti belum ditempati semuanya masih rapi. Apakah ayah belum pulang dari kantornya. Kalau begitu biar aku telpon dulu, pasti beliau akan senang jika tau bahwa aku sudah bebas dan ia masih mempunyai tawanan." ucap Chika sambil berlalu meninggalkan kamar tersebut.


Setelah sampai ia segera mencari ponselnya. Ia mencari-cari ponselnya namun tidak menemukannya.

__ADS_1


"Dimana ponselku ? buka kah biasanya ada disini." ucap Chika sambil mencari ponselnya di laci mejanya.


"Ah aku lupa bukankah ponsel itu bersama ayah, aku lebih baik berpesan kepada penjaga agar ia segera memberitahukan kepada ayah bahwa aku sudah pulang." ucap Chika.


Chika keluar dan mencari penjaga untuk memberikan pesan tersebut. Setelah itu ia kembali ke kamarnya untuk beristirahat kembali.


Sejak ia pulang dari penjara itu, ia selalu merasa lelah dan mengantuk setelah makan kekenyangan. Ia seakan ingin membalaskan dendam. Rasa laparnya dan juga rasa kantuknya selama di dalam penjara.


Sementara di rumah Serli, ia sedang duduk termenung di meja belajarnya. Ia terbayang kembali kejadian yang hampir saja merenggut kehormatannya.


Sejak saat itu, ia belum berani untuk masuk sekolah. Ia masih enggan untuk pergi dari rumahnya.


Ia merasa trauma dengan kejadian mengerikan itu. Namun ia sudah menceritakan dengan jujur kepada kedua orang tuanya, tentang kejadian itu.


Sehingga keluarga Serli juga merasa takut untuk beraktivitas di luar rumah seperti biasanya. Mereka takut jika orang-orang tuan Fernandez akan menuntut balas kepada keluarga mereka.


Disaat Serli masih melamun, terdengar suara mobil yang berhenti tepat di depan rumahnya. Mobil mewah itu membuat penghuni rumah itu diserang rasa takut yang luar biasa.


Kedua orang tua Serli, segera masuk ke kamar Serli dan mereka ingin keluar rumah untuk menyelamatkan diri.


Serli mencoba mengintip dari jendela kamarnya. Setelah yakin bahwa itu bukanlah orang-orang suruhan tuan Fernandez. Serli berjalan dan segera membukakan pintu.


"Hai selamat datang semua, maaf telat membukakan pintu." ucap Serli dengan tersenyum.


"Tidak masalah." jawab Deo dengan tersenyum manis.


"Serli ini ada sedikit makanan untuk adikmu, semoga ia menyukainya." ucap Airin sambil memberikan dua kantong plastik yang penuh dengan berbagai macam makanan dan juga minuman.


"Terimakasih Airin, maaf belum bisa membalas semua kebaikan mu." ucap Serli dengan tulus.


Setelah itu mereka masuk dan duduk di ruang tamu. Sementara Serli masuk dan membuatkan teh hangat untuk mereka.


"Silakan diminum, maaf tidak bisa menyediakan apa-apa." ucap Serli.

__ADS_1


"Tidak masalah, segelas teh manis yang disuguhkan dengan senyum manis akan jauh lebih nikmat dari pada banyak hidangan tetapi disuguhkan dengan muka jutek." jawab Deo.


Kemudian mereka tertawa mendengar kata-kata Deo, yang mulai mengeluarkan jurus-jurus andalannya.


"Deo, sebenarnya kau ambil jurusan sastra di mana ? bukankah di SMA Golden A&H tidak ada jurusan sastra ?" tanya Arian iseng.


"Arian ini bukan masalah sastra tetapi kalimat itu keluar dari lubuk hati yang paling dalam, ia mengalir dengan sendirinya saat melihat senyum manis dari Serli." jawab Deo.


"Sepertinya aku harus belajar banyak kepadamu, agar bisa merangkai kata untuk sang dambaan hati." ucap Arian sambil melirik ke arah Airin.


"Serli, mengapa dia hari ini kau tidak masuk sekolah ? apakah ada sesuatu yang membuat kau harus ijin ?" tanya Airin.


"Iya Serli, kami jadi merasa khawatir dengan keadaan mu." ucap Deo.


"Tidak, aku hanya belum siap untuk keluar rumah. Sejak kejadian itu, aku merasa takut untuk keluar tanpa keluarga ku." jawab Serli dengan jujur.


"Apa yang kau takutkan ?' tanya Airin.


Namun Serli hanya menundukkan kepalanya. Ia tidak berani berkata jujur kepada Airin, tentang ketakutannya kepada keluarga Fernandez.


"Serli, jika kau takut aku bisa menjemput dan mengantarkan mu ke sekolah. Kau jangan takut ada kami yang selalu siap siaga untuk menjagamu." ucap Deo mencoba meyakinkan Serli.


"Deo aja kali bukan kami." ucap Arian.


"Kau ini, sirik aja kalau lihat teman bahagia." ucap Deo sambil melirik ke arah Arian.


"Maaf, maafkan saya tuan muda Deo." jawab Arian sambil sedikit membungkuk.


Sementara Serli dan juga Airin hanya tersenyum melihat keakraban antara Deo dan juga Arian.


"Serli, kau jangan takut. Setiap masalah yang ada harus kita hadapi bukan kita hindari. Apapun hasilnya kita harus bisa menghadapi setiap masalah yang ada."


"Karena jika kita terus menghindar maka, Maslah itu bukannya terselesaikan malah timbul masalah baru. Dan lama kelamaan masalah itu semakin membesar sehingga kita akan sangat sulit untuk menyelesaikannya."

__ADS_1


"Jika kau perlu bantuan jangan sungkan, sampaikanlah siapa tau ada diantara kami yang bisa membantu." ucap Airin sambil tersenyum melihat Serli.


__ADS_2