29 Hari

29 Hari
Bab. 46. Sarapan


__ADS_3

Setiap insan sedang terlelap dalam tidurnya masing-masing. Meninggalkan semua aktivitas yang mereka kerjakan seharian penuh.


Begitu juga dengan Airin, sesampainya ia di mansion utama, ia menemui kedua orang tuanya dan berbincang-bincang sebentar setelah itu ia beristirahat di kamarnya. Ia terlelap dan menjemput mimpi indahnya.


Sementara pelayan dan para penjaga keluarga Fernandez sedang menikmati makan malam yang dikirim oleh orang suruhan Airin.


Mereka makan dengan begitu lahapnya, jarang bagi mereka untuk bisa makan makanan dari restoran bintang lima seperti ini.


"Sebenarnya siapa gadis cantik tadi. Ia sangat baik, ia mengingatkan kita untuk menjaga kesehatan kita tetapi juga mengirimkan makanan yang bergizi dan sangat nikmat." ucap salah satu dari mereka.


"Siapapun dia, kita beruntung bisa bertemu dengan dia. Gadis yang memiliki kecantikan luar dalam. Beruntunglah mereka yang bekerja bersamanya."


"Ia benar sekali, kau lihat tadi pelayan restoran yang mengantarkan makanan tadi, jam tangan yang di pakai ditangannya adalah jam tangan yang sangat mahal, aku pernah melihat itu di antara kolega tuan Fernandez."


"Kau bisa bayangkan berapa uang yang dikeluarkan untuk mereka, sedangkan untuk membantu kita saja pasti uang yang dia keluarkan setara dengan gaji kita satu bulan."


Begitulah kiranya ucapan demi ucapan dari mereka sambil menikmati makan malam mereka.


Mereka bersyukur sekali bisa bertemu dengan Airin, gadis cantik yang begitu baik hatinya.


Setelah mereka selesai makan malam, mereka kembali mengerjakan apa yang seharusnya mereka kerjakan. Mereka bergantian untuk berjaga.


Sebagai mereka beristirahat dan sebagian lagi tetap berjaga. Sedangkan sang pelayan itu, ikut beristirahat di dekat Chika setelah ia memastikan keadaan Chika dengan baik.


Hingga pagi menjelang, pelayan itu bangun kembali dan bersiap untuk membangunkan Chika.


Belum sempat ia melakukannya, sang Dokter yang menangani tuan Fernandez telah keluar dari ruangan ICU tempat majikannya dirawat.


"Dokter bagaimana dengan keadaan tuan Fernandez ?" tanya sang pelayan itu.


"Beliau sudah melewati masa kritis, saat ini kondisi beliau sudah stabil. Hanya saja beliau belum siuman. Jika nanti beliau sudah siuman kita bisa memindahkan beliau ke ruang perawatan." jelas sang Dokter.

__ADS_1


"Baiklah Dokter terimakasih banyak atas informasinya. Kami sangat bersyukur karena tuan sudah bisa melewati masa kritisnya." jawab pelayan itu dengan tersenyum .


Dokter tersebut kemudian berlalu meninggalkan mereka semua. Ketika ia hendak bangkit tiba-tiba datang lagi seorang yang berpakaian seperti pelayan restoran yang membawakan mereka makan untuk sarapan pagi.


"Maaf tuan kami tidak memesan makanan ini." ucap pelayan itu.


"Kalian memang tidak memesannya tetapi nona kami yang meminta kami untuk mengantarkan makanan ini untuk kalian." jawab pelayan restoran itu.


"Nona ? siapakah nona itu ?" tanya mereka secara bersamaan.


"Gadis cantik yang semalam memesan makan untuk kalian. Baiklah kami permisi, silakan di nikmati sarapan ini, ingat sarapan lebih penting dari pada harapan." ucap pelayan restoran itu dengan tersenyum ramah kemudian berlalu meninggalkan mereka.


Setelah pelayan restoran itu berlalu, mereka segera menikmati makanan mereka masing-masing sebelum Chika terbangun sehingga mereka tidak akan bisa untuk menikmati makanan selezat ini.


Setelah selesai mereka segera kembali ke posisi mereka masing-masing. Sedangkan pelayan itu segera membangunkan Chika.


"Selamat pagi non Chika, saat ini sudah pagi lebih baik non Chika segera bangun dan membersihkan diri setelah itu sarapan." ucap pelayan itu dengan lembut.


Perlahan Chika membuka kedua matanya, setelah beberapa saat ia bangun kemudian duduk di samping pelayan itu.


"Kata Dokter yang memeriksa kondisi tuan sudah lebih baik, beliau telah berhasil melewati masa kritisnya."


"Hanya saja beliau belum siuman, nanti jika beliau sudah siuman akan segera dipindahkan ke ruang perawatan." jawab pelayan itu.


"Baguslah kalau begitu, aku tidak perlu tidur di tempat ini lagi." ucap Chika cuek.


Kemudian Chika berlalu meninggalkan mereka menuju kamar mandi. Sementara mereka hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Chika.


Sungguh sangat jauh berbeda dari gadis cantik yang mereka temui semalam. Padahal ia mengaku sebagai teman Chika, tetapi kepribadiannya jauh lebih baik dari Chika dan teman-temannya.


Setelah beberapa saat, akhirnya Chika kembali lagi. Pelayan itu segera menyiapkan makanan yang sudah disiapkan khusus untuk Chika

__ADS_1


"Non sarapan dulu, ini ada makanan dari teman non Chika." ucap pelayan itu sambil menyodorkan makanan kearah Chika.


Tanpa pikir panjang lagi Chika segera melahap makanan yang ada di depannya, Chika makan begitu lahapnya tanpa bertanya apakah mereka sudah amakn atau belum.


"Untung saja kita sudah kenyang lebih dahulu dan makanan yang kita makan sama dengan yang dimakan oleh non Chika, kalau tidak bisa keluar air liur ku.' bisik salah satu penjaga itu.


Temannya hanya mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan itu. Tetapi mereka mencoba bersikap seperti semula agar tidak merubah perasaan Chika yang masih baik.


"Siapa yang mengirimkan makanan yang mahal ini ? dia tau sekali bahwa aku sudah lama tidak makan makanan dari restoran bintang lima ini." ucap Chika.


"Kami tidak tau namanya non, pelayan restoran tadi hanya bilang kalau makanan ini dari teman satu sekolah non Chika, begitu." jawab pelayan itu dengan sopan.


"Teman sekolah ku yang mampu membeli makanan semahal ini siapa ?" tanya Chika sambil berfikir.


Sementara pelayan itu hanya menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak tau siapa gadis cantik yang semalam mengunjungi mereka.


"Pasti Arian yang mengirimkan makanan ini, karena hanya dia yang mampu membeli makanan semahal ini, dan hanya dia yang mengetahui bahwa aku sedang berada di rumah sakit ini."


"Arian kau perhatian sekali, aku semakin yakin bahwa kau juga memiliki perasaan yang sama seperti yang aku rasakan."


"Arian, I love you." ucap Chika dengan lirih.


Wajah Chika menjadi merona saat ia membayangkan Arian memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.


Chika tersenyum, kemudian ia berkhayal tentang kebersamaannya semalam yang sempat terganggu dengan kondisi ayahnya.


Sementara pelayan dan penjaga yang melihat tingkah Chika hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia sangat heran dengan sikap Chika.


Seharusnya ia bersedih atau setidaknya ia melihat kondisi sang ayah, tetapi Chika malah asik dengan khayalannya tentang Arian.


Pemuda tampan yang semalam telah mendobrak pintu kamar kosong itu demi menyelamatkan orang yang berada di dalamnya.

__ADS_1


Mereka semua tak habis pikir bagaimana bisa, tuan Fernandez yang berada di dalam kamar kosong itu dengan kondisi yang sudah sangat memprihatikan.


Selama ini mereka mengira suara yang berasal dari kamar kosong itu adalah suara seseorang yang sengaja disekap oleh tuan Fernandez demi kepentingan pribadi.


__ADS_2