
Ibu Iyem mempersilahkan keduanya untuk masuk ke dalam rumah. Setelah itu beliau membuat teh hangat dan beberapa makanan ringan. Saat ibu Iyem mempersilahkan keduanya untuk menikmatinya, Airin keluar dari dalam kamar.
"Chika kau ?" tanya Airin penasaran.
"Airin." ucap Chika dengan terkejut.
"Kalian saling mengenal ? baguslah kalau begitu. Ibu kira ada apa mereka datang malam-malam begini, ternyata . mereka adalah kenalan mu ya." ucap Ibu Iyem.
"Iya Bu, Chika adalah teman satu kelas Airin. Tetapi tujuan mereka kesini Airin tidak tau, malah Airin heran malam-malam seperti ini, nona muda dari keluarga Fernandez berkunjung ke mari." jawab Airin.
"Seandainya aku tau rumah ini adalah rumahmu, aku tidak akan Sudi datang kemari." jawab Chika sambil memalingkan wajahnya.
"Bagaimana kamu bisa bilang tidak tau, rumah seorang tukang sapu jalanan yang telah terbakar itu. Atau kau sebenarnya punya tujuan yang lainnya ?" tanya Airin lagi.
Chika terdiam, ia sama sekali tidak mengetahui bahwa rumah yang ia tuju dan berharap sang pemilik rumah bisa membantunya untuk melanjutkan hidup adalah rumah seseorang yang sangat ia benci.
Bahkan rumah itu sudah ia bakar dengan bantuan seseorang diwaktu itu. Tetapi nasi telah menjadi bubur. Ia tidak tau bagaimana dan apa yang harus ia lakukan sekarang.
Disaat Chika sedang berfikir, ponsel Airin berdering kemudian ia segera mengangkatnya dan memecahkan kesunyian yang terjadi di ruangan itu.
"Halo, apa yang terjadi ?" tanya Airin pada intinya.
Setelah beberapa saat mendengar penjelasan si penelepon Airin melihat ke arah Chika dengan pikiran yang rumit.
Airin mendapatkan kabar bahwa keluarga Fernandez telah benar-benar hancur, bahkan tuan Fernandez ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa dan masih menggantung di sebuah ruangan kosong.
Sedangkan dikamar yang lainnya, ditemukan Serli yang dalam kondisi pingsan dan dalam pengaruh obat, dan yang lebih parahnya lagi Serli dalam kondisi tidak mengenakan sehelai benangpun.
__ADS_1
Dan dikamar tersebut juga ditemukan sebuah kamera yang merekam kejadian sebelumnya. Tetapi dalam rekaman itu Serli belum sempat di ambil mahkotanya hanya melakukan sesuatu sebelum hal itu saja.
Airin segera mematikan ponselnya, ia sekarang paham mengapa Chika malam-malam begini keluar dari rumah bersama seorang pelayan dan membawa koper yang besar dan lebih dari satu.
Hanya ia belum mengerti mengapa rumah ibu Iyem yang mereka tuju. Apakah ada hubungan antara keluarga Fernandez dengan ibu Iyem ? sebuah pertanyaan yang ingin Airin ketahui.
"Chika jangan sungkan, jika kau ada keperluan dengan pemilik rumah ini silakan katakan saja jangan sungkan. Aku bukanlah anak kandung ibu Iyem ini."
"Aku hanya menumpang tinggal di sini dan itupun belum ada satu bulan. Jadi katakanlah dengan jujur dengan pemilik rumah ini." ucap Airin sambil tersenyum.
"Benarkah ini bukan rumah mu ?" tanya Chika dengan serius.
"Iya, ini bukan rumahku. Aku hanya menumpang saja." jawab Airin.
"Baiklah kalau begitu. Sebenarnya aku datang ke sini untuk memberikan surat ini. Aku tidak tau mengapa aku disuruh datang ke mari oleh ayahku." jawab Chika dengan jujur.
"Nak Airin, bisakah nak Airin bantu ibu untuk membaca surat ini. Penglihatan ibu kurang baik jika dimalam hari." ucap ibu Iyem sambil menyerahkan surat itu kepada Airin.
Airin segera menerima kemudian ia membaca surat tersebut untuk ibu Iyem.
* Untuk Iyem adikku *
*Iyem, jika suatu saat kau menerima surat ini dari seorang anak perempuan, itu berarti dia adalah anak ku yang berarti dia adalah keponakan mu. Mb tidak tau kapan kau bisa membaca surat ini. Tetapi jika kau telah membacanya tolong rawatlah keponakanmu ini, tolong didik dia dan sayangi dia seperti kau menyayangi anak mu sendiri. Mb minta maaf karena mb telah kabur dari rumah orang tua kita dan pergi bersama mas Fernandez demi anak yang ada didalam kandungan mb agar anak itu lahir dan dia akui oleh ayah kandungnya. Dan jika kau membaca surat ini berarti mb sudah tidak ada lagi di dunia ini.*
*Mb Ina*
Tulis surat itu, ibu Iyem kemudian menatap Chika dengan berurai air mata. Terlintas bayangan dimasa lalu yang sudah sekian lama ia lupakan.
__ADS_1
"Jadi kau adalah adik kandung dari almarhum ibu ku ?" tanya Chika.
"Sekarang bukan waktunya untuk bersedih lagi, saat ini ada keponakan ibu yang mungkin selam ini ibu rindukan. Peluklah ia ibu." ucap Airin sambil mengusap air mata yang menetes di pipi ibu Iyem.
"Keponakan bibi." ucap Ibu Iyem sambil memeluk tubuh Chika dengan erat.
Ada sebuah kehangatan yang selama ini belum pernah Chika rasakan. Rasanya begitu hangat dan damai. Apakah ini rasanya dipeluk oleh seseorang yang dengan tulus mencintai kita ? begitulah tanya Chika dalam benaknya.
Kemudian Chika membalas pelukan yang terasa begitu hangat dan ia begitu menikmatinya. Ada bunga-bunga yang bermekaran di dalam hatinya.
"Chika malam ini kau bisa memakai kamar yang selam ini aku tempati, aku akan mengemasi barang-barang pribadi ku." ucap Airin kemudian ia berlalu meninggalkan mereka yang sedang melepas rindu.
"Lebih cepat kau pergi itu lebih baik, Meskipun aku pernah membakar rumah ini. Tapi rumah ini telah diperbaiki oleh perusahaan Golden dan itu tidak ada hubungannya dengan mu." batin Chika.
"Tante, bolehkah aku tinggal disini ?" tanya Chika sambil melepaskan pelukannya.
"Tentu saja boleh nak, jika memang ayahmu tidak menggunakan mu lagi kau boleh tinggal di sini selamnya." ucap ibu Iyem dengan tersenyum.
"Sekarang minumlah dahulu biar perutmu lebih hangat." ucap ibu Iyem dengan tulus.
Kemudian mereka ngobrol sambil menikmati cemilan yang ada di atas meja. Kemudian Airin keluar dengan membawa tas ransel yang berisi barang-barang pribadinya.
"Ibu, karena sudah ada keponakan ibu Iyem, jadi Airin pamit untuk pulang ke rumah orang tua Airin. Maafkan jika selama ini Airin melakukan kesalahan yang mungkin menggores luka di hati ibu." ucap Airin sambil memeluk tubuh wanita yang hampir satu bulan ini ia anggap seperti ibunya sendiri.
"Nak tapi ini sudah malam, bagaimana jika besok saja kau pulang, malam ini kita bisa tidur bersama sebelum kau pulang." ucap ibu Iyem.
"Ibu jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Malam ini lebih baik ibu temani keponakan ibu, mungkin banyak hal yang ingin ia ceritakan atau mungkin juga ia ingin menghabiskan waktu bersama ibu lebih lama lagi."
__ADS_1
"Airin bisa mengunjungi ibu ditempat kerja ibu, kita bisa berbicara di sana seperti biasanya. Jadi tidak ada yang perlu dikawatirkan lagi." ucap Airin.