
Setiap kehidupan yang bahagia tak akan pernah ada tanpa sedikitpun kegelapan. Kata bahagia akan kehilangan maknanya jika tidak di seimbangkan dengan kesedihan. Akan tetapi lebih bijak jika menerima segalanya dengan penuh kesabaran.
Ingatlah jangan pernah meremehkan hidup. Dan ingatlah untuk menjalani hidup ini dengan penuh rasa syukur dalam setiap keadaan.
Jika kita tidak bisa, maka kita akan merasa bahwa kehidupan yang kita jalani ini begitu berat dan sengsara.Tidak ada kebahagiaan yang ada hanya kesedihan di setiap jalan hidup yang kita lalui.
Sama halnya dengan Serli, ia terlihat sangat murung. Sejak ia masuk ke dalam kelas dan mengikuti pelajaran, ia hanya diam seribu bahasa tanpa ada senyuman apalagi sebuah tawa.
Hal itu semakin membuat Airin curiga dengan Serli. Ia sama sekali tidak memperhatikan pelajaran yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya agar Serli bisa berkata dengan jujur.
Saat jam istirahat, Serli tetap diam di tempatnya. Ia melamun, sampai-sampai ia tidak menyadari saat Airin sudah berada di dekatnya.
"Boleh aku duduk di sini ?" tanya Airin.
Namun Serli tetap menatap meja didepannya dengan tatapan mata yang kosong. Airin perlahan menyentuh tangan Serli, sehingga Serli meloncat karena kaget.
"Kau ... ." ucap Serli sambil mengatur nafasnya.
"Maaf, habisnya di ajak ngomong dari tadi hanya bengong saja." ucap Airin sambil tersenyum melihat reaksi Serli.
Perlahan Serli kembali duduk di dekat Airin. Ia bingung harus berkata apa. Sementara Airin masih tetap memperhatikan setiap gerak geriknya.
"Airin apakah ada sesuatu ?" tanya Serli sambil memperhatikan kondisinya.
"Seharusnya aku yang bertanya apakah terjadi sesuatu ? sejak kau kembali ke kelas, kau hanya diam dan melamun." ucap Airin.
"Oh, aku tidak apa-apa." jawab Serli sambil kembali menundukkan kepalanya.
"Jika kau mempunyai suatu masalah, berbagilah siapa tau aku bisa membantu." ucap Airin dengan tulus.
Serli menatap wajah Airin. Ia seolah-olah mencari kebenaran dari ucapan Airin. Namun Serli kembali menunduk, ia tidak berani jika harus berkata jujur.
__ADS_1
"Airin, hari ini aku tidak bisa mengikuti pelajaran sampai selesai. Aku harus pulang, badanku terasa kurang sehat." ucap Serli.
"Kau kurang sehat atau kau tidak ingin bertemu dengan ku atau yang lainnya ?" tanya Airin.
"Tidak aku hanya kurang sehat saja." jawab Serli.
"Baiklah kalau kau memang kurang sehat, kau bisa pulang lebih awal dan nanti biar aku saja yang akan mengantarkan mu pulang. Tetapi jika kau ingin mengatakan sesuatu jangan sungkan katakanlah aku siap mendengarkannya." jawab Airin.
"Kau akan mengantarkan aku pulang ? lalu bagaimana dengan pelajaran mu dan kau akan mengantarkan aku menggunakan apa ?" tanya Serli seolah tak ingin Airin mengantarkan ia pulang.
"Masalah pelajaran kau jangan khawatir aku bisa mengejar ketertinggalan ku nanti, untuk mengantarkan mu aku bisa meminjam motor mang Udin atau kita bisa naik angkot bersama." jelas Airin.
"Tidak ! lebih baik aku pulang sendiri saja, aku tidak ingin merepotkan mu Airin." jawab Serli.
"Kau tidak ingin merepotkan aku atau kau ingin menghindari aku ?" tanya Airin lagi.
"Airin aku mohon ! jangan paksa aku." ucap Serli dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Setelah Airin berlalu, Serli menangis dan menutup kedua matanya. Ia tidak menyadari saat Misel datang dan duduk di depannya.
"Jika kau berani macam-macam, maka aku akan melaporkan mu kepada tuan Fernandez." ucap Misel basa-basi.
"Apa maksudmu Misel ?" tanya Serli.
"Kau tinggal bilang kepada Airin agar dia segera membebaskan Chika dari tempat terkutuk itu atau kau akan menjadi tontonan banyak orang karena video itu kami unggah di setiap media sosial !" ucap Misel penuh dengan penekanan.
"Jangan Misel ! jangan lakukan itu, aku sedang menyiapkan diri untuk berbicara kepada Airin." jawab Serli dengan memohon.
"Bukankah kalian baru saja berbincang? lalu apa lagi yang kau tunggu, apakah kau ingin mendapatkan peringatan terlebih dahulu ?" tanya Misel.
"Beri aku waktu Misel, aku mohon." ucap Serli dengan meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Kami tidak butuh air matamu, tetapi tindakan agar Chika bisa segera terbebas. Ingat Serli jangan kau menyesal di belakang." ucap Misel lalu ia berlalu meninggalkan Serli.
Serli hanya bisa menatap kepergian Misel, ia tidak tau harus berbuat apa. Jika ia meminta Airin untuk membebaskan Chika, maka Airin atau yang lainnya akan menjadi bulan-bulanan Chika lagi.
Tetapi jika tidak, maka ia dan keluarganya yang akan menjadi bulan-bulanan keluarga Fernandez. Serli bingung harus memilih yang mana.
Sedangkan Airin yang telah memasang alat penyadap dibawah meja Serli, dengan jelas dapat mendengar perbincangan Misel dan juga Serli.
Kemudian ia dengan cepat pergi ke kantor Kepala Sekolah. Ia menggunakan laptop untuk mencari semua informasi tentang keluarga Fernandez baik dan buruknya.
Jari-jari lentiknya berselancar di atas keyboard. Ia dengan mudah menembus keamanan yang dibuat oleh anak buah tuan Fernandez.
"Aku akan memulainya dari sini dahulu, semua kejahatan yang ia lakukan harus aku ungkapkan secara perlahan. Yang paling utama adalah aku harus bisa menutup sumber keuangan mereka." ucap Airin.
Setelah itu ia kembali berselancar di atas keyboard. Setelah yakin ia segera menekan tombol enter, dan menunggu sampai proses itu selesai. Setelah selesai ia menghapus jejaknya agar tidak diketahui oleh anak buah tuan Fernandez.
Airin menghubungi seseorang menggunakan earphone. Setelah tersambung ia segera memberikan beberapa perintah kepada orang yang ada di sebrang sana.
"Segera ambil video dari ponsel Misel yang berkaitan dengan Serli. Untuk gambar wajah mereka telah aku kirim ke email kalian."
"Setelah itu kirim hadiah yang aku simpan dalam folder yang tanpa judul itu ke perusahan milik keluarga Fernandez, link ada di dalam folder."
"Dan satu hal lagi, kirim seseorang untuk menjaga keselamatan Serli dan juga keluarganya !" ucap Airin dengan tegasnya.
"Siap nona segera kami laksanakan perintah dari anda. Anda bisa melihat hasilnya dalam dua jam ke depan." jawab pria di sebrang sana.
Setelah selesai Airin segera mengakhiri panggilannya dan ia segera meninggalkan ruangan tersebut. Ia berjalan menuju kantin Sekolah untuk menemui Arian dan juga Deo.
Sebenarnya ia tak lupa untuk mengirimkan pesan kepada keduanya di kantin Sekolah. Sementara Arian yang tengah mempersiapkan untuk acara ulang tahun Sekolahnya itu tersenyum bahagia saat ia mendapatkan pesan singkat dari Airin.
Segera ia membaca pesan tersebut dan segera menuju ke kantin Sekolah untuk menemui Airin dan juga Deo untuk membahas tentang masalah Serli.
__ADS_1