
Setelah selesai makan siang, Arian mengantarkan Airin kembali ke perusahaannya. Sepanjang perjalanan mereka selalu bercanda dan mengumbar kemesraan.
Setelah sampai Airin segera turun dari mobil dan langsung kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sama halnya dengan Arian, ia kembali ke perusahaannya dan melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda. Keduanya sama-sama merupakan pemanis yang sukses di usia masih muda.
Kesuksesan mereka di usianya yang masih sangat muda, bisa dijadikan sebagai motivasi bagi temannya. Merasakan kesuksesan di usia muda merupakan keinginan setiap orang. Sukses di usia muda rasanya akan berbeda karena disaat usia tua nanti tinggal menikmati dari hasil kesuksesannya.
Namun keduanya bukanlah orang yang sombong, dengan kesuksesan yang mereka raih. Mereka rela membantu temannya meskipun dimasa lalu mereka memperlakukan mereka dengan buruk.
Hal itu tidak serta Merta membuat keduanya, membalas keburukan yang telah mereka lakukan terhadapnya.
Hal itu terbukti di suatu hari yang cerah, Arian dan juga Airin, mengundang teman-teman mereka yang saat ini bekerja di perusahaan mereka.
Arian, Airin, Deo, Serli, Chika dan juga Misel, saat ini sedang menikmati makan siang disebuah restoran yang terletak di pinggir pantai.
Suasana yang sangat indah yang seakan menambah keindahan pertemanan mereka semua.
"Silakan kalian pilih menu apa saja yang paling kalian sukai, untuk semua tagihannya aku yang akan membayarnya." ucap Arian.
"Ok, jika itu yang kau inginkan." jawab yang lain dengan kompak.
Setelah mengatakan itu Deo memanggil pelayan dan langsung memesan makan untuk dirinya dan juga Serli. Di ikuti oleh Chika dan juga Misel.
Sementara Arian lebih memilih menikmati keindahan wajah sang kekasih. Airin langsung memesan makanan untuk mereka berdua.
Setelah makanan yang mereka pesan tiba, Arian langsung mempersilakan mereka untuk langsung menikmati hidangan yang sudah disajikan.
"Arian terimakasih, karena kau masih mau menganggap aku sebagai teman mu meskipun kau tau bagaimana keburukan ku dimasa SMA dulu." ucap Chika sambil menikmati makan siangnya.
__ADS_1
"Chika yang lalu biarlah berlalu, tapi sebaiknya kau meminta maaf kepada Serli dan juga Airin yang selalu menjadi sasaran mu saat itu." jawab Arian.
"Kau benar, Serli, Airin maafkan aku karena aku telah melakukan begitu banyak kesalahan terhadap kalian. Terutama kau Serli."
"Atas nama keluarga Fernandez aku meminta maaf kepada mu Serli. Mungkin selam hidup mu kau tidak akan pernah bisa memaafkan kesalahan kami." ucap Chika.
"Chika aku sudah memaafkan mu sebelum kau meminta maaf, lupakan masa lalu dan mari kita sambut masa depan yang lebih indah."
"Tanpa bullying, tanpa kekerasan dan keangkuhan dan keserakahan. Mari kita isi dengan kebaikan dan kasih sayang agar hari-hari kita bisa kita nikmati dengan damai." jawab Airin.
"BenAr Chika, apa yang dikatakan oleh Airin. Aku juga sudah memaafkan kalian bahkan aku sudah melakukan semua kejadian itu." jawab Serli.
"Terimakasih, kalian begitu baik bahkan kalian memiliki hati seperti seorang dewa, sangat murni tanpa sebuah dendam."
"Tolong bimbing aku agar bisa menjadi lebih baik, meskipun tidak sebaik kalian tapi setidaknya aku bisa jauh lebih baik dari Chika yang dahulu." ucap Chika.
"Begitu juga dengan aku, maafkan semua kesalahanku terhadap kalian baik yang aku sengaja atau tidak. Aku telah menerima semua akibat dari perbuatan ku yang dulu."
"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Kini mari kita buka lembaran yang baru, dan mari kita ukir perjalanan hidup kita dan anak keturunan kita agar indah dan damai penuh dengan wangi bunga." ucap Arian.
"Mari bersulang untuk merayakan pertemanan kita semua." ucap Deo sambil mengangkat gelas yang berisi air mineral.
"Mengapa bersulang dengan air mineral ?" tanya Chika.
"Karena air mineral ini sebagai lambang, suci dan murninya persahabatan yang akan kita bina hingga masa depan." jelas Deo.
"Ciz ! aku setuju." sambut Arian dan diikuti oleh Airin dan juga yang lainnya.
Kemudian mereka nikmati makan siang mereka sambil bercanda dan tertawa. Kedamaian dan kehangatan yang tercipta di antara mereka membuat suasana semakin hangat diantara sinar mentari di atas pantai.
__ADS_1
Semenjak hari itu kebahagiaan mereka rasakan, mereka saling bantu membantu jika ada diantara mereka yang mengalami kesusahan.
Begitulah indahnya sebuah persahabatan, sebuah persahabatan yang tulus akan menciptakan sebuah kedamaian dalam kehidupan.
Menjadi sesuatu yang sulit menjadi lebih mudah dan yang jauh menjadi lebih dekat.
Setelah menyelesaikan segala urusannya, Airin mengantarkan Arian sampai ke bandara. Hari ini adalah hari dimana keduanya akan berpisah untuk sementara waktu.
Sambil menunggu waktu keberangkatan, keduanya berdiri saling bertatapan seakan tak rela untuk melepaskan satu sama lainnya.
"Aku bahagia sekali, ketika melihat kehangatan dari sebuah persahabatan yang dimulai dengan kasus bullying dan berakhir dengan persahabatan yang solid seperti ini." ucap Airin sambil tersenyum menatap Arian.
"Semuanya berkat kerja keras dan ketulusan mu. Untuk merubah semuanya bahkan kau rela menanggalkan segala kemewahan dan kesuksesan mu, bahkan kau rela berperan sebagai tukang sapu jalanan." jawab Arian dengan bangga.
"Hal itu tidak akan berarti tanpa dukungan dari ketua OSIS yang berwibawa dan bertanggung jawab seperti mu." ucap Airin tak mau kalah untuk memuji pria tampan di hadapannya.
"Artinya dimasa depan nanti semua ancaman dan halangan akan mudah kita hadapi dan kalahkan dengan kesucian dan kesetiaan cinta kita." ucap Arian.
"Aamiin." jawab Airin.
Keduanya kemudian melangkahkan kakinya, kearah yang berbeda. Arian kembali ke luar negeri untuk menyelesaikan pendidikannya, sementara Airin akan mengembangkan sayap bisnisnya hingga mampu menundukkan dunia.
Keduanya berjuang dijalan mereka masing-masing, demi masa depan yang selalu mereka impikan.
Mempunyai sebuah keluarga yang harmonis, tanpa ada hambatan apapun, hingga anak cucu mereka kelak. Sebuah impian yang begitu besar dan tentunya akan mendapatkan berbagai ujian dan cobaan.
Sementara Deo lebih memilih untuk menikahi Serli, meskipun ia belum menyelesaikan pendidikannya. Ia ingin membina hubungan yang sah sambil meraih impiannya.
Begitu juga dengan Chika ia rela membantu membesarkan adiknya yang lahir dari rahim Misel sahabatnya. Keduanya ingin anak itu menjadi penerus keluarga Fernandez dengan image yang jauh lebih baik dari generasi sebelumnya.
__ADS_1
Begitulah kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan, bisa mereka rasakan setelah mengalami berbagai persoalan hidup dengan jalan dan takdir mereka masing-masing.
Namun sebagi seorang insan kita harus tetap berusaha melakukan yang terbaik meskipun mengalami kesulitan dalam menjalani takdir kehidupan yang memang telah disediakan untuk kita lalui. Apapun hasilnya kewajiban kita adalah berikhtiar melakukan yang terbaik dengan jalan yang benar.