
Malam semakin larut, angin berhembus menerpa wajah Misel yang masih terpaku di depan pintu Gerbang rumah Chika. Ia mulai merasa kedinginan, dan akhirnya memutuskan untuk pulang.
Ia begitu lelah baik hati maupun pikirannya, ia ingin segera merebahkan tubuhnya. Kakinya terasa pegal sekali karena sudah terlalu lama berdiri dan menunggu taksi namun tidak ada satupun yang melintas di depannya.
Dengan kesal ia berjalan perlahan sambil menunggu taksi, namun sejauh Misel berjalan tidak ada satupun taksi yang melintas.
Misel akhirnya sampai juga ke rumah. Dengan muka yang cemberut ia masuk kedalam rumah, ia ingin sekali melampiaskan kekesalannya kepada siapapun yang ia temui di rumah.
Namun sayang sekali, semua penghuni rumah sudah terlelap di dalam kamar masing-masing.
"Sebenarnya kemana semua orang-orang ? mengapa hanya scurity yang aku temui sejak tadi." ucap Misel sambil melangkah menuju ke kamarnya.
Setelah berada di dalam kamarnya ia segera merebahkan tubuhnya, seluruh tulangnya terasa mau copot karena ia berjalan kaki dengan jarak yang lumayan jauh.
Padahal ia biasanya selalu naik mobil pribadi bersama Chika sahabatnya. Namun hari ini kesialan selalu bersamanya.
Dengan perasaan kesal, marah dan rasa lelahnya, Misel perlahan-lahan memejamkan matanya dan ia berangkat ke alam mimpi.
Sementara Airin yang sudah sampai di rumah sakit segera mencari keberadaan Chika. Ia sebenarnya tidak tega melihat Chika menderita, namun ia tetap harus memberikan sedikit pelajaran agar Chika dan tuan Fernandez bisa menyadari semua kesalahannya dan tidak akan pernah mengulanginya lagi.
"Maaf dimanakah Chika sekarang ?" tanya Airin kepada salah satu penjaga.
Kemudian penjaga itu menunjuk ke arah kursi tunggu. Airin melihat Chika tertidur dengan sangat pulas.
Airin tersenyum dan perlahan mendekati Chika. Dengan pelan ia meletakkan barang yang ia bawa untuk mereka semuanya.
"Maaf bibi, apa yang sebenarnya terjadi ? mengapa kalian semua berada disini. Dan bukankah ini Chika ?." tanya Airin sambil duduk di sebelah pelayan yang menjaga Chika.
"Benar nona ini non Chika, dia bersikeras untuk tetap berada di sini sampai keadaan tuan membaik." jawab pelayan itu dengan ramah.
"Apakah tuan Fernandez sedang sakit ?". tanya Airin lagi.
__ADS_1
"Benar nona, tuan sedang sakit." jawab pelayan itu.
"Penyakit apa yang tuan Fernandez derita ?" tanya Airin.
"Sebenarnya, ... ." ucap pelayan itu terhenti, ia tidak ingin mencari masalah dengan majikannya.
"Bagaimana caranya aku menjelaskan kejadian ini. Aku takut akan berakibat fatal dan berdampak buruk terhadap ku." batin pelayan itu.
Airin menatap wajah pelayan itu dengan seksama. Ada sebuah tekanan yang begitu besar yang ia tanggung.
"Bibi jangan sungkan, aku adalah teman Chika, kami adalah teman satu kelas. Chika mengenalku dengan sangat baik." ucap Airin.
"Maaf non, saya takut salah menjawabnya. Saya ini hanya seorang pelayan yang tidak berhak untuk menjelaskan apapun itu yang terjadi." jawab pelayan itu dengan jujur.
Airin menganggukkan kepalanya, ia bisa memahami ketakutan pelayan itu.
"Apakah bibi sudah makan ?" tanya Airin.
Kemudian Airin menghubungi seseorang dan ia meminta orang tersebut untuk mengantarkan makanan ke rumah sakit.
Airin tidak tega melihat pelayan yang setia itu kelaparan saat ia menjaga majikannya. Ia begitu setia dan berharap akan kesehatan majikannya.
Sayangnya sang majikan tidak memikirkan kesehatan orang-orangnya yang begitu setia.
"Bibi kalian harus menjaga kesehatan bibi, bagaimana bibi akan menjaga Chika dan juga tuan Fernandez jika tubuh bibi saja kurang sehat." ucap Airin.
"Maaf non, bagaimana mana bibi bisa makan non sementara di sini tidak ada makanan. Jika kami harus pergi untuk mencari makan bagaimana kami bisa menjaga majikan kami." jawab pelayan itu mencoba berkilah.
"Baiklah, apapun itu alasannya tetap jaga kesehatan kalian semua. Dan lakukanlah semua hal dengan ikhlas."
"Untuk menjelaskan apa yang saya tanyakan tadi jika memang kalian tidak bisa menjawabnya jangan dilanjutkan jika itu terlalu berat, sebenarnya aku ingin menemani Chika tetapi orang tuaku sedang menunggu aku untuk pulang."
__ADS_1
"Sampaikan salam maaf saya untuk Chika, dan makanlah makanan yang akan di antar oleh seseorang kesini nanti makanlah untuk mengganjal perut kalian. Untuk masalah biayanya sudah saya lunasi semuanya, jadi jangan jadi beban kalian semua."
"Karena untuk menghadapi semua ini butuh stamina yang bagus. Maaf saya pamit pulang dahulu. Semoga tuan Fernandez segera pulih." ucap Airin.
Setelah itu ia berjalan meninggalkan rumah sakit. Dan ia segera masuk kedalam mobil untuk segera pulang menemui kedua orang tuanya.
Sela dalam perjalanan Airin masih memikirkan nasib mereka yang masih setia kepada tuan Fernandez, padahal Airin tau saat ini tuan Fernandez sedang memulai kehancurannya.
"Apakah ada pekerjaan untuk mereka, jika suatu saat mereka tidak bekerja lagi kepada keluarga Fernandez ?" tanya Airin kepada sopir tersebut.
"Jika non Airin ingin memperkerjakan mereka, mungkin mereka bisa bekerja di perusahaan yang baru kita bangun di propinsi X, di sana mereka bisa ditempatkan di berbagai posisi sesuai kapasitas mereka."
"Tapi maaf non mengapa anda ingin memperkerjakan mereka ? apakah non Airin mengenal mereka ?" tanya sopir tersebut.
"Untuk menolong seseorang kita tidak perlu harus mengenal mereka. Satu hal yang pasti, setiap kebaikan yang kita kerjakan akan kembali ke kita lagi dengan cara yang lain."
"Saya hanya membayangkan bagaimana nasib mereka dan juga keluarga mereka nanti jika keluarga Fernandez telah runtuh. Pasti banyak yang kurang menyukai mereka. "
"Hal itu karena mungkin dimasa lalu mereka pernah melakukan kesalahan karena tugas dari pekerjaan mereka."
"Tapi benar yang kau ucapkan. Kita bisa mengirim mereka ke Propinsi X dan menempatkan mereka sesuai dengan porsi mereka."
"Tetapi kita juga harus tetap profesional untuk merekrut mereka semua. Karena tidak semua dari mereka mempunyai ketulusan hati." jawab Airin.
"Saya bangga dengan non Airin, di usia non Airin yang masih cukup belia non Airin sudah sukses dan mempunyai pemikiran yang jauh lebih dewasa dari umur non Airin."
"Tuan dan nyonya beruntung sekali karena mempunyai seorang putri seperti non Airin. Kecantikan non Airin lahir dan batin." ucap sang sopir.
"Jangan memuji saya terus nanti saya bisa terbang ke awan. Ingat pujian itu bisa membuat seseorang jatuh dan lupa pada sesuatu yang seharusnya mereka lakukan." ucap Airin.
"Iya non maaf, tetapi apa yang saya katakan tadi benar adanya non." jawab sang supir dengan tersenyum manis.
__ADS_1
Kemudian mobil yang mereka kendarai telah sampai di depan sebuah mansion mewah dimana kedua orang tua Airin tinggal selama ini.