
Mendengar ucapan Arian diam, meskipun sebenarnya ia sangat yakin bahwa wanita itu adalah Misel.
Sepanjang perjalanan pulang keduanya diam seribu bahasa. Mereka sama-sama sangat terkejut dengan apa yang baru saja mereka lihat. Sungguh sangat miris seorang pelajar yang juga teman sekolah mereka bisa melakukan hal seperti itu.
"Arian mengapa kita tadi tidak merekam kejadian itu ? padahal jika kita punya video itu mereka pasti tidak akan bisa mengancam Serli lagi." ucap Deo memecah kesunyian di antara mereka.
"Sebenarnya ide kamu bagus, tetapi jika melakukan hal seperti itu, apa bedanya kita dengan mereka ?"
"Sama-sama menjadikan sebuah aib sebagai sebuah ancaman untuk seseorang !." jawab Arian.
"Iya juga si, tapi kalau kita melakukan hal itu demi kebaikan kan bisa ditolerir." ucap Deo lagi.
"Deo, menolong seseorang tidak harus mengumbar aib orang lain. Aku yakin kita bisa menolong Serli meskipun tidak mempunyai rekaman itu." jawab Arian menyakinkan sahabatnya itu.
"Iya maaf, aku hanya kesal aja dengan Misel, dia menyimpan video milik Serli tetapi dia sendiri seperti itu." ucap Deo.
"Arian, menurutmu Serli sedang ngapain ya sewaktu mereka rekam ? Jangan sampai dia sedang seperti Misel tadi, kalau sampai seperti itu. Aku harus bagaimana ?" tanya Deo dengan suara yang sedih.
"Mengapa kau berfikir seperti itu ?" tanya Arian dengan heran.
"Menurut mu, video apa yang membuat seseorang malu jika bukan seperti itu tadi." jawab Deo.
"Deo, banyak orang yang merasa malu dalam berbagai hal yang menurut orang lain memalukan. Tidak harus seperti yang baru saja kamu lihat."
"Dan juga mengapa sejak tadi kau berkata jika wanita itu adalah Misel. Jika bukan bagaimana bisa jadi fitnah dan kau bisa di ancam dengan pasal pencemaran nama baik." ucap Arian sambil melihat reaksi Deo.
"Aku yakin Arian, kalau kau tidak percaya besok sewaktu sekolah akan aku buktikan. Bahwa wanita tadi adalah Misel." ucap Deo dengan sangat yakin.
"Kau akan membuktikannya dengan cara apa ?" tanya Arian penasaran.
"Ya pasti ada tanda merah di sekitar leher atau yang lainnya. Karena tadi itu tuan Fernandez seperti binatang buas." ucap Deo sambil membayangkan adegan yang ia lihat tanpa sengaja.
__ADS_1
"Kau ini ada-ada saja. Jika tidak terbukti bagaimana ? Misel setiap pergi ke Sekolah selalu mengenakan make-up, bisa saja ia menutupi tanda itu dengan makeup yang ia gunakan."
"Dengan begitu kau atau yang lainnya tidak akan melihat tanda tersebut." jawab Arian mencoba menjelaskan.
"Kau benar Arian akan sangat susah untuk membuktikannya. Kecuali jika kita kembali ke sana lagi. Kita bisa memastikan bahwa wanita itu adalah Misel atau orang lain." jawab Deo.
"Sebenarnya mengapa kau begitu antusias dengan adegan itu ? Sebenarnya kau ingin tau pemerannya ada seluruh adegannya ?" tanya Arian.
"Semuanya Arian." jawab Deo dengan jujur.
Plak !
"AW ! sakit tau !" teriak Deo seketika karena ada sebuah tangan yang kekar dan menatap mereka dari kejauhan.
"Arian Akau ini kesurupan atau bagaimana si ? bisa-bisanya kau menampar aku." ucap Deo dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan.
"Itu aku lakukan biar kau segera bangun, jangan terlalu mimpi yang tidak-tidak." ucap Arian.
"Kalau kau sudah bangun dan ingin melihat realita yang sesungguhnya, sekarang buka pintunya dan segera turun dari mobil ku." ucap Arian sambil menghentakkan mobilnya.
"Arian kau ini benar-benar ya, bisa-bisanya kau menyuruh aku turun di sini." jawab Deo semakin kesal dengan Arian.
"Deo ! kau ingin turun dimana lagi ? apakah kau benar-benar ingin kembali ke rumah sakit untuk melihat adegan yang belum kau selesaikan, ha." ucap Arian kemudian ia segera turun dan menutup pintu mobilnya.
Sementara Deo melihat Arian turun tanpa melihatnya lagi. Spontan ia melihat sekelilingnya dan ternyata mobil yang mereka kendarai sudah terparkir rapi ditempat biasanya.
"Ternyata sudah sampai. Hehehe gara-gara mataku sudah ternoda aku sampai tidak menyadari kalau sudah sampai di rumah Arian." ucap Deo dengan malu sendiri.
Kemudian Deo segera menyusul Arian ke kamarnya. Setelah itu keduanya bersiap untuk beristirahat.
Namun setelah lama Deo merebahkan dirinya, ia tetap tak bisa memejamkan matanya. Terbayang adegan panas yang ia lihat secara langsung itu.
__ADS_1
Ia melihat jelas bagaimana pemeran wanita itu mengendalikan permainan. Meskipun dari samping namun ia sangat yakin bahwa wanita itu adalah Misel teman satu sekolahnya.
Pikirannya terbang tak tentu arah, kemudian ia bangkit dan ingin mengajak Arian berdiskusi masalah itu. Tetapi mengingat apa yang dikatakan oleh Arian ia menjadi ragu.
Perlahan ia bangkit dan mengambil air mineral dan juga beberapa makanan ringan. Ia makan sambil pikirannya melayang, membayangkan adegan itu dan juga bagaimana lincahnya pemeran wanita.
Setelah merasa kenyang, ia bangkit dan merebahkan dirinya di samping Arian. Ia menatap wajah sahabatnya itu.
Sementara Arian ia sudah terlelap dengan senyum manis menghias wajah tampannya. Perlahan Deo ikut menyusul Arian ke alam mimpi.
Sementara Chika di kamarnya ia duduk di depan cermin sambil berfikir, mengapa keringat sang ayah memiliki wangi parfum Misel.
Bahkan malam ini beliau meminta ia kembali sedangkan beliau juga meminta Misel untuk tetap di sana menjaga beliau. Apakah ada sesuatu yang selama ini Chika belum mengetahui.
Atau apakah yang terjadi selama ia berada di dalam jeruji besi itu. Banyak hal yang ia tidak tau, mulai dari sang ayah yang di sekap dalam rumahnya sendiri sementara sang penjaga dan semua orang yang berada di kediaman keluarga Fernandez tidak ada yang mengetahui sama sekali.
Dan kedekatan sahabat dekatnya dengan sang ayah, apakah hanya suatu kebetulan saja atau memang ada sebuah rahasia dibaliknya.
Chika berdialog sendiri di depan cermin. Namun semakin ia pikirkan semakin ia bingung dengan keadaan ini. Akhirnya Chika berdiri dan ia berjalan menuju ruang keluarga.
Ia menyalakan TV dan menekan tombol remote secara acak. Tangan dan pikirannya sama sekali tidak terkoneksi.
Lama sekali Chika menatap layar TV, namun tetap saja tidak mampu membuat ia mengantuk.
Pikirannya masih tertuju dengan Misel dan juga sang ayah. Akhirnya ia memberanikan diri melakukan video call dengan sang ayah.
Namun tidak bada yang menjawab, beberapa kali ia mencoba namun berakhir sama, tidak ada yang memperdulikan panggilan tersebut.
Ia kemudian menghubungi Misel, hal yang sama juga terjadi. Sang ayah dan juga Misel tidak ada yang menerima panggilannya.
Dengan penasaran ia akhirnya menghubungi penjaga yang ada di rumah Sakit tersebut. Ia juga melakukan video call agar ia bisa yakin bahwa tidak ada sesuatu yang perlu di khawatirkan.
__ADS_1