29 Hari

29 Hari
Bab. 64. Bunuh diri


__ADS_3

Kemarahan tuan Fernandez sudah diubun-ubun. Dengan cepat ia mengenakan pakaiannya kembali. Saat ia melihat tubuh polos Serli, ia sangat tidak rela namun suara dari luar pintu itu harus segera ia selesaikan.


"Cantik tunggu sebentar, aku akan mengusir orang yang telah berani mengganggu kesenangan kita."


"Kau berbaring yang baik, setelah ini kita lanjutkan permainan kita yang sempat tertunda ini. Kau jangan khawatir setelah aku mengusir pengacau itu, aku akan memuaskan mu dan melayani mu sampai kau merasa puas." bisik tuan Fernandez sambil menghisap gundukan yang indah itu.


Sebelum tuan Fernandez keluar ia menyelimuti tubuh Serli kemudian ia segera mengunci pintu kamarnya dan bergegas menuju ke sumber suara.


"Apa sebenarnya yang kau inginkan ?" tanya tuan Fernandez dengan penuh emosi.


Ia berfikir bahwa wanita yang menggedor pintu kamarnya adalah Misel. Tuan Fernandez segera menarik wanita ini dan menyudutkannya ke sisi tembok. Ia ingin sekali menampar wajah wanita itu karena telah menganggu kesenangannya.


"Ayah, apa yang ayah lakukan ? mengapa ponsel ayah tidak aktif saat seperti ini?" tanya Chika yang membuat tangan Tuan Fernandez berhenti di udara.


"Ada apa ? mengapa kau seperti anak yang tidak pernah didik, hingga saat malam seperti ini kau menggedor pintu kamar seperti seseorang yang akan merampok ?" tanya tuan Fernandez dengan sangat kesal.


"Seharusnya ayah yang berfikir bagaimana caranya untuk bisa menyelamatkan keluarga Fernandez ini." jawab Chika dengan kesal.


"Chika ayah memang sangat sayang kepada dirimu, tapi kau juga harus tau batasan mu. Katakan dengan jelas apa maksud mu ? menganggu kesenangan orang saja." ucap tuan Fernandez dengan menahan amarahnya.


Hasrat yang belum sempat tersalurkan, membuat amarahnya tidak bisa ia kendalikan. Meskipun dihadapan sang putri kesayangannya.


"Ayah, lihatlah berita-berita ini ! semua memberitakan tentang kehancuran keluarga kita, bahkan hal itu sudah disiarkan di televisi." ucap Chika sambil memberikan ponselnya.


Tuan Fernandez meraih ponsel tersebut dengan kasar dari tangan Chika, ia membaca berita tersebut. Kedua matanya melotot seakan ingin keluar dari tempatnya.


Amarah yang sejak tadi ia tahan semakin memuncak saat ia mengetahui bahwa nama keluarga yang sudah lama ia jaga akhirnya jatuh dalam waktu secepat ini.


Ia segera menyerahkan ponsel Chika dan segera masuk kedalam kamar untuk mengambil ponselnya.

__ADS_1


Saat ia masuk kedalam kamar, ia langsung diserang oleh Serli yang masih berada di dalam pengaruh obat. Dengan kasar tuan Fernandez memukul tengkuk Serli, sehingga membuat gadis itu jatuh dan pingsan.


Dengan kasar tuan Fernandez melemparkan tubuh polos itu keatas ranjang. Setelah itu ia berlalu meninggalkan Serli begitu saja. Ia segera ke ruang kerjanya.


Setelah sampai di ruang kerja, ia segera membuka laptop untuk mengecek kondisi keuangan perusahaannya.


Dan alangkah terkejutnya ia, semua laporan keuangan menunjukkan penurunan yang sangat signifikan.


Kemudian ia menghubungi asisten dan orang-orang kepercayaannya untuk menanyakan hal tersebut.


Lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan, dari penjelasan mereka, bahwa apa yang ada didalam berita tersebut benar adanya.


"Sial ! gara-gara aku terlalu terobsesi dengan daun-daun muda membuat aku lupa untuk mempertahankan kejayaan keluarga Fernandez."


"Apa yang bisa aku lakukan sekarang ? ah !" teriak tuan Fernandez.


Chika yang mendengar suara tersebut langsung berlari ke sumber suara. Ia terdiam saat melihat wajah sang ayah yang terlihat sangat putus asa.


"Ayah, kita harus segera pergi dari sini sebelum semuanya terlambat. Setidaknya kita tidak akan masuk ke dalam penjara. Ayah mari kita pergi dari sini." ucap Chika dengan berlinang air mata.


"Chika, bawalah semua barang-barang yang berharga dari rumah ini. Dan bawalah semua uang dan perhiasan yang ada didalam brangkas itu. Dan pergilah secepat mungkin dari sini."


"Maafkan ayah karena tidak bisa menjagamu hingga kau menikah nanti. Maafkan ayah karena menempatkan mu di dalam penderitaan."


"Jual semua perhiasan itu, dan gunakan untuk membeli sebuah apartemen. Ayah telah menyiapkan tabungan sebagai hadiah pernikahan mu dalam kartu ini. Kata sandinya adalah hari ulang tahun mu."


"Ayah rasa uang itu cukup un membiayai hidup mu sampai kau lulus kuliah dan bisa mendapatkan pekerjaan."


"Sekarang juga kemas barang-barang mu dan cepat tinggalkan tempat ini sebelum polisi datang." ucap tuan Fernandez sambil menyerahkan sebuah kartu ATM.

__ADS_1


"Ayah, kita harus pergi bersama-sama. Bagaimana aku bisa hidup sendiri diluar sana. Aku ingin bersama dengan ayah." ucap Chika.


"Chika ayah tidak akan bisa lolos dari polisi. Jadi lebih baik ayah berada di sini hingga titik terakhir. Masa depanmu masih panjang, jika kau tidak ingin hidup sendirian pergilah ke suatu tempat perkampungan kumuh."


"Disana ada seorang ibu yang bernama ibu Iyem, ia bekerja sebagai tukang sapu jalanan. Bawalah surat ini agar ia bisa menerimamu dan mau merawat mu." ucap tuan Fernandez sambil memberikan sebuah surat yang telah lama ia simpan.


Sebuah surat yang ditulis oleh almarhum istrinya dulu untuk adik kandungnya. Namun karena egois dan gengsi yang terlalu tinggi, surat itu tidak pernah sampai ditangan pemiliknya.


"Chika jangan terlalu banyak berfikir, segera berkemas dan segera tinggalkan rumah ini." ucap tuan Fernandez dengan mendorong tubuh Chika agar segera pergi.


"Tapi ayah, bagaimana dengan ayah ?" tanya Chika dengan pilu.


"Jangan pikirkan nasib ayah. Pikiran masa depanmu. Dan jangan pernah kembali lagi ke sini apapun yang terjadi. Kau harus hidup dan sukses di masa depan." ucap tuan Fernandez.


Kemudian Chika segera berlalu meninggalkan sang ayah. Ia segera merapikan semua barang yang bias ia bawa. Terutama harta yang paling berharga, yaitu uang dan perhiasan.


Setelah semuanya siap ia segera berpamitan kepada tuan Fernandez dan segera menghubungi taksi online menuju ke kediaman ibu Iyem.


Sepanjang perjalanan, Chika hanya bisa menangis memikirkan bagaimana nasibnya sekarang, terutama nasib sang ayah.


Setelah beberapa saat mobil yang membawa Chika berlalu, Sebuah mobil Polisi berhenti tepat di depan rumah mewah itu.


Mereka segera masuk untuk menangkap tuan Fernandez. Sedangkan tuan Fernandez sedang bersiap-siap untuk mengakhiri hidupnya. Ia telah menyiapkan sebuah tali yang sudah tergantung di atap tepatnya di sebuah ruangan kosong di belakang rumah.


Sebuah tempat yang biasanya ia gunakan untuk mengakhiri hidup musuhnya, kini ia pilih sebagai tempat untuk mengakhiri hidupnya sendiri.


Tanpa berfikir panjang, ia segera menggunakan tali tersebut untuk menjerat lehernya sendiri.


"Selamat tinggal Chika maafkan ayah tidak bisa menemani hingga kau tumbuh dewasa. Selamat tinggal semua orang yang selama ini selalu setia terhadap ku." itulah kata terakhir yang terucap dari mulut tuan Fernandez.

__ADS_1


__ADS_2