29 Hari

29 Hari
Bab. 18. Kekejaman Chika


__ADS_3

Sementara Chika yang merasa kecewa dengan sikap Arian, yang lebih membela Airin dari pada dirinya, bahkan Arian dengan terang-terangan mengandeng tangan Airin dihadapannya.


Kebencian dan kemarahannya itu, ia lampiaskan terdapat Serli. Serli yang selama ini sudah menjadi sasaran bullying itu tak bisa melakukan perlawanan sedikitpun.


Ia hanya bisa pasrah menerima setiap perlakuan dari Chika dan kawan-kawannya. Ia tidak berani melawan mereka seperti yang dilakukan oleh Airin.


Saat ini Chika tengah meminta Serli untuk membersihkan kelas yang basah karena air mata Chika siramkan kepada Airin. Chika meminta Serli untuk membersihkan air itu dengan bajunya.


"Cepat buka bajumu dan segera bersihkan air itu. Aku tidak ingin saat Arian kembali kelas ini masih basah dan kotor." ucap Chika sambil mendorong tubuh Serli hingga terjatuh di lantai.


"Tapi Chika bagaimana mungkin aku melakukan hal itu. Aku akan membersihkannya dengan alat pel yang tersedia dan akan melakukannya dengan cepat. Kau jangan khawatir sebelum Arian datang kelas ini pasti sudah bersih kembali." jawab Serli sambil menangis.


"Kau jangan banyak membantah ! waktu yang kau gunakan untuk mengambil alat pel, lebih baik kau gunakan untuk segera membersihkan lantai itu."


"Bukankah itu akan lebih cepat dari pada kau harus mengambil peralatan kebersihan yang terletak di luar kelas ini. Kau tinggal melepaskan pakaian mu dan segera membersihkan lantai itu." ucap Chika tanpa belas kasihan.


"Tapi mana mungkin aku bisa melakukan hal itu, Chika aku mohon jangan memintaku untuk melakukan hal yang tidak mungkin aku lakukan." ucap Serli sambil memohon dan bersujud di hadapan Chika.


"Simpan air matamu itu dan segera lakukan apa yang aku suruh !" jawab Chika sambil menendang tubuh Serli.


"Tapi Chika bagaimana mungkin aku melepaskan pakaian ku." jawab Serli dengan berurai air mata.


"Apa yang tidak mungkin ! aku bisa menyuruh semua yang berada di dalam kelas ini untuk menutup mata dan telinga mereka, jadi kau jangan khawatir akan ada yang melihat tubuh mu itu." jawab Chika dengan santai.


"Tapi Chika ... ." ucap Serli terhenti saat Misel dan Chika mendekatinya.


"Kau sendiri yang melepaskan pakaian itu atau kami yang akan melakukannya ? yang pasti kau harus segera membersihkan lantai ini dengan secepat mungkin." jawab Chika tanpa memperdulikan Serli yang sangat ketakutan.

__ADS_1


"Aku mohon jangan lakukan hal itu." ucap Serli sambil bersujud di hadapan Chika.


"Cepat bersihkan lantai ini !" bentak Chika.


Serli tak bisa berbuat apa-apa selain terus memohon sambil bersujud. Ia tidak tau harus bagaimana lagi. Ia tidak berani melawan Chika tetapi ia juga tidak mungkin melepaskan pakaiannya untuk membersihkan lantai itu.


Namun dengan kasar Chika segera menarik pakaian Serli dibantu oleh Misel. Sementara semua yang berada di dalam kelas tersebut segera memejamkan mata mereka.


Mereka tidak ingin melihat bagaimana kondisi Serli, sebenarnya mereka tidak tega tetapi mereka juga tidak berani untuk menghentikan hal itu.


Sementara Serli hanya bisa pasrah saat pakaian yang ia kenakan dilepaskan dengan paksa oleh Chika dan Serli. Dengan berurai air mata dan rasa yang sangat sakit, Serli membersihkan lantai itu dengan seragam sekolah yang sangat ia banggakan selama ini.


Dengan sengaja Chika merekam kejadian itu, ia ingin menggunakan video itu untuk mengendalikan Serli.


Setelah selesai, Serli kembali menggunakan seragam itu, dan dengan cepat ia membawa semua peralatan Sekolahnya dan ia segera berlari meninggalkan kelas yang menjadi saksi kekejaman Chika.


Disaat Serli sedang berlari, mang Udin yang kebetulan melihatnya segera menarik tangan Serli dan membawanya masuk ke dalam kediamannya yang masih berada di Sekolah itu.


Dengan sabar mang Udin mencoba menenangkan dan menguatkan Serli. Meskipun beliau tidak tau pasti apa yang terjadi, tetapi beliau yakin bahwa Serli baru saja menjadi korban Bullying dari mereka yang tidak mempunyai hati.


Dengan lembut mang Udin mencoba menenangkan Serli, beliau juga memberikan sebuah seragam sekolah milik Airin yang kebetulan tertinggal saat ia menjadi korban bullying dari Chika.


"Neng bersihkan tubuh mu dan gunakanlah seragam neng Airin ini. Nanti mang Udin yang akan menyampaikan kepada neng Airin. Neng Serli bisa kembali masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran kembali." ucap mang Udin.


"Mang Udin." ucap Serli sambil memeluk tubuh mang Udin.


Serli tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya terus menangis mengingat kejadian yang baru saja ia alami.

__ADS_1


Kesedihan yang Serli rasakan, bisa mang Udin rasakan. Tangis Serli begitu menyayat hati, sehingga mang Udin ikut meneteskan air matanya.


Mang Udin hanya bisa menepuk-nepuk punggung Serli sebagai bentuk dukungan dari mang Udin, beliau tidak bisa berkata apa-apa, karena beliau tidak mengetahui apa yang dialami oleh Serli.


"Nak jika kau tidak ingin kembali ke kelas saat ini, beristirahatlah di sini, tenangkan hati dan pikiranmu. Jika kau ingin kembali ke rumah sebaiknya setelah hatimu tenang."


"Nanti mang Udin antar neng Serli pulang, tetapi gantilah seragam neng Serli dengan yang ini, agar neng Serli tidak masuk angin."


"Setelah itu beristirahatlah, jika tidak keberatan ceritakan apa yang terjadi kepada mang Udin, meskipun mang Udin tidak bisa membantu setidaknya beban hati neng Serli sedikit berkurang." ucap Mang Udin.


Serli hanya menggelengkan kepalanya, kemudian ia mengambil seragam yang diberikan oleh mang Udin, kemudian ia berlalu meninggalkan mang Udin dengan segudang tanya dibenaknya.


Sementara mang Udin segera membuat segelas teh hangat untuk Serli. Setelah Serli keluar dari kamar mandi mang Udin memberikan teh tersebut.


"Neng minumlah teh hangat ini, dan ini ada tolak angin, minumlah agar lebih hangat. Dan beristirahatlah sejenak agar hati neng Serli lebih tenang." ucap mang Udin.


"Terimakasih mang." ucap Serli sambil meraih teh dan juga tolak angin ditangan mang Udin.


"Mang saya ingin beristirahat sebentar, bolehkah saya pinjam kamar mang Udin sebentar ?" tanya Serli dengan mulai terisak kembali.


"Boleh tentu saja boleh, masuklah neng dan beristirahatlah. Tenangkan hati dan pikiran neng Serli."


"Jika ada sesuatu jangan sungkan, mang Udin berada di luar untuk merapikan tanaman. Jika neng Serli ingin pulang nanti mang Udin antar dengan motor baru mang Udin." ucap mang Udin dengan tulus.


"Baik mang nanti Serli panggil mang Udin jika Serli ingin pulang." jawab Serli.


Kemudian ia segera masuk ke dalam kamar mang Udin dan kembali menumpahkan segala rasa yang ia alami dengan derai air mata.

__ADS_1


__ADS_2