29 Hari

29 Hari
Bab. 41. Perasaan Chika (2)


__ADS_3

Setelah sampai di ruang tamu, Deo langsung menenggak habis semua air minum yang ada dihadapannya termasuk minuman milik Chika dan juga Arian.


Tubuhnya penuh dengan keringat, setelah selesai minum ia kemudian mengusap keringat diwajahnya dengan tisu yang ada dihadapannya.


Setelah itu ia duduk bersandar sambil menenangkan diri. Ia memejamkan matanya sambil menekan dadanya yang satu tangan.


"Deo apa yang terjadi ? mengapa kau seperti ini. Apakah kau baru bertemu dengan setan ?" ucap Arian sambil menepuk-nepuk paha Deo yang tengah menenangkan diri.


"Ia Deo mengapa kau seperti itu ?". tanya Chika.


Deo hanya menghembuskan nafasnya, ia masih terbayang dengan apa yang ia lihat. Pikirannya melayang membayangkan bahwa ada seseorang yang sengaja disekap di dalam ruangan kosong itu, dan ia sudah menjadi sebuah mayat.


Dan sumber suara-suara aneh yang ia dengar itu adalah rintihan orang tersebut saat ia menahan siksaan yang ia alami.


"Deo apakah kau baik-baik saja ? Jika kau bisa menceritakan dengan jelas mungkin kami bisa membantu mu ?" ucap Arian dengan sedikit khawatir.


"Apakah kau belum membaca pesanku ?" jawab Deo dengan lirih.


Arian kemudian membuka ponselnya dan ia membaca pesan singkat Deo kemudian ia melihat video yang dikirim oleh Deo.


Raut wajah Arian langsung berubah saat melihat video yang dikirim oleh Deo.


"Deo, maafkan aku ! aku terlambat membaca pesanmu. Sekali lagi maafkan aku." ucap Arian sambil sedikit bingung.


"Sebenarnya apa yang terjadi ? dan pesan apa yang dikirimkan Deo untuk mu sehingga kau juga berubah seperti itu Aria." ucap Chika dengan bingung.


Padahal baru beberapa detik yang lalu Arian baik-baik saja. Bahkan ia masih sempat meminta nomor ponsel Chika agar bisa menghubungi Chika sewaktu-waktu.


"Arian apa sebenarnya yang terjadi ?" tanya Chika lagi.

__ADS_1


"Chika bisakah kita melihat-lihat rumahmu ? ah maksudku bisakah kita berjalan-jalan di luar sambil menikmati udara di luar, mungkin hal itu lebih baik."


"Sementara Deo, biarkan ia beristirahat dan menenangkan diri. Agar ia bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi." jawab Arian.


Chika tersenyum mendengar ucapan Arian. Tanpa pikir panjang lagi ia segera berdiri dan mengajak Arian berjalan-jalan di luar rumahnya.


"Ah Arian kau sungguh pengertian sekali, bahkan kau paham akan isi hatiku. Kau tau kehadiran Deo sangat menggangu. Aku juga ingin menghabiskan waktu malam ini hanya berdua saja dengan mu Arian."


"Dan Susana malam hari jauh lebih indah jika nikmati di luar ruangan. Hembusan angin malam yang dingin, menambah syahdu suasana di antara kita." batin Chika.


Wajah Chika terlihat begitu bahagia dengan pikirannya sendiri, ia membayangkan bahwa Arian akan melepaskan jaket yang ia pakai untuk menghangatkan tubuh Chika yang kedinginan di terpa angin malam.


"Chika apakah kau mempunyai sebuah taman dibelakang rumah mu ? jika ada alangkah lebih baik jika kita duduk di taman belakang."


"Pasti di sana jauh lebih nyaman untuk menikmati indahnya bulan dalam suasana yang penuh bintang." ucap Arian.


"Ada, dibelakang ada sebuah taman kecil, mari kita ke sana, seperti apa yang kau inginkan." jawab Chika.


"Arian aku sangat bahagia malam ini. Kuharap ini adalah awal yang baik dan akan ada malam-malam indah yang akan kita lalui selanjutnya."


"Semoga hubungan kita akan langgeng selamanya. Dan besok akan aku umumkan kepada semua orang bahwa kau adalah milikku seutuhnya. Terutama kepada Airin."


"Pasti si tukang sapu itu akan kepanasan seperti cacing, karena mengetahui kenyataan bahwa Arian lebih memilih aku." batin Chika.


Chika dan juga Arian berjalan menuju taman belakang. Sementara Arian berharap bisa mendengar suara yang berasal dari dalam kamar kosong yang ada di belakang rumah Chika.


Ia ingin melihat siapa yang ada didalam sana, bagaimana keadaannya dan apa yang menyebabkan ia berada di dalam ruangan kosong itu.


"Semoga taman yang aku maksud itu tidak jauh dari ruangan yang dimaksud oleh Deo tadi."

__ADS_1


"Mungkin dengan cara ini aku bisa mengetahui apa yang terjadi di kediaman keluarga Fernandez yang selama ini tidak pernah disentuh oleh hukum."


"Dan hanya dengan cara ini aku bisa melihatnya tanpa perlu melawan para penjaga dan juga keluarga Fernandez." batin Arian.


"Chika apakah tidak menganggu jika kita bersantai di taman belakang ?" tanya Arian sambil memecah keheningan di antara mereka.


"Tentu saja tidak, siapa yang akan terganggu aku sering duduk di taman belakang bersama teman-temanku. Kau jangan khawatir tidak ada yang terganggu saat kita di sana." jawab Chika.


"Baiklah. Chika terimakasih ya, meskipun aku baru pertama kali datang ke sini namun kau mengijinkan aku untuk bisa melihat-lihat rumahmu dan bahkan kau mengijinkan aku untuk bisa bersantai di taman belakang rumah mu." ucap Arian.


"Tidak masalah. Jangan sungkan untuk hal itu." jawab Chika dengan tersenyum.


"Jangankan untuk melihat-lihat sekitar rumah, untuk melihat isi hatiku pun kau ku ijinkan Arian. Agar kau tau bahwa kau satu-satunya yang menduduki singgasana hatiku." batin Chika.


Kemudian keduanya duduk di bangku taman yang tersedia. Cahaya bulan menerpa wajah keduanya.


Dengan sejuta keindahan sinar bulan yang menghiasi taman itu, membuat siapa saja yang berada di sana akan merasa senang sekaligus nyaman.


Dengan semilir angin yang berhembus, ditambah harum wangi bunga yang bertahtakan cahaya bulan. Kedua insan itu duduk dengan pikiran dan khayalan masing-masing.


Chika membayangkan hal-hal yang romantis bersama dengan Arian. Sang ketua OSIS yang sangat ia kagumi sejak awal Chika menjadi siswi baru di SMA Golden A&H. Bahkan saat keduanya masih mengikuti masa orientasi siswa.


Dimana mereka pernah mendapatkan hukuman yang sama dengan kesalahan yang sama juga.


Hal itu selalu Chika kenang sebagai kenangan indah diawal pertemuan mereka. Mulai saat itu Chika selalu berharap agar bisa bersama-sama dengan Arian.


Namun kenyataan berkata lain, ia dan Arian tidak menjadi satu kelas dan Arian selalu menjauhi Chika.


Entah alasan apa yang membuat Arian malam ini mengunjunginya, bahkan mengajaknya menikmati malam bersama tanpa gangguan dari siapapun termasuk dari Deo sahabat karib Arian.

__ADS_1


Terlepas dari apapun itu alasan Arian malam ini datang mengunjunginya, membuat Chika seolah terbang ke awan.


Hatinya penuh bunga-bunga cinta yang semakin bermekaran dengan kehadiran Arian yang duduk di sampingnya. Seandainya Chika bisa meminta, ia ingin malam ini dan saat ini tidak akan pernah berlalu ataupun berganti pagi, agar Arian tetap berada di sampingnya.


__ADS_2