29 Hari

29 Hari
Bab. 71. Ulang Tahun


__ADS_3

Arian menghentikan mobilnya saat ia mendengar ucapan Airin. Ia menatap wajah cantik di hadapannya dengan sejuta tanya.


"Airin apa sebenarnya yang terjadi ? mengapa besok adalah hari terakhir kau datang ke sekolah itu ? apakah kau akan pindah ke sekolah lain ? tapi mengapa ?" tanya Arian.


"Arian, kau jangan banyak berfikir. Aku punya alasan tetapi tidak bisa aku katakan sekarang. Tetapi apapun yang terjadi esok, tidak akan ada pengaruhnya terhadap hubungan kita." jawab Airin.


Arian menatap wajah Airin dengan tidak berdaya. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia meraih tubuh Airin kemudian ia memeluknya. Ia khawatir dengan ucapan Airin, ia takut kehilangan kekasihnya itu.


Sementara Airin merasa nyaman, saat mendengar detak jantung sang kekasih. Bagai sebuah alunan musik yang begitu menenangkan hatinya.


"Arian, sebaiknya aku turun di sini saja. Jangan berfikir yang macam-macam. Yakinlah semua akan baik-baik saja. Setelah acara itu selesai, aku berjanji tidak akan ada sesuatu yang aku tutupi dari mu lagi." ucap Airin tanpa berniat melepaskan hangatnya pelukan Arian.


"Airin, tak bisakah kau mengatakan sekarang. Bagaimana aku bisa melepaskan mu jika aku tidak tau kau akan pergi ke mana ?" ucap Arian.


"Aku tidak akan pergi kemana-mana, aku akan pulang dan besok kita akan bertemu lagi. Hanya saja aku tidak ingin kau mengantarkan aku sampai depan rumah. Itu saja tidak ada yang lain." jelas Airin.


Dengan terpaksa Arian melepaskan Airin. Ia tidak rela jika jika harus kehilangan kekasihnya itu. Tetapi ia juga tidak bisa untuk memaksanya untuk mengantarnya sampai di depan rumah.


Airin tersenyum, kemudian perlahan ia turun dari dalam mobil, kemudian ia melangkah menuju sebuah gang yang sempit. Sebelum ia masuk lebih jauh ia melambaikan tangannya kepada Arian.


Sementara Arian menatap gadis itu dengan tatapan yang sangat rumit. Setelah bayangan tidak terlihat lagi, baru ia melajukan mobilnya. Ia segera pulang ke rumah.


Setelah sampai ia segera membersihkan diri, setelah itu ia membuka laptopnya untuk memeriksa laporan perusahaannya. Ia begitu fokus hingga ia lupa dengan masalah Airin.


Setelah selesai, ia melihat jam tangannya dan ternyata malam telah larut, kemudian ia segera beristirahat agar besok ia bisa pergi ke sekolah. Dan setelah acara itu selesai ia harus mengetahui semua jawaban dari semua pertanyaan yang ada dalam benaknya.


Perlahan namun pasti, Arian pun terlelap dan mulai menjemput mimpi indahnya.


Tak terasa sang Surya mulai menampakkan dirinya, sinarnya yang hangat menyapa wajah tampan Arian yang masih terlelap.


"Tuan, apakah anda baik-baik saja ?" ucap seorang pelayan sambil mengetuk pintu kamar Arian.

__ADS_1


Perlahan Arian membuka kedua matanya, sambil menjawab pertanyaan itu secara refleks.


"Aku baik-baik saja." ucapnya dengan lesu.


Setelah ia melihat jam ditangannya ia segera bangkit dan berlari ke kamar mandi, setelah selesai ia segera bersiap untuk pergi ke sekolah.


"Tuan sarapan terlebih dahulu, atau setidaknya minumlah susu dan makanlah roti atau yang lainnya." ucap pelayan itu dengan penuh perhatian.


"Tolong siapkan saja sebagai bekal, aku akan meminumnya sambil berkendara." ucap Arian sambil merapikan sepatunya. Setelah semuanya siap, ia segera berangkat ke sekolah untuk menyelesaikan tugasnya.


Sementara semua orang sudah siap dengan tugas mereka masing-masing, para Dewan guru dan seluruh perangkat Sekolah sudah mulai berdatangan. Mereka langsung menempati posisinya masing-masing.


Para siswa dan siswi juga sudah duduk di bangku mereka masing-masing. Semuanya terlihat begitu antusias untuk merayakan acara ulang tahun Sekolah yang sudah mereka nanti-nantikan.


Deo mengantarkan Serli, duduk di barisan depan agar ia bisa menjaga sekaligus melaksanakan tugasnya.


Arian yang baru saja sampai langsung bergabung dengan yang lainnya, sambil memastikan semua dalam keadaan siap. Matanya menatap seluruh yang hadir, namun ia tidak melihat Airin sang kekasih hati.


"Arian, apa yang terjadi ? mengapa wajahmu begitu sedih ? biasanya kau selalu terlihat penuh wibawa." tanya Deo sambil menepuk pundak sahabatnya itu.


"Deo apakah kau melihat Airin ?" tanya Arian tanpa menjawab pertanyaan Deo.


"Tidak, sejak tadi Serli juga menunggunya tetapi ia belum datang. Coba kau telpon siapa tau dia sedang kesusahan untuk mencari kendaraan atau yang lainnya." saran Deo.


Arian segera menghubungi Airin, namun tidak ada jawaban. ia mengulanginya lagi namun tetap tidak ada sebuah jawaban. Arian semakin terlihat sangat menyedihkan.


"Mungkin dia sedang dalam perjalanan, sehingga tidak bisa mendengar panggilan mu." ucap Deo mencoba menenangkan sahabatnya itu.


"Kalau saja ia tidak bilang, bahwa setelah hari ini ia tidak akan datang lagi sebagai siswi SMA Golden ini, aku tidak akan sepanik ini." ucap Arian merasa frustasi.


"Apa yang terjadi?" tanya Deo dengan bingung.

__ADS_1


Setau dia hubungan keduanya baik-baik saja, bahkan kemarin mereka melakukan kencan pertamanya dengan begitu romantis.


"Arian segera mulai acaranya, pemilik SMA yang kita tunggu tengah berada di dalam perjalanan. Usahakan acara ini sesuai jadwal. Dan beliau bisa langsung memberi sambutan tak lama setelah beliau datang." ucap sang Kepala Sekolah.


"Baik pak." jawab Arian lesu.


"Seharusnya kau bersemangat, karena kau akan segera menyambut orang yang paling penting dalam hidup mu." ucap Kepala Sekolah sambil berlalu.


"Airin lebih penting dari segalanya." ucap Arian.


"Arian lakukan yang terbaik, aku sedang dalam perjalanan ke SMA Golden A&H." muncul notifikasi dari ponselnya.


Arian tersenyum saat membaca pesan dari seseorang yang sejak tadi ia tunggu. Setelah itu ia segera memulai acara ulang tahun Sekolah tersebut.


Tak lama, sebuah mobil Lamborghini keluaran terbaru memasuki Gerbang Sekolah. Semua mata memandang ke arah mobil tersebut dengan tatapan kagum.


"Apakah itu mobil sang pemilik SMA Golden ini ?" tanya para siswa dan siswi serta para Dewan Guru.


"Bukankah itu mobil mewah yang pernah Airin bawa, saat menolong ku waktu itu." ucap Serli.


"Apa maksudmu ? bisa kau jelaskan kepada ku !" ucap Deo sambil ikut melihat mobil mewah tersebut.


Arian yang masih memberikan sambutan di atas podium berhenti sejenak sambil menatap ke arah mobil mewah tersebut.


"Marilah kita sambut pemilik SMA Golden A&H yang selama ini kita tunggu-tunggu kehadirannya." ucap Arian sesuai instruksi dari Kepala Sekolah.


Hal itu disambut dengan tepuk tangan yang sangat meriah oleh seluruh yang hadir dalam acara tersebut.


Tak lama keluar seorang gadis yang sangat cantik, dengan begitu anggun ia melangkah maju ke arah podium sang sudah disiapkan.


Dengan menggunakan kacamata hitam, ia tersenyum kearah sang ketua OSIS yang masih diam membeku di atas podium.

__ADS_1


__ADS_2