
Dengan amarah yang sudah di ubun-ubun. Tuan Fernandez segera membuka pintu kamar dan segera menuju ke sumber suara. Dimana ada Misel yang mengetuk pintu kamar yang ada disebelahnya, dengan sangat keras.
Sebuah kamar yang biasanya mereka gunakan untuk menjalani hubungan terlarang. Dengan langkah yang terburu-buru, tuan Fernandez segera mendekati Misel.
"Apa yang kau lakukan disini ? bukankah aku sudah mengatakan bahwa kau lebih baik segera pulang dan aku akan menghubungi mu besok !" ucap tuan Fernandez dengan penuh emosi.
"Tuan mengapa tuan menolak ku ? bukankah biasanya tuan sangat menyukai permainan ku ?" tanya Misel dengan ketakutan.
"Sudah kukatakan tidak untuk malam ini! sekarang lebih baik kau segera pergi sebelum aku meminta para pengawal untuk memaksamu keluar dari rumah ini." ucap tuan Fernandez dengan penuh penekanan.
"Aku akan pergi tuan, tapi tolong lepaskan tangan tuan. Ini sangat sakit sekali." ucap Misel sambil mencoba melepaskan tangan tuan Fernandez yang dengan kuat mencengkram dagunya.
"Cepat pergi sebelum Chika menyadari keberadaan mu di sini. Aku ada urusan yang sangat penting." ucap tuan Fernandez.
"Baik tuan." jawab Misel.
Tanpa basa-basi lagi, Misel segera kabur dari hadapan tuan Fernandez. Ia tidak mau menjadi sasaran kemarahan lelaki paruh baya itu.
Ia hanya berharap bahwa tuan Fernandez tetap menjadi sumber penghasilannya. Selain itu ia tidak mau berurusan dengan manusia kejam seperti tuan Fernandez.
"Misel dari mana kau ? mengapa kau seperti dikejar oleh hantu ?" tanya Chika yang tanpa sengaja melihat Misel keluar dari arah kamar ayahnya.
"Aku, aku hanya ingin berpamitan kepada ayahmu sebelum pulang, tapi aku tidak berani melakukannya. Sepertinya beliau sangat sibuk." jawab Misel.
"Kami memang sangat sibuk. Maafkan jika ayahku berkata sedikit kasar. Dan jika tidak ada sesuatu lagi kau boleh pergi." ucap Chika sambil memperhatikan wajah Misel.
"Iya aku akan segera pergi. Maaf jika telah menganggu kalian. Dan sampai jumpa di Sekolah." ucap Misel.
Ia segera berlalu meninggalkan Chika yang masih penasaran dengan warna merah di dagu Misel.
"Apa sebenarnya yang terjadi ? mengapa Misel seperti itu ?" tanya Chika.
"Apakah aku harus bertanya dengan ayah, tapi bukankah ayah akan mengurus Serli ?" ucap Chika.
__ADS_1
Ia bimbang apakah harus menemui sang ayah untuk menanyakan tentang Misel atau ia harus kembali ke kamarnya.
Bukankah Serli saat ini masih dalam keadaan pingsan, hal itu agar Serli tidak curiga dengan dirinya. Bukankah semua itu dilakukan demi kebaikan dirinya juga.
Tapi mengapa hati kecilnya berkata lain. Ia ingin sekali memastikan keadaan Serli. Meskipun ia sangat membenci gadis itu, tetapi mengapa saat ini hati kecilnya berkata bahwa ia harus memastikan bahwa Serli dalam keadaan yang baik-baik saja.
"Ada apa dengan aku ini. Mengapa hati ini begitu gelisah ? mengapa aku sangat khawatir dengan keadaan Serli ?" Chika bertanya sendiri.
Ia kemudian mencoba menghubungi sang ayah, namun ponselnya sudah tidak aktif. Chika menatap layar ponselnya dengan sedikit kecewa.
"Mengapa ayah mematikan ponselnya ? apakah beliau sudah tidur dan tidak ingin diganggu ? atau ia sedang melakukan sesuatu yang sangat penting ?" tanya Chika dalam hati.
Dengan begitu banyak pertanyaan dalam benaknya, Chika duduk di ruang keluarga. Ia kemudian menyalakan televisi tanpa berniat untuk melihat acara apa yang ditampilkan.
Chika memainkan ponselnya, sambil terus memutar-mutar benda pipih itu.
"Berita malam ini"
"Seorang pejabat dan juga seorang pengusaha yang sukses dan telah menguasai kota K ini selama bertahun-tahun telah terbukti melakukan banyak sekali kejahatan. ia juga melakukan korupsi dan pencucian uang."
"Meskipun usahanya juga bangkrut karena saham perusahaannya jatuh dan banyak para investor yang menarik seluruh ... ." Chika langsung fokus pada berita yang tayang di layar televisi.
Dia dengan cepat membuka ponselnya dan melakukan pencarian terkait berita tersebut.
"Jatuhnya Dinasti Fernandez."
"Akhirnya keluarga Fernandez runtuh."
"Setelah sekian lama akhirnya terkuak kejahatan dinasti Fernandez."
Dan masih banyak lagi berita-berita yang menampilkan jatuhnya keluarga Fernandez.
Tubuh Chika gemetar, wajahnya langsung pucat, ia tidak pernah menyangka bahwa keluarga yang selama ini begitu disanjung dan ditakuti oleh banyak orang sekarang menjadi buah bibir semua orang karena kehancurannya tinggal menunggu waktu.
__ADS_1
Chika terjatuh di lantai, tenaganya seakan habis tak tersisa menerima sebuah kenyataan buruk yang tak pernah sama sekali ia pikirkan.
Setelah beberapa saat ia langsung bangkit dan berlari mencari sang ayah yang sejak tadi tidak bisa ia hubungi. Chika berlari dengan berurai air mata.
Sementara tuan Fernandez sedang menikmati makanan yang sudah lama ia inginkan. Serli yang mulai bangun perlahan-lahan membuka kedua matanya.
"Air air aku haus sekali." ucapnya sambil mencengkram lehernya.
"Manis, ini air yang kau butuhkan." ucap tuan Fernandez sambil menyodorkan air yang sudah ia tambah dengan obat perangsang.
Serli langsung menenggak habis air yang ada di tangannya. Namun ia masih merasa kehausan.
Dengan sabar tuan Fernandez memberikan apa yang diminta oleh Serli, ia merasa puas karena obat yang ia siapkan telah diminum habis oleh Serli.
"Panas sekali kamar ini." ucap Serli yang mulai merasakan tubuhnya seperti terbakar. Dengan cepat ia melepaskan kain yang menutupi tubuhnya.
Tinggal pakaian dalam saja, kemudian ia dengan liar menyerang lelaki paruh baya dihadapannya.
Dengan brutal ia juga melepas pakaian yang menutupi tubuh pria itu. Seperti singa yang kelaparan Serli langsung menerkam mangsa di hadapannya.
"Sabar cantik, aku akan memberikan apapun yang kau inginkan. Kita akan melakukannya sampai kita sama-sama puas."
"Tapi sabar dulu, aku akan merekam semuanya agar kau bisa melihat bagaimana ganasnya kau saat di atas ranjang." ucap tuan Fernandez sambil melepaskan Serli yang sudah menempel di tubuhnya.
Dengan cepat tuan Fernandez mengaktifkan kamera yang sengaja ia siapkan. Ia ingin merekam semua percintaan yang ia lakukan dengan Serli, agar ia masih bisa menikmatinya dilain waktu.
Serli yang merasa diabaikan langsung berjalan ke arah pria paruh baya itu. Dan langsung melepaskan pakaian dalam pria itu baru kemudian pakai dalamnya.
Tuan Fernandez yang mendapat serangan itu langsung mengangkat tubuh putih polos itu Keat ranjang. Ia sudah tidak dapat menahan lagi, saat melihat Serli yang dengan serakah memainkan adik kecilnya.
Ia mengeluarkan suara-suara indah, saat wanita cantik itu menikmatinya seperti permen lollipop.
Namun saat ia akan melakukan penyerangan balasan. Pintu kamarnya digedor-gedor dengan begitu kerasnya.
__ADS_1
Membuat adik kecilnya, takut kemudian mengecil seakan ingin bersembunyi. Sebelum ia menyelesaikan misinya.