29 Hari

29 Hari
Bab. 6. Perlawanan Airin


__ADS_3

Saat pagi menjelang, semua insan kembali melakukan aktivitas kembali setelah semalam mereka beristirahat dari semua kegiatan.


Begitu pula dengan Airin, ia kembali beraktivitas dan pergi ke Sekolah kembali, untuk melanjutkan kisah yang belum ia selesaikan.


Seperti biasanya ia meninggalkan rumah ibu Iyem dan berjalan kaki menuju ke Sekolahnya. Meskipun ia berjalan kaki namun tidak membuat ia malas, ia tetap penuh semangat dan selalu menghiasi wajahnya dengan senyuman yang manis.


Setelah sampai di Sekolah ia selalu menyempatkan diri untuk memberikan sebuah sarapan yang sederhana untuk mang Udin, tukang kebun Sekolah yang baru ia kenal.


Namun kebaikan dan ketulusan beliau membuat Airin seolah telah mengenal beliau selama bertahun-tahun.


"Pagi mang Udin ." sapa Airin setelah berada tak jauh dari mang Udin.


"Pagi neng." jawab mang Udin dengan tersenyum ramah.


"Ini mang ada sedikit makanan, lumayan buat sarapan. Karena realitanya sarapan lebih penting dari pada harapan." ucap Airin sambil menyerahkan bekal yang ia persiapkan untuk mang Udin.


"Terimakasih neng, mang Udin jadi merepotkan neng Airin, setiap pagi selalu membawakan mang Udin sarapan." ucap mang Udin dengan tulus.


"Tidak apa mang, hanya sebuah sarapan. Hal itu tidak sebanding dengan ketulusan dan keikhlasan mang Udin untuk menjaga kebersihan Sekolah ini."


"Ya sudah mang, selamat beraktifitas semoga hari ini jauh lebih baik dari hari kemarin. Airin permisi mau masuk ke kelas Airin." ucap Airin dengan tersenyum.


"Terimakasih banyak neng, hati-hati semoga hari ini neng Airin selamat dari Chika dan kawan-kawan." jawab mang Udin sambil tersenyum melihat Airin yang melangkah menuju ke kelasnya.


Dan bukan Chika namanya jika memulai hari tanpa membully teman yang ekonomi keluarganya berada di bawahnya.


Kali ini Chika sedang memberikan pelajaran kepada Serli salah satu siswa yang masuk ke Sekolah tersebut karena mendapatkan beasiswa.


Ia adalah anak supir angkot, sehingga setiap pagi ia diantar oleh ayahnya menggunakan angkot sambil mencari rejeki.


"Hai tukang angkot bersihkan sepatu ku atau kau tidak akan bisa tersenyum sampai malam menjelang ?" ucap Chika ketika melihat Serli masuk ke dalam kelasnya.


Karena merasa takut, Serli kemudian mendekati Chika.

__ADS_1


"Maaf Chika apa yang bisa aku lakukan ?" tanya Serli dengan ketakutan.


"Bersihkan sepatuku !" jawab Chika sambil mengarahkan salah satu kakinya ke arah Serli.


Perlahan Serli duduk di hadapan Chika, kemudian ia membersihkan sepatu Chika menggunakan sebuah tisu yang ia bawa.


Perlahan-lahan Serli membersihkan Sepatu Chika, namun dengan sengaja Chika menendang Serli sehingga ia terjatuh di hadapan Chika.


"Siapa yang menyuruhmu membersihkan sepatu ku menggunakan tisu ?" tanya Chika dengan sangat angkuh tanpa merasa bersalah karena telah menendang Serli.


"Lalu dengan apa aku harus membersihkannya ?" tanya Serli sambil menangis menahan sakit karena tendangan Chika.


"Bersihkan dengan bajumu ! tapi ingat bukan dengan air mata !" jawab Chika.


Sementara Serli sangat kaget saat mendengar ucapan Chika, bagaimana caranya ia bisa membersihkan sepatu itu dengan menggunakan bajunya. Serli terdiam tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Cepat lakukan ! mengapa kau malah bengong kayak sapi ompong." bentak Chika.


Dengan sedih dan ketakutan, Serli mengeluarkan bajunya dan dengan sedikit merendahkan posisi tubuhnya Serli mulai mengelap sepatu Chika.


Sedangkan Chika menatap ke arah Airin dengan penuh amarah.


"Oh jadi si tukang sapu ini sudah berani bertingkah rupanya. Atau jangan-jangan kau yang akan melakukan apa yang menjadi tugas tukang angkot ini." ucap Chika Sabil berjalan mendekati Airin.


"Dengan senang hati aku akan mengajarimu bagaimana caranya membersihkan sepatu mu." jawab Airin.


Kemudian Airin mengeluarkan botol air minum yang selalu ia bawa, dengan cepat ia menyiramkan air tersebut ke kaki Chika sehingga sepatu yang ia gunakan menjadi basah.


"Kau benar-benar ingin menantang ku ! berani sekali kau melakukan hal ini." ucap Chika dengan wajah yang memerah karena menahan amarahnya.


Kemudian Chika dengan cepat mendekati Airin dan hendak menamparnya. Namun tangannya ditahan oleh Airin dengan sangat kuat.


"Mengapa kau marah ? bukankah kau ingin membersihkan sepatu mu ? dan untuk membersihkan sepatu itu dengan cara dicuci menggunakan air bersih." ucap Airin sambil tersenyum.

__ADS_1


"Lepaskan tanganku atau kau akan menyesal karena telah membasahi sepatu ku. Kau harus mengganti sepatu ku ini."


"Asal kau tahu gaji mu tidak akan cukup untuk membelinya, meskipun kau gunakan gaji mu selama satu tahun." ucap Chika dengan begitu marahnya.


"Tentu saja gaji ku tidak akan sebanding dengan sepatu mu. Gaji ku tidak akan aku gunakan hanya untuk membeli sepatu seperti itu." jawab Airin sambil mengibaskan tangan Chika.


"Kalian mengapa hanya diam saja saat melihat tukang sapu ini bertingkah dihadapan ku ?"


"Sekarang juga beri ia pelajaran agar ia tidak bisa lagi melawan aku. Dan hal itu akan ia ingat selama hidupnya." ucap Chika kepada teman-temannya.


Secara bersamaan mereka mendekati Airin, kemudian mereka memegang kedua tangan Airin dari sisi kanan dan kiri, setelah itu Chika segera mendekati Airin. Dengan kasar Chika memegang dagu Airin.


"Kau adalah siswi baru di Sekolah ini, tapi kau berani melawan aku. Bahkan kau hanya seorang tukang sapu jalanan. Untuk bisa masuk ke Sekolah ini kau pasti mendapatkan beasiswa."


"Asal kau tau bahwa aku bisa mencabut beasiswa mu kapan saja. Dan aku akan memberimu sedikit pelajaran agar kau tak berani lagi melawanku ?" ucap Chika.


Kemudian Chika mengangkat tangannya hendak menampar wajah Airin, dengan sigap Airin mundur dua langkah sehingga tamparan Chika mengenai salah satu teman Chika yaitu Misel.


"Aw sakit !" teriak Misel.


"Kau mengapa menghalangi aku ?" tanya Chika dengan marah.


"Dia yang menarik kami, bukan aku hendak menghalangi mu." jawab Misel sambil mengusap-usap punggungnya.


"Makanya yang kuat memegang tangan tukang sapu itu, agar aku tidak salah sasaran. Dan jangan biarkan ia semakin berani bertingkah di hadapan kita." ucap Chika.


Tanpa mereka sadari Airin berhasil melepaskan kedua tangannya dari kedua teman Chika. Ia tersenyum melihat Chika menampar punggung Misel. Dan mendengarkan perdebatan kecil mereka.


Dengan santai Airin berjalan meninggalkan mereka, dan segera duduk di bangkunya. Begitu juga dengan Serli ia segera duduk di bangkunya tanpa berani berkata apa-apa lagi.


"Untung saja ada Airin, kalau tidak aku tidak tau bakal seperti apa Chika memperlakukan aku."


"Terimakasih Airin, kau adalah orang pertama yang berani membelaku dihadapan orang banyak untuk melawan Chika dan teman-temannya. Tapi maafkan aku karena aku tidak bisa membantu dari kekejaman Chika."

__ADS_1


"Semoga kau diberi kekuatan dan juga bantuan dari seseorang yang bisa melawan Chika dan juga kawan-kawannya." batin Serli.


__ADS_2