
Deo segera berlari dan turun dari atas gedung tersebut, ia ingin melihat bagaimana keadaan Serli.
Setelah ia sampai di bawah, Serli sudah dalam keadaan meninggal dunia. Banyak siswa yang melihat jenazah Serli yang bersimbah darah.
Deo duduk di depan Serli dengan berurai air mata. Ia berteriak dengan sekuat tenaga. sambil menjambak rambutnya sendiri.
"Serli !!!!." teriak Deo.
Arian yang tidur di samping Deo langsung terbangun karena teriakan Deo yang begitu keras.
Ia segera membangunkan Deo dan memberikannya segelas air minum.
"Deo bangunlah dan minumlah air ini ! Apakah kau bermimpi buruk ?" tanya Arian sambil membantu Deo bangun dari tidurnya.
Deo bangun kemudian ia menegak air yang diberikan oleh Arian, keringat membasahi sekujur tubuhnya.
"Apakah ini hanya sebuah mimpi ?" tanya Arian sambil mengatur nafasnya.
"Ya ini hanya sebuah mimpi. Tetapi kau mimpi apa sehingga kau berteriak-teriak memanggil Serli ?" tanya Arian.
Kemudian Deo menceritakan semua mimpinya kepada Arian.
"Apakah ini sebuah petunjuk atau aku hanya terbawa suasana saja ?" tanya Deo setelah menceritakan mimpinya.
"Semoga ini bukan pertanda buruk." jawab Arian.
"Semoga." ucap Deo sambil mengeringkan keringat di wajahnya.
Kemudian keduanya diam seribu bahasa.
"Bagaimana jika kita besok mencari tau tentang masalah Serli. Mungkin setelah kita mengetahui apa masalah Serli, kita bisa membantu Serli dengan tepat." usul Arian.
"Kau benar ! kita harus menyelidiki masalah apa yang dialami oleh Serli. Jangan sampai kejadian di dalam mimpiku menjadi sebuah kenyataan." ucap Deo.
Setelah berbincang-bincang sebentar, Deo kemudian berpamitan untuk pulang, tak lupa ia juga meminjam buku catatan Arian, agar ia bisa menyalinnya sehingga ia bisa mengejar ketertinggalannya.
__ADS_1
Setelah kepergian Deo, Arian termenung memikirkan tentang mimpi Deo. Ia mengingat kembali bahwa pagi itu ia masih sempat melihat Serli.
Tetapi setelah ia kembali ke kelas itu dan ketika Chika dibawa oleh Polisi, Serli tidak ada lagi dikelasnya.
"Besok aku akan mencari tau apa yang terjadi terhadap Serli. Tetapi siapa yang bisa aku percaya ? apakah ada di antara mereka yang mau berkata jujur ?" batin Arian.
Kemudian ia merenung sejenak, dan akhirnya ia terlelap melalui malam dengan mimpi indah.
Gelapnya malam ini tidak mampu mengalahkan gelapnya hati Chika, hatinya sudah tertutup oleh noda hitam, sehingga hati nuraninya sudah tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Setelah ia dibawa ke kantor Polisi, ia terpaksa bermalam di dalam bui. Karena lawannya saat ini tidak lemah, sehingga ia tidak bisa di bebaskan dengan mudah.
"Siapa sebenarnya Airin itu, mengapa keluarga Fernandez tidak bisa menyentuhnya ? Dan mengapa ayahku tidak bisa mengeluarkan aku dari sini ?"
"Bukankah ia hanya tukang sapu jalan. Bahkan aku melihat sendiri ia menyapu jalan dengan seragam berwarna oranye itu. Dan ia tinggal di gubuk reyot yang sama sekali tidak pantas disebut sebagai rumah."
"Tapi tidak masalah siapapun Airin, aku masih mempunyai sebuah kartu yang bisa memaksa Airin untuk mencabut laporannya ini."
"Aku harus bisa menghubungi Misel, karena hanya dia yang bisa menolongku saat ini." ucap Chika dengan senyum yang licik.
"Polisi tolong keluarkan aku dari tempat ini !" ucap Chika sambil berteriak-teriak dan memukul pintu penjara.
Hal itu membuat dua orang narapidana yang satu ruangan dengan Chika terbangun. Mereka langsung menutup mulut Chika, tanpa aba-aba keduanya langsung memukuli Chika.
Sekujur tubuh Chika terasa sakit seperti patah semua tulang belulangnya. Ia menangis sambil meringkuk dan menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Anak baru ini sebagai permulaan, jika kau tidak bisa diam dan mengganggu kami beristirahat maka akan aku bungkam mulut mu itu untuk selamanya." ucap wanita yang berbadan gelap itu.
"Aku hanya ingin keluar dari tempat terkutuk ini." ucap Chika sambil berlinang air mata.
"Seharusnya kau berfikir ulang sebelum melakukan kejahatan jika kau tidak mau berada di tempat ini." ucap yang lainnya.
"Aku tidak perlu memikirkan apa yang aku lakukan, karena ayahku selalu bisa mengatasi semua yang aku lakukan baik itu salah atau benar." jawab Chika.
"Benarkah ? jika begitu mengapa kau masih mendekam disini, apakah ayahmu tidak mengetahui bahwa kau berada di sini."
__ADS_1
"Atau ayahmu sudah lelah menolongmu ? sehingga membiarkan dirimu merasakan betapa enaknya tinggal di tempat ini." ucap wanita itu.
"Tidak mungkin ! ayahku tidak mungkin membiarkan aku menderita dengan kekuasaannya dia bisa melakukan apapun." jawab Chika.
"Lebih baik kau diam dan simpan khayalan mu itu, kami lelah ingin beristirahat." jawab wanita itu.
"Kalian yang membuat aku tidak bisa beristirahat." ucap Chika dengan sinis.
Kemudian wanita itu bangkit dan memberikan beberapa pukulan di perut Chika, hingga ia memuntahkan darah segar.
"Aku , ak aku ... ." ucap Chika terhenti saat melihat wanita berbadan gelap itu yang sudah mengepalkan tangannya.
"Kau bisa diam ? atau aku yang akan membungkam mulut mu !" ucap wanita itu.
Chika kemudian ia terdiam, bahkan untuk sekedar menangis saja ia tidak berani. Saat ini ia hanya bisa pasrah dengan keadaan yang ia alami.
Seumur hidup Chika baru kali ini, mengalami hal yang sangat menyakitkan ini.
"Ayah tolong keluarkan aku dari sini. Chika mohon lakukan apapun agar Chika bisa keluar dengan cepat dari tempat terkutuk ini."
"Dan untuk kalian berdua, tunggu saja pembalasan ku. Akunakan membuat perhitungan dengan kalian jika aku sudah keluar dari sini."
"Akan aku patahkan kedua tangan kalian. Dan kau Airin, aku akan membalas semua ini berkali-kali lipat." batin Chika sambil memejamkan matanya.
"Bagus, seharusnya kau diam sejak tadi sehingga kami tidak perlu mengingatkan mu dengan tangan kami." ucap wanita itu.
Setelah suasan tenang dan sunyi mereka semua terlelap, melupakan semua kejadian yang mereka alami. Chika jatuh pingsan karena ia tidak tahan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Saat mereka semua terlelap, datanglah penjaga yang memeriksa seluruh penghuni sel tersebut, apakah terlelap semua atau belum.
Saat ia melihat darai di sekitar wajah Chika, ia lalu mengarahkan senter dan melihat siapa yang baru saja menjadi penghuni baru di dalam sel itu. Sehingga ia menjadi sasaran empuk bagi wanita yang berdarah dingin itu.
"Kasihan dia, sepertinya ia berasal dari keluarga yang kaya raya, tetapi apa yang ia lakukan sehingga ia berada di sini ?"
"Ah sudahlah siapapun gadis itu, ia harus mendapatkan balasan atas kejahatan yang ia lakukan. Agar ketika ia keluar dari sini. ia tidak akan melakukan kejahatan lagi." ucap penjaga penjara tersebut kemudian berlalu meninggalkan Chika yang masih tak sadarkan diri.
__ADS_1