29 Hari

29 Hari
Bab. 21. Penangkapan Chika


__ADS_3

Airin berdiri di samping Arian saat beberapa polisi berjalan memasuki ruang kelas Airin.


"Selamat pagi pak, maaf apakah ada yang bisa kami bantu ?" tanya Pak Dodit dengan sedikit bingung.


"Selamat pagi, kami dari kepolisian ingin membawa Ananda Chika terkait kasus kebakaran yang menimpa rumah Ibu Iyem dua hari yang lalu."


"Ini surat perintahnya dan silakan ada cek. Kami mohon bantuan dan kerjasamanya agar anda bisa menyerahkan ananda Chika. Hal ini sudah mendapat persetujuan dari Bapak Bima selaku Kepala Sekolah." jawab salah satu Polisi tersebut.


Semua siswa yang ada di dalam kelas tersebut saling pandang satu sama lainya. Mereka tidak pernah menyangka bahwa Chika bisa melakukan hal keji seperti itu.


"Tidak aku tidak mau ditangkap !" ucap Chika dengan berteriak.


"Lebih baik anda bersikap kooperatif nona." ucap Polisi tersebut.


"Tidak mau ! kalian akan berurusan dengan tuan Fernandez. Jika kalian berani menangkap aku maka keluarga kalian yang menjadi taruhannya." jawab Chika.


"Nona kami hanya menjalankan perintah, anda bisa menjelaskan hal itu di kantor Polisi nanti. Dan keluarga anda bisa segera datang ke kantor Polisi untuk mendampingi Anda untuk bertanggung jawab atas perbuatan yang anda lakukan." jawab Polisi tersebut.


"Tidak ! aku tidak mau !." bentak Chika sambil melangkah mundur hingga tubuhnya terbentur dinding.


"Chika jika kau memang tidak bersalah kau jangan ketakutan seperti itu. Lihatlah bahkan aku yang dibawa oleh orang-orang suruhan ayahmu bisa bebas dalam waktu yang singkat."


"Karena apa ? karena aku tidak bersalah. Begitu juga kau jika kau memang tidak bersalah maka Polisi akan segera melepaskan mu, karena mereka tau hukum yang benar dan salah."


"Jadi kau jangan ketakutan seperti itu. Bersikaplah tenang dan ikutilah mereka, jangan kau persulit pekerjaan mereka." ucap Airin dengan memasuki ruang kelas tersebut.


"Kau ? bagaimana bisa kau berada di sini ? bagaimana mungkin kau bisa bebas begitu saja ?" tanya Chika sambil menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Jawabannya sederhana Chika, aku bisa bebas karena aku tidak bersalah." jawab Airin dengan tersenyum manis ke arah Chika.

__ADS_1


"Tidak, Tidak mungkin. Itu tidak mungkin !." jawab Chika.


"Apa yang membuat kau begitu yakin bahwa aku tidak bisa lepas dari mereka orang-orang suruhan keluarga Fernandez ?" tanya Airin dengan polosnya.


"Karena selama ini tidak ada yang bisa lepas dari keluarga Fernandez baik bersalah ataupun tidak." jawab Misel dengan santai.


"Benarkah ? begitu mengerikannya keluarga Fernandez ? sehingga dalam pemikiran mereka tidak ada yang benar selain mereka."


"Apakah itu salah satu sebab kalian semua tidak ada yang berani melawan kekejaman Chika ?"


"Begitu menakutkannya keluarga itu sehingga kalian lebih baik menutup mata dan telinga disaat Chika melakukan hal yang salah, seperti Bullying yang ia lakukan ?" tanya Airin dengan lantang.


Namun tidak ada yang berani berkata apapun, mereka semua hanya bisa menundukkan kepala demi keamanan mereka dan juga keluar mereka.


"Baiklah jika kalian bungkam saat ini, tetapi ingat jika sampai ada korban jiwa karena bullying yang dilakukan oleh Chika dan kawan-kawannya maka kalian semua harus ikut bertanggung jawab." ucap Airin lagi.


Namun mereka semua tetap pada posisinya masing-masing. Suasana kembali hening.


"Tidak ! jangan bawa aku. Misel hubungi ayahku. Katakan padanya bahwa ada yang berani melawannya bahkan ia dengan terang-terangan memukul genderang perang dengan keluarga kita." ucap Chika.


Setelah itu Chika terpaksa berjalan mengikuti petugas yang membawanya, dengan sesekali mengatakan sumpah serapah. Untuk mereka terutama Airin.


"Sebenarnya apa yang terjadi ?" tanya Arian sambil mendekati Airin.


"Dari hasil penyelidikan, orang yang sengaja membakar rumah Ibu Iyem telah tertangkap dan ia mengaku ia hanya menjalankan perintah dari Chika, bahkan ia menunjukan bukti pembayaran untuk tugasnya itu dari rekening pribadi Chika." jawab Airin.


"Airin kamu yang sabar ya, meskipun banyak bukti kesalahan yang dilakukan oleh Chika, keluarga itu bisa memutar balikkan fakta dengan kekuasaannya."


"Jika kasus ini tidak berhasil seperti yang kau harapkan, kau jangan bersedih. Masih banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjadi lebih baik."

__ADS_1


"Nanti biar aku sampaikan kepada seluruh siswa agar mereka bisa membantu mu dengan seikhlasnya, untuk sedikit membantu musibah yang kau hadapi saat ini." ucap Arian.


"Apa yang terjadi ? mengapa kau berkata seperti itu Arian ?" tanya Pak Dodit.


Kemudian Arian menceritakan bahwa rumah ibu Iyem yang merupakan tempat tinggal Airin sengaja dibakar oleh seorang. Dan dari hasil penyidikan Chika adalah dalang dari semua kejadian naas itu.


Semua yang ada di dalam kelas tersebut memandang iba kearah Airin.


"Semoga kau tabah dalam menghadapinya Airin. Dan untuk semuanya silakan kumpulkan uang seikhlasnya untuk membantu meringankan beban keluarga Airin. " ucap pak Dodit setelah mendengar penjelasan Arian.


Kemudian satu persatu dari mereka berdiri dan memberikan uang jajan yang mereka bawa untuk membantu Airin.


Airin meneteskan air matanya, ia merasa terharu dengan sikap dari temen-temennya, sebenarnya mereka mempunyai hati yang baik. Hanya saja mereka tidak berani untuk melawan Chika karena takut menerima konsekuensi dari keluarganya.


Seandainya mereka bersatu sekalipun mereka tidak akan mampu untuk melawan keluarga Fernandez, karena mungkin tidak banyak orang tua dari mereka yang akan mendukung niat baik mereka.


Airin menyadari bahwa selama ini belum ada yang berani melawan keluarga Fernandez, tetapi ia tetap bertekad untuk menghilangkan praktek Bullying di Sekolah miliknya.


Karena sesungguhnya Sekolah adalah organisasi atau wadah untuk membentuk kepribadian dan karakter siswa agar tidak menyimpang dari norma-norma yang ada.


"Terimakasih banyak untuk semuanya, terimakasih untuk keikhlasannya. Semoga ini adalah awal yang baik dan awal kebangkitan dari kalian siswa dan siswi SMA Golden."


"Semoga kalian tetap bisa menjadi Golden-Golden bangsa yang bisa dibanggakan. Saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih untuk kalian semua."


"Hanya Allah yang bisa membalas semua kebaikan hati kalian dengan berlipat ganda." ucap Airin sambil sedikit membungkukkan badannya.


Kemudian suasana kelas yang sejak pagi sepi dan sunyi, kini kembali seperti biasanya, mereka melupakan sejenak kejadian yang baru saja mereka saksikan.


Kini mereka memulai pelajaran dengan bimbingan dari pak Dodit. Dengan penuh semangat mereka mengikuti setiap materi yang disampaikan oleh sang Guru.

__ADS_1


"Dimana Serli ? mengapa aku tidak melihatnya sejak tadi. Apakah ia tidak masuk hari ini ? apakah ia sakit atau telah terjadi sesuatu kepadanya sehingga ia tidak bisa mengikuti pelajaran seperti biasanya ?." batin Airin sambil melihat sekeliling kelas mencari sosok Serli yang biasanya begitu antusias dalam setiap pelajaran.


__ADS_2