
Ketahuilah apa makna dalam kehidupan ini, karena dengan begitu kita bisa merasakan kebahagiaan sejati.
Hidup adalah bagaimana caranya kita mensyukuri segalanya yang kita miliki. Karena bahagia bukanlah milik mereka yang hebat dalam segalanya, namun milik dia yang mampu temukan hal sederhana dalam hidupnya dan tetap mensyukuri apapun yang terjadi dalam kehidupannya.
Seperti itulah, yang kini sedang dirasakan oleh Arian, ia begitu bahagia saat berada di samping Airin meskipun gadis cantik itu berprofesi sebagai tukang sapu jalan.
Dalam kesederhanaan yang Airin tunjukkan membuat siapapun yang mengenalnya akan bersyukur atas apa yang mereka miliki saat ini.
Arian belajar banyak dari Airin, belajar berbagi, belajar bergaul dengan siapapun tanpa memandang status sosialnya.
"Airin terimakasih telah hadir dalam kehidupanku. Sejak mengenalmu aku bisa belajar banyak hal tentang kehidupan yang sesungguhnya." batin Arian.
"Kak, Airin ke kelas dahulu." ucap Airin dengan sopan.
"Baiklah sampai bertemu lagi." jawab Arian.
Airin tersenyum kemudian ia berlalu meninggalkan Arian yang masih berdiri di tempatnya .
"Mengapa aku hanya bilang sampai bertemu lagi, seharusnya aku mengajak Airin untuk bertemu disaat jam istirahat atau setidaknya menawarkan untuk bisa mengantarkan ia pulang. Arian, Arian kau ini bodoh sekali, kau telah menyiagakan waktu begitu saja."
"Padahal kau telah menunggu waktu ini, sejak lama." batin Arian.
Kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju ke kelasnya untuk mengikuti pelajaran. Namun ia berhenti di depan pintu, kemudian ia berbalik arah dan melangkah menuju ke kelas Airin.
Sementara Airin mendapatkan sambutan dari Chika dan juga Misel. Dengan sengaja keduanya menyiram Airin dengan seember air.
"Ini hadiah karena kau telah berani menggoda Arian !. ucap Chika setelah berhasil menyiramkan air yang sengaja ia bawa masuk ke dalam kelas.
Airin hanya diam membisu sambil mengusap air yang membasahi wajahnya.
"Sekali lagi aku peringatkan agar kau tidak menggoda Arian lagi. Jika aku melihat mu melakukan hal itu lagi maka aku bisa melakukan hal yang lebih dari ini." ucap Chika penuh penegasan.
__ADS_1
"Apa hakmu melarang Airin untuk dekat dengan ku ? memangnya kau siapa sehingga kau melarang seseorang untuk bersama dengan ku ?" tanya Arian yang sudah berada di belakang Airin.
"Arian, maksudnya bukan seperti itu. Airin adalah tukang sapu jalan derajatnya berada jauh dari kita sehingga dia tidak layak untuk menjadi teman kita." jawab Chika mencoba mencari alasan agar Arian tidak membencinya.
"Derajat kita jauh dibawah Airin, apa yang kita miliki saat ini adalah milik orang tua kita. Kita tidak mempunyai apa-apa sama sekali."
"Berbeda dengan Airin yang sudah mempunyai penghasilan sendiri. Saat ini ia hanya bisa bekerja paruh waktu sebagai tukang sapu jalan karena ia masih bersekolah."
"Suatu saat ia bisa melakukan pekerjaan yang lebih baik lagi setelah lulus dari sekolah ini. Jadi jangan kau anggap dia dengan sebelah mata." jawab Arian.
"Maksudku ... ." ucap Chika terhenti saat melihat Arian meraih tangan Airin dan mengajaknya meninggalkan tempat tersebut.
Chika hanya bisa memandang dengan tatapan penuh kekecewaan. Lagi-lagi Arian sang ketua OSIS yang sangat populer itu mengabadikannya demi gadis yang hanya berprofesi sebagai tukang sapu.
"Airin lebih baik kau kuantar pulang untuk mengganti bajumu yang basah. Jika kau tetap menggunakannya kau bisa masuk angin." ucap Arian sambil menarik tangan Airin dan membawanya ke tempat mobilnya di parkir.
Setelah mereka sampai Arian membukakan pintu mobilnya untuk Airin.
"Jika basah tinggal bawa saja ke steam mobil agar dibersihkan dan dikeringkan. Gampang bukan. Jadi cepatlah masuk agar kau bisa segera berganti pakaian dengan yang kering." jawab Arian.
Kemudian keduanya masuk ke dalam mobil, dan segera meninggalkan sekolah itu menuju ke kediaman pak RT.
"Apakah ini rumah mu ?" tanya Arian setelah mobilnya berhenti.
"Bukan ini rumah pak RT, kami hanya menumpang saja." jawab Airin dengan jujur.
Setelah itu Airin meninggalkan Arian untuk mengganti pakaiannya yang basah. Tak butuh waktu lama Airin sudah muncul kembali dengan penampilan yang begitu menawan.
Meskipun ia berpakaian sederhana dan tanpa polesan make up, namun kecantikan yang terpancar dari wajahnya membuat siapapun akan terpesona akan kecantikan yang alami itu.
Arian memandang Airin tanpa berkedip, hingga ia tidak menyadari bahwa ada seseorang yang menyapanya.
__ADS_1
"Nak sedang mencari siapa disini ?" tanya ibu Iyem tanpa melihat bahwa Airin berjalan mendekati ke arahnya.
"Ini teman Airin Bu, namanya Arian. Tadi ada sedikit masalah sehingga Airin harus berganti pakaian. Dan beliau yang mengantarkan Airin pulang." jelas Airin.
"Apakah yang terjadi nak ? apakah kau mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dari seseorang ?" tanya ibu Iyem.
"Mengapa ibu berfikir demikian ?" tanya Airin tanpa menjawab pertanyaan dari ibu Iyem.
"Karena kebanyakan orang, hanya melihat harta dan pangkat seseorang, jarang sekali dari mereka yang melihat ketulusan dan kebaikan hati seseorang."
"Tapi seburuk apapun perlakuan orang itu terhadap mu, ibu berharap nak Airin tidak menyimpan dendam dalam hati."
"Ikhlaskan semuanya dan jadikanlah pelajaran agar kita tidak berbuat hal serupa untuk menyakiti hati seseorang."
"Karena kata maaf itu begitu mudah tetapi bekas yang ditinggalkan dari hati yang terluka itu sangat susah sekali hilangnya. Hanya mereka yang berhati mulia yang tidak pernah mempunyai bekas apapun didalam hatinya."
"Kecuali hanya keikhlasan dan keridhaan terhadap apa yang sudah menjadi jalan hidupnya." ucap ibu Iyem.
"Iya ibu, Airin akan selalu mengingat semua nasehat ibu." jawab Airin dengan tersenyum tulus.
Sementara Arian semakin terpesona dengan Airin. Ia tidak pernah menyangka bahwa Airin hanya menumpang tinggal di tempat pak RT, tetapi ketulusan dan kebaikan hatinya sungguh sangat luar biasa.
Begitu pula dengan wanita paruh baya yang disebut ibu oleh Airin, beliau begitu bijaksana wajar saja jika Airin tumbuh menjadi pribadi yang sangat istimewa.
"Ibu perkenalkan nama saya Arian, saya teman Sekolah Airin." ucap Arian sambil mengulurkan tangannya.
"Iyak nak Arian, terimakasih karena bersedia mengantar Airin pulang, dan terimakasih karena telah bersedia berteman dengan Airin meskipun kami tidak sederajat dengan nak Arian." jawab ibu Iyem dengan jujur.
"Ibu jangan pernah berkata seperti itu lagi, derajat manusia tidak dilihat dari harta dan kekayaan yang mereka miliki, tetapi terletak pada ketakwaannya."
"Saya justru bangga bisa mengenal Airin, karena dari dia saya bisa belajar banyak hal yang biasa pernah saya dapatkan dari teman-teman saya yang lainnya." ucap Arian dengan tersenyum.
__ADS_1
Airin menatap Arian, begitu pula sebaliknya Arian menatap wajah yang sangat ia nantikan setiap harinya. Tatapan keduanya bertemu dalam satu kalimat yaitu saling mengangumi satu dan yang lainnya.