29 Hari

29 Hari
Bab. 33. Penculikan


__ADS_3

Di kantor tuan Fernandez sedang duduk di kursi kebesarannya, ia sedang sibuk memeriksa keuangan perusahaan miliknya, ditengah-tengah kesibukannya tiba-tiba saja ia mengerutkan keningnya.


Ia sudah beberapa hari terakhir tidak memeriksa keuangan perusahaan, namun saat ini alangkah terkejutnya saat ia melihat saham perusahaanya anjlok.


"Apa yang terjadi ? jika dibiarkan seperti ini maka aku bisa jatuh miskin dalam waktu singkat." ucap tuan Fernandez.


Ia kembali menatap layar monitor di depannya, matanya tak berkedip memperhatikan sahamnya yang terus-menerus turun.


Ia segera bangkit dan menutup laptopnya. Hari ini ia harus menyelesaikan masalah perusahaannya dengan cara apapun atau keluarganya dan nama besarnya akan segera jatuh.


Dengan panik ia segera keluar dari kantornya, ia meninggalkan gedung pencakar langit yang selama ini menjadi kebanggaan dirinya dan juga keluarganya.


Ia menuju rumahnya dan segera masuk ke ruang kerjanya untuk memastikan bahwa apa yang ia lihat dikantornya tadi hanyalah halusinasi.


Namun saat ia kembali menatap layar monitornya, saham perusahannya benar-benar telah berada di titik paling bawah.


"Ah !" ucap tuan Fernandez dengan menggebrak meja.


Ia merasa frustasi melihat saham perusahaannya jatuh. Disisi lain putrinya masih berada di dalam tahanan, ia bingung harus menyelesaikan yang mana dulu.


Dalam keadaan bingung tuan Fernandez menenggak minuman beralkohol untuk menenangkan diri.


Sedangkan di kantin Sekolah, Airin, Arian dan juga Deo tengah menikmati makan siang mereka sambil membicarakan tentang masalah yang dihadapi oleh Serli.


"Informasi apa yang kau dapatkan ? sehingga kau meminta kami menemui mu disini ?" tanya Deo dengan mode serius.


Airin mengeluarkan ponselnya, dan memutar rekaman yang ia dapatkan tadi. Sementara Arian dan juga Deo mendengarkan rekaman suara itu dengan seksama.

__ADS_1


"Siapa Airin ? mana mungkin ia yang berprofesi sebagai tukang sapu bisa mempunyai ponsel semewah itu." batin Arian sambil memperhatikan dan mendengarkan rekaman itu.


Setelah selesai keduanya saling pandang. Mereka tidak menyangka bahwa mimpi Deo mempunyai kesamaan, Serli di dalam genggaman Chika karena ada sebuah video yang bisa digunakan oleh Chika untuk menekan Serli


"Kalau begitu kita harus bisa segera mendapatkan video itu bagaimana pun caranya." ucap Deo.


"Kau tinggal memintanya dari Serli, dan minta itu dengan cara yang baik-baik. Tidak perlu menggunakan cara macam-macam." ucap Arian.


"Tidak semudah itu, jika video itu masih dipegang oleh Serli kita mudah mengatasinya tetapi jika video itu sudah berada di tangan tuan Fernandez, maka kita akan sulit untuk mendapatkannya." ucap Airin.


"Kau benar, makanya mereka meminta kau melepaskan Chika dari penjara. Dengan menggunakan video itu sebagai ancaman ." ucap Deo.


"Apa kira-kira isi video itu ? mengapa Serli begitu tertekan ? dan apa hubungannya Airin dengan dipenjarakannya Chika ?" tanya Deo.


"Chika adalah dalang dari kebakaran rumah Airin." jawab Arian.


"What ? rumah Airin dibakar oleh Chika ! oh my God Chika benar-benar ya. Kalau begitu biarkan saja ia membusuk di dalam penjara, biar dia tau rasanya kena ajab dari orang miskin dan tidak bisa semena-mena lagi." ucap Deo.


"Jangan lakukan hal itu, kasihan Serli. Lebih baik kau cabut laporan itu dan segera keluarkan Chika dari penjara." ucap Deo.


"Apakah ketika Chika sudah terbebas maka seratus persen Serli akan aman ? dan apakah Chika dan keluarga Fernandez tidak akan melakukan hal-hal yang merugikan orang lain lagi ?" tanya Airin.


Arian dan juga Deo, diam seribu bahasa tidak bisa menjawab pertanyaan dari Airin.


"Sekarang yang lebih penting keselamatan Serli, tadi Serli bilang akan pulang lebih awal dengan alasan sakit, dan saya lihat Misel mengikutinya."


"Kalian berdua tolong jaga Serli dan saya akan pergi untuk mencabut laporan saya atas Chika." ucap Airin.

__ADS_1


"Ok, kita kerjakan tugas kita masing-masing, dan jangan lupa saling memberi kabar. Deo mari kita ikuti Serli dan juga Misel. Dan kau Airin hati-hati dijalan atau lebih baik kau diantar oleh mang Udin saja." ucap Arian.


Airin hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Begitu juga dengan Arian ia tersenyum saat melihat senyum Airin yang begitu manis. Setelah itu ia berlalu meninggalkan Airin dan segera mencari keberadaan Serli dan juga Misel.


Di sisi lain Misel yang melihat Serli keluar meninggalkan Sekolah segera mengikutinya. Sementara Serli tidak mengetahui jika Misel mengikutinya dari belakang.


Serli pulang ke rumahnya, ia ingin sekali menenangkan pikirannya sejenak. Ia tidak ingin salah dalam mengambil keputusan.


Serli berjalan menyusuri jalan dengan pikiran yang melanglang buana. Ia berjalan seolah tidak mempunyai tujuan, ia hanya ingin berjalan meninggalkan semua ini.


Dan pergi ketempat dimana tidak ada tekanan dan beban dalam hidupnya. Disaat Serli berjalan yang tak tentu arah.


Misel bersama orang-orang tuan Fernandez menangkapnya dari belakang. Serli dibius dan dibawa menggunakan sebuah mobil, menuju kediaman tuan Fernandez.


Karena dalam keadaan pingsan Serli dibawa tanpa ada sebuah perlawanan, sehingga ia dibawa tanpa ada kecurangan dari pengguna jalan yang lainnya.


Setelah sampai di kediaman tuan Fernandez, Serli di masukkan ke dalam sebuah kamar kosong. Ia dibiarkan begitu saja tanpa belas kasihan.


Serli tergeletak di atas lantai yang kotor, ia terkunci sendirian di dalam kamar yang kosong itu tanpa ada sebuah cahaya sedikitpun. Gelap dan pengap yang mendominasi ruangan itu.


Setelah itu Misel dan juga anak buah tuan Fernandez melaporkan bahwa mereka telah menyekap Serli, dengan tujuan agar Airin mau melepaskan Chika dari dalam penjara.


"Om, gadis itu sudah kita sekap di dalam ruangan kosong dibelakang rumah. Kita bisa melakukan barter dengan Airin. Jika Chika dibebaskan maka Serli juga akan kita bebaskan. Bagaimana apakah om setuju dengan pemikiran saya ?" tanya Misel kepada tuan Fernandez.


"Bagus ! tentu saja om setuju. Biarkan ia disana dan kau bisa menghubungi anak sialan itu agar ia mau melepaskan Chika putriku." jawab tuan Fernandez.


"Baiklah om, saya permisi dahulu. Setelah mendapatkan kabar saya akan segera memberitahukan kepada om Fernandez." jawab Misel.

__ADS_1


Kemudian Misel berlalu meninggalkan tuan Fernandez yang sedang mabuk berat itu. Setelah beberapa saat akhirnya tuan Fernandez berdiri dan ia berjalan menuju kamar kosong tempat Serli disekap.


Dengan langkah yang gontai tuan Fernandez menuju kamar kosong tersebut. Ia ingin melihat seperti apa kondisi Serli, gadis yang tidak mau menuruti keinginannya untuk meminta Airin melepaskan putrinya dari dalam penjara.


__ADS_2