29 Hari

29 Hari
Bab. 62. Makanan Spesial


__ADS_3

Setelah mendengar perkataan Chika, Serli segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai ia mengenakan pakaian yang telah disiapkan oleh Chika.


Piyama yang berwarna navy itu terlihat sangat pas di tubuh Serli, dengan rambutnya yang panjang tergerai karena masih basah, membuat Serli terlihat sangat cantik meskipun tanpa riasan di wajahnya.


Chika terpaku melihat Serli, sungguh diluar prediksinya. Chika merasa iri melihat kecantikan alami yang dimiliki oleh Serli.


"Gila, ternyata Serli mempunyai kecantikan yang luar biasa meskipun ia tidak menggunakan makeup. Apa aku kalah cantik dari dia sehingga Arian selalu menolak ku ?" ucap Chika dalam hati.


"Serli, kau sangat cantik dengan piyama ini, ambillah ini hadiah dari ku sebagai lambang persahabatan kita." ucap Chika.


"Terimakasih Chika, kau sangat baik sekali. Tanpa sebuah hadiah sekalipun aku akan tetap bersedia menjadi sahabat mu." jawab Serli dengan tulus.


Kemudian keduanya turun kebawah dan langsung menuju ke meja makan, Tuan Fernandez telah menunggu mereka berdua.


"Ayah, perkenalkan ini Serli teman Chika, dan Serli perkenalkan ini ayahku tercinta." ucap Chika sambil memperkenalkan Serli kepada sang ayah.


"Halo senang bertemu dengan mu, karena kau adalah teman Chika maka jangan sungkan anggap ini adalah rumah mu sendiri." ucap tuan Fernandez sambil memperhatikan Serli dari atas sampai bawah.


"Kau memang benar-benar cantik. Tunggu sebentar lagi aku pasti bisa untuk mendapatkan mu." batin tuan Fernandez.


"Terimakasih om." jawab Serli dengan sedikit gugup bercampur takut.


Setelah itu mereka mulai menikmati makanan mereka masing-masing, setelah selesai Serli dan juga Chika minum susu yang sudah disiapkan untuk mereka.


"Mengapa kepalaku terasa pusing begini, apa yang terjadi ?" batin Serli.


"Serli apa yang terjadi ? apakah ada yang salah ?" tanya Chika.


"Entahlah aku merasa pusing dan berkunang-kunang." jawab Serli sambil memejamkan matanya sambil menggelengkan kepalanya.


Chika menatap sang ayah yang masih menikmati makanannya. Belum sempat Chika bertanya apa yang terjadi, Serli sudah pingsang.


"Bawa gadis ini ketempat yang sudah aku siapkan tadi !" perintah tuan Fernandez kepada seorang pengawal yang berdiri tak jauh dari mereka.

__ADS_1


"Baik tuan." jawab pengawal itu.


Kemudian ia mengangkat tubuh Serli dan segera membawanya pergi dari hadapan Chika dan tuan Fernandez.


"Ayah, apa yang ayah lakukan ?" tanya Chika.


"Hanya memberinya sedikit obat agar ia tidur sebentar. Agar ayah bisa membawanya ke ruang interogasi tanpa merusak pertemanan yang baru dijalin oleh putri ayah ini."


"Untuk sementara ayah akan menahannya. Ia bisa kita gunakan juga untuk mengancam pemuda yang telah mencuri hati putri kesayangan ayah ini." jawab tuan Fernandez meyakinkan.


"Baiklah, terserah ayah saja. Yang penting aku ingin Arian menjadi milikku apapun yang terjadi." jawab Chika.


"Selama ayahmu ini masih ada, semua yang kau inginkan pasti akan ayah kabulkan dengan cara apapun." jawab tuan Fernandez dengan tersenyum.


"Selamat malam semua !" ucap Misel tiba-tiba.


Ia langsung memeluk Chika dan juga menyalami tuan Fernandez.


"Untuk apa dia datang kemari ? menganggu kesenangan orang saja !" ucap tuan Fernandez di dalam hati.


"Maaf Chika, kebetulan aku ada keperluan sebentar jadi aku sekalian datang ke sini untuk melihat keadaan mu ? apakah kau jauh lebih baik setelah beristirahat hari ini ?" tanya Misel tanpa menyadari ekspresi tuan Fernandez.


"Kalian lanjutkan saja ngobrolnya, ayah ingin istirahat agar bisa segera mewujudkan impian putri ayah ini." ucap tuan Fernandez sambil mengecup kening Chika.


Setelah itu ia segera berlalu meninggalkan Chika dan juga Misel tanpa memperdulikan Misel yang menatapnya seolah-olah ingin mengatakan sesuatu.


"Baiklah ayah, selamat malam. Jangan lupa janji ayah tadi." jawab Chika sambil sedikit berteriak.


Tuan Fernandez hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban untuk Chika. Setelah itu ia segera menuju kamar dimana Serli berada.


Ia sudah tidak tahan lagi, ingin segera mencicipi makanan yang spesial itu. Bahkan ia telah menunggu kesempatan ini sejak lama. Setelah ia masuk, ia melihat Serli yang terbaring di atas ranjang dengan mata yang masih terpejam.


Perlahan ia mendekati Serli, Nafasnya yang teratur membuat gundukan kembar itu bergerak naik turun mengikuti nafas Serli.

__ADS_1


Dengan lembut tuan Fernandez mengusap wajah cantik Serli. Ia menatap tubuh Serli dari ujung kaki sampai ujung kepala. Semuanya terlihat begitu sempurna.


"Malam ini tidak akan ada lagi yang bisa menghalangi aku. Kita akan menikmati malam indah bersama cantik."


"Dan kau tenang saja, aku memberikan mu obat tidur dan juga obat perangsang. Agar kau tidak merasa kesakitan dan juga kau akan lebih bergairah untuk melakukannya."


"Bukannya kejam, hal ini om lakukan agar kita sama-sama bergairah dan menikamnya tanpa ada sebuah paksaan." ucap tuan Fernandez dengan tersenyum licik.


Kemudian ia beranjak mengambil sebuah ramuan yang sudah ia siapkan sebelumnya. Ia sudah menyiapkan semuanya setelah mengetahui bahwa Chika berhasil membawa Serli ke rumahnya.


Drettt Drett ponselnya bergetar, dan ia langsung mengangkat tanpa melihat siapa yang telah menghubunginya.


"Tuan, dimana anda sekarang ? aku akan menuju ke tempat anda." ucap Misel tanpa basa-basi lagi.


"Bukankah kau sedang bersama dengan Chika ?" tanya tuan Fernandez.


"Chika tidak ingin bersamaku, jadi aku menuju ke kamar anda tuan. Sayang sekali jika malam yang dingin ini berlalu tanpa ada sebuah cerita cinta kita." jawab Misel.


"Sebaiknya kau pulang dulu, besok aku akan menghubungi lagi. Saat ini aku benar-benar tidak ingin diganggu oleh siapapun." jawab tuan Fernandez dengan tegas.


"Apakah tuan yakin ? tidak ingin menikmati malam ini bersama ?" tanya Misel dengan sedikit heran.


"Sangat yakin ! sekarang lebih baik kau pergi sebelum Chika menyadari keberadaan mu. Kita bisa melakukannya dilain waktu dan di tempat lain."


"Tolong hargai perasaan Chika. Jadi segeralah pergi sebelum Chika datang untuk menemui ku." jawab tuan Fernandez kemudian ia segera menutup panggilan tersebut.


"Dasar pengganggu ! aku tidak menginginkan mu karena aku mempunyai seseorang yang lebih spesial malam ini."


"Masih disegel dan gratis. Tidak seperti dirimu yang selalu meminta bayaran yang lebih. Dan bisa aku pastikan bahwa Serli akan lebih nikmat dan akan lebih lincah dibawah pengaruh obat itu." ucap tuan Fernandez.


Tuan Fernandez segera menonaktifkan ponselnya dan meletakkannya di tempatnya. Kemudian ia segera melepas kain yang menempel di tubuhnya, dan segera mendekati Serli yang masih terpejam.


Dengan serakah ia mulai menciumi wajah dan juga bibir ranum milik Serli. Namun ia menghentikan gerakannya kemudian ia bangkit karena mendengar suara ketukan pintu dengan keras.

__ADS_1


Dengan penuh emosi, ia mengenakan pakaiannya lagi dan segera menghampiri sumber suara itu.


__ADS_2