
Airin menatap Arian dengan tersipu malu. Begitu banyak hal yang pernah ia alami bahkan Maslah sesulit apapun dalam perusahaannya ia bisa menanganinya dengan mudah dan tenang.
Tetapi saat ini mengapa ia begitu gugup saat ia mendengar pengakuan Chika dan juga ungkapan Arian yang begitu tulus. Apakah ia merasa bahagia atau ia hanya perlu bersimpati saja kepada Arian dan juga Chika.
Dalam hal karir dan pendidikan ia adalah orang yang sangat berprestasi, namun dalam hal urusan hati ia sama sekali belum mempunyai sebuah pengalaman.
"Airin, apakah aku salah berbicara ?" tanya Arian bingung melihat ekspresi Airin.
"Tidak, aku hanya tidak percaya bahwa kau tidak mencintai Chika dan bahkan kau bersedia melindungi aku. Aku sangat bersyukur dan berterima kasih kepada mu." jawab Airin dengan gugup.
Arian tersenyum melihat tingkah Airin yang terlihat begitu gugup. Ia tampak sangat imut dan menggemaskan. Ingin rasanya Arian memeluk tubuh Airin agar ia bisa merasakan detak jantungnya. Agar ia bisa tenang dan yakin bahwa Arin pun sama seperti dia yang gugup dan juga bingung harus memulai dari mana untuk mengungkap perasaannya yang sebenarnya.
Kemudian Arian mengajak Airin perpustakaan untuk melanjutkan persiapan perayaan ulang tahun sekolah mereka.
Airin mengikuti Arian di belakangnya, namun Arian berhenti agar mereka bisa berjalan beriringan.
Setelah sampai di perpustakaan Airin sangat terkejut karena di dalam perpustakaan itu banyak siswa dan siswi, dari pengurus OSIS dan juga siswa atau siswi yang akan berpartisipasi dalam acara ulang tahun SMA Golden A&H.
"Arian, ini semua ?" tanya Airin dengan takjub.
"Ia, aku ingin kau ikut berpartisipasi dalam acara kita ini. Aku berharap kau bersedia untuk bergabung. Terserah kau mau ambil bagian apa." jelas Arian.
"Maaf, bisakah aku hanya sebagai penonton ? aku tidak mempunyai keahlian seperti kalian." ucap Airin dengan sedih.
"Jangan khawatir kau bisa memberikan semangat bagi kami." jawab Arian dengan bijak.
Setelah berhasil menahan Airin. Arian kembali ke pekerjaannya. Ia mengatur semua agar acara tersebut sesuai dengan konsep yang ia buat.
Dalam hati Airin merasa kagum kepada Arian. Selain ia adalah siswa yang berprestasi, ia juga begitu baik dan bijaksana dan tentunya ia juga sangat tampan.
Pahatan yang nyaris sempurna ketika tuhan menciptakan Arian. Airin tersebut sendiri saat memperhatikan Arian. Jauh di lubuk hatinya ia sangat mengagumi pemuda tampan itu.
__ADS_1
Begitu juga sebaliknya, Arian juga sesekali memperhatikan Airin disela-sela pekerjanya. Airin terlihat tersenyum-senyum sendiri kearahnya membuat Arian semakin bersemangat dalam melakukan semua kegiatannya. Bahkan ia sengaja menunjukkan kepada Airin bahwa ia adalah pria yang dapat di andalkan dan bertanggung jawab.
Ketika tatapan keduanya bertemu, Airin tersipu malu, wajahnya tampak merona karena malu. Sedangkan Airin semakin yakin bahwa perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Airin ! I love you." ucap Deo dengan menyatukan jari-jarinya berbentuk hati.
Membuat semua yang berada di tempat itu menatap Deo sambil berseru secara bersamaan.
Cie - Cie ...
"Deo, apa apaan si ! bisa-bisanya ya !" ucap salah satu dari mereka.
"Airin bagaimana tanggapan mu ? terima atau tolak ?" ucap yang lainnya lagi
Airin menatap Deo dan juga Arian secara bergantian. Ia tidak tau harus berkata apa melihat kekonyolan yang dilakukan oleh Deo.
Deo berjalan mendekati Airin namun langsung di halangi oleh Arian. Arian menatap wajah Deo dengan pikiran yang rumit. Sementara Deo hanya tersenyum dan melipat tangannya seperti seseorang yang sedang memohon pengampunan.
"Airin, jangan salah paham aku hanya mengatakan kalimat itu untuk mewakili perasaan seseorang." jawab Deo dengan tulus.
Teriak teman-temannya secara kompak seperti paduan suara. Kemudian Deo menundukkan badannya sebagai permohonan maaf.
"Airin jangan di pikiran, Deo terkadang suka ngaco. Tapi dia sebenarnya orang yang baik."
"Ia Airin, ini hanya sebuah candaan untuk mengusir keheningan saja."
Begitulah kira-kira ucap teman-teman Deo kepada Airin, karena bagaimanapun Airin adalah siswi baru di sekolah itu.
"Baiklah, kita lanjutkan lagi agar semuanya segera selesai dan kita bisa pulang lebih awal dari biasanya." ucap Arian.
Kemudian mereka kembali dengan kesibukannya masing-masing. Sedangkan Arian melangkah mendekati Airin, begitu juga dengan Deo. Ia ingin meminta maaf kepada Airin ia takut jika Arian marah kepadanya.
__ADS_1
"Airin aku minta maaf ya, aku hanya iseng saja. Jangan di ambil hati, karena sejujurnya cintaku hanya untuk Serli. Aku berlatih mengungkapkan perasaan ku didepan semua orang agar aku tidak meras gugup saat menyatakannya nanti." ucap Deo sambil mengulurkan tangannya.
"Benarkah ? apa kau yakin dengan apa yang kau ucapkan barusan. Jika benar maka aku bisa membantu mu untuk menyampaikannya kepada Serli." jawab Airin sambil tersenyum kemudian ia menjabat tangan Deo.
"Bagaimana menurutmu Arian ? bagaimana kalau kita bantu Deo dan juga Serli agar mereka bisa bersama." ucap Airin sambil menatap wajah Arian.
"Boleh, kita akan membantu Deo untuk mendapatkan hati Serli." jawab Arian dengan tulus.
Sementara Deo hanya tersenyum, ia bingung karena ia tidak bermaksud seperti itu. Ia hanya ingin menghindari kemarahan Arian.
Tetapi Airin malah menganggap itu semua adalah sebuah kebenaran. Ia dengan tulus ingin membantu Deo untuk mendapatkan Serli
"Terimakasih." jawab Deo.
Kemudian ia berlalu meninggalkan mereka berdua dengan perasaan yang campur aduk. Entah apa yang akan dilakukan oleh Arian terhadapnya setelah tidak ada Airin.
"Apa yang harus aku lakukan ? apa sebaiknya aku jujur terhadap Airin atau Akau harus berkata jujur dengan Serli ?"
"Lebih baik aku mencari Serli agar ia tidak berfikir yang negatif terhadap aku, dengan begitu aku tidak perlu khawatir jika Airin mengatakan sesuatu tentang aku dan perasaan ku." ucap Deo dalam hati.
Kemudian dengan cepat Deo keluar untuk mencari Serli. Deo bergegas meninggalkan perpustakaan dan juga teman-teman yang masih sibuk dengan pekerjaan mereka.
Sementara Arian menyerahkan sebotol air mineral dan beberapa makanan ringan yang dia ambil dari dalam tasnya.
"Airin kau duduk saja dan terimalah ini, jika kau tertarik ingin bergabung menjadi bagian dari acara ini, katakan saja ! jangan sungkan." ucap Arian.
"Baiklah, terimakasih." jawab Airin sambil tersenyum.
"Baiklah, aku akan kembali ke sana lagi." ucap Arian dengan berat hati.
Sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan Airin duduk sendirian, tetapi mau bagaimana lagi ia harus segera menyelesaikan tugas yang diberikan oleh kepala Sekolah kepadanya.
__ADS_1
Setelah Arian berlalu, Airin menghembuskan nafas secara perlahan. Ia merasa sedikit lega dan bisa lebih leluasa.
Entah apa yang sebenarnya terjadi, biasanya ia tidak pernah merasakan hal semacam ini bahkan ketika berhadapan dengan para kliennya dari berbagai kalangan.