29 Hari

29 Hari
Bab. 42. Kondisi Tuan Fernandez


__ADS_3

Arian dan Chika duduk di taman sambil berbincang-bincang mengenai acara yang akan di gelar dalam rangka ulang tahun sekolah Golden A&H.


Namun terdengar suara-suara aneh dari dalam kamar kosong yang tak jauh dari mereka duduk.


"Serli pasti sengaja bersuara, ia pasti tau bahwa Arian ada di sini, menganggu kesenangan orang saja, awas kau nanti ya pasti akan aku beri pelajaran !" batin Chika dengan kesal.


Sementara Arian mendengarkan suara-suara aneh itu dengan seksama.


"Benar apa yang dikatakan oleh Deo, suara itu seperti suara seseorang yang mulutnya di tutup. Mungkin ia sebenarnya meminta tolong." batin Arian.


"Chika apakah kau mendengar suara?" tanya Arian.


"Tidak aku tidak mendengar suara selain suara kita." jawab Chika.


Namun karena tidak puas dengan jawaban Chika, Arian segera berdiri dan mendekati sumber suara.


"Ah, mati saja kau Serli, Arian tetap disini, untuk apa kau mengurusi suara itu, bukankah lebih baik kita habiskan malam yang indah ini bersama." batin Chika.


"Chika kemarilah !" ucap Arian.


Dengan kesal Chika segera berdiri dan mendekati Arian.


"Ada apa Arian ? mengapa kita kesini, ini adalah kamar kosong yang sudah lama tidak kami tempati." ucap Chika ketika dekat dengan Arian.


"Dengarlah ada suara dari dalam ruangan ini." ucap Arian sambil menempelkan telinganya di pintu.


Suara yang berasal dari dalam kembali terdengar, namun semakin lama semakin melemah. Dan akhirnya tidak lagi terdengar suara apapun.


Kembali sunyi dan sepi, hanya terdengar suara hembusan nafas Arian dan juga Chika.


"Bagus ! seharusnya kau diam sejak tadi, agar Arian tidak perlu kesini hanya untuk mendengarkan suara mu."


"Sekarang beristirahatlah dengan baik, dan jangan menganggu kesenangan kami. Biarkan malam ini menjadi milik kami." batin Chika.


"Chika bisakah kau memberikan kunci ruangan ini, aku takut seseorang yang ada di dalam tidak bisa bertahan lebih lama."

__ADS_1


"Akan berbahaya jika kita tidak segera menolongnya. Jadi tolong berikan kunci kamar ini, biarkan aku menolong orang tersebut." ucap Arian.


"Orang ? siapa yang kau maksud ? bukankah hanya ada kita berdua disini ?" tanya Chika mencoba menghindar.


"Chika berikan kunci itu atau aku akan mendobrak pintu ini !" ucap Arian dengan tegas.


"Tapi aku tidak tau apa maksudmu dan juga aku tidak tau kuncinya ada di mana." jawab Chika.


"Arian segera berdiri kemudian ia mengambil ponselnya dan segera menghubungi Deo. Ia meminta agar Deo mengajak salah satu penjaga untuk datang ke tempat ia berada.


Setelah itu Arian berteriak meminta tolong kepada siapapun yang bisa mendengar suaranya.


Chika hanya bisa diam tanpa bisa menolak atau membantu Arian. Dalam waktu singkat beberapa orang datang bersamaan dengan Deo.


"Tolong bantu aku untuk mendobrak pintu ini, kasihan orang yang berada di dalam, ia bisa mati jika kita tidak segera menolongnya." ucap Arian.


Namun para penjaga itu hanya diam dan menatap Chika, mereka menunggu perintah dari Chika.


"Deo bantu aku!." ucap Arian dengan mencoba mendobrak pintu itu.


Deo yang melihat tidak ada niatan dari mereka untuk membantu Arian, dengan cepat mencoba membantu untuk membuka pintu itu dengan paksa.


Mau tidak mau Chika dan penjaga itu ikut masuk mengikuti Arian dan juga Deo. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat siapa yang berada di dalam ruangan itu.


Terlihat tuan Fernandez yang hanya menggunakan celana pendek, dengan keadaan yang terikat di atas kursi, menutup kedua matanya dengan kepala yang terkulai lemah, sementara mulutnya tertutup lakban.


Kedua tangannya diikat ke belakang, kondisi tubuhnya terlihat sangat pucat seperti tidak mempunyai darah.


"Ayah ! mengapa ayah ada di sini ? siapa yang berani melakukan hal ini ?" ucap Chika dengan segera menghambur ke arah tubuh tuan Fernandez sambil menangis.


Semua orang yang ada disitu saling pandang, mereka tidak menyangka bahwa suara yang berasal dari dalam ruangan kosong itu adalah suara tuan Fernandez.


Seperti orang yang terkena jebakannya sendiri, tuan Fernandez disekap di ruangan kosong miliknya sendiri.


Bahkan parahnya lagi, orang-orang dekatnya sendiri enggan untuk menolongnya. Untung saja Arian datang bersama dengan Deo yang dengan cepat berusaha untuk menyelamatkannya.

__ADS_1


"Cepat bawa tuan kalian ke rumah sakit agar segera mendapatkan pertolongan." ucap Arian.


"Ayah bangun ! jangan seperti ini." ucap Chika sambil menangis dan menggoyangkan tubuh tuan Fernandez.


"Nona, kita harus segera membawa tuan ke rumah sakit, agar beliau segera mendapatkan pertolongan." ucap salah satu penjaga itu.


"Lakukan apapun itu asal ayahku bisa diselamatkan." ucap Chika.


Kemudian Arian dan juga yang lainnya segera melepaskan ikatan ditubuh tuan Fernandez. Arian juga memeriksa kondisi tubuh tuan Fernandez.


"Cepat bawa mobil kesini, detak nadi tuan Fernandez semakin lemah kita harus segera membawanya ke Rumah Sakit agar nyawanya bisa segera diselamatkan." ucap Arian.


Kemudian salah satu penjaga itu menghubungi rekannya dan meminta segera membawa mobil ke taman belakang.


Chika menangis sambil memeluk tubuh ayahnya yang semakin dingin.


"Ayah bertahanlah, aku mohon jangan tinggalkan Chika sendiri." ucap Chika sambil memeluk tubuh yang semakin dingin itu.


"Chika kau yang sabar ya, kita doakan bahwa ayah mu dapat diselamatkan." ucap Arian sambil menepuk pundak Chika.


Kemudian datang seorang pelayan yang membawa sebuah selimut, kemudian ia menutupi tubuh tuannya dan segera memeluk Chika agar bisa lebih tegar.


"Yang sabar ya non, tuan pasti baik-baik saja, tuan adalah orang yang kuat, beliau pasti bisa bertahan demi non Chika." ucap pelayan itu sambil memeluk tubuh Chika dengan erat.


Sementara Chika hanya bisa menangis dalam pelukan pelayan itu. Tak lama mobil yang Arian minta datang.


Mereka segera mengangkat tubuh tuan Fernandez dan segera membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama.


"Chika apakah kau tidak ingin mengantar ayahmu ke rumah sakit ?" tanya Arian dengan lembut. Chika hanya mengangguk.


"Jika kau mau aku akan mengantarmu, persiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan selama kau dan tuan Fernandez, kami akan menunggumu di mobil." ucap Arian.


Kemudian Arian dan juga Deo berjalan meninggalkan Chika yang masih menangis dalam pelukan pelayan itu.


"Arian aku tidak menyangka bahwa yang berada di dalam ruangan itu adalah tuan Fernandez."

__ADS_1


"Tapi bagaimana mungkin, beliau bisa berada di dalam ruangan itu ? mengapa ia disekap di dalam rumahnya sendiri dan mengapa mereka tidak berniat untuk membuka pintu itu. Apa sebenarnya yang terjadi di sini ?" ucap Deo.


"Mungkin orang yang seharusnya berada di sana bisa membalikkan keadaan, sehingga yang seharusnya ia yang disekap berubah menjadi tuan Fernandez yang disekap oleh orang itu." jawab Arian


__ADS_2